Liputan6.com, Jakarta - Harga emas Pegadaian untuk jenis emas batangan produksi Galeri24, Antam, dan UBS terpantau kompak berbalik arah menguat pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Kenaikan logam mulia dari ketiga produsen tersebut berada di kisaran belasan hingga puluhan ribu rupiah per gram.
Berdasarkan data resmi terbaru, harga emas Pegadaian cetakan Galeri24 melonjak Rp 27.000 menjadi Rp 2.627.000 per gram, dari hari Rabu kemarin yang berada di angka Rp 2.600.000 per gram.
Advertisement
Langkah penguatan ini diikuti oleh harga emas Pegadaian produksi Antam yang meroket Rp 16.000 menjadi Rp 2.746.000 per gram, dibandingkan perdagangan kemarin sebesar Rp 2.730.000 per gram.
Sementara itu, untuk harga emas Pegadaian jenis cetakan UBS juga mencatatkan kenaikan sebesar Rp 27.000 menjadi Rp 2.639.000 per gram dari posisi sebelumnya Rp 2.612.000 per gram.
Sebagai catatan, pergerakan nilai investasi ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Bagi masyarakat yang ingin bertransaksi, Galeri24 menyediakan ukuran paling lengkap mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram (1 kilogram). Sedangkan UBS tersedia dari ukuran 0,5 gram hingga 500 gram, dan cetakan Antam tersedia hingga ukuran 100 gram.
Daftar lengkap harga emas Pegadaian:
Galeri24
- 0,5 gram: Rp 1.378.000
- 1 gram: Rp 2.627.000
- 2 gram: Rp 5.189.000
- 5 gram: Rp 12.879.000
- 10 gram: Rp 25.688.000
- 25 gram: Rp 63.873.000
- 50 gram: Rp 127.646.000
- 100 gram: Rp 255.166.000
- 250 gram: Rp 636.348.000
- 500 gram: Rp 1.272.696.000
- 1.000 gram: Rp 2.545.391.000
Antam
- 0,5 gram: Rp 1.425.000
- 1 gram: Rp 2.746.000
- 2 gram: Rp 5.429.000
- 3 gram: Rp 8.118.000
- 5 gram: Rp 13.494.000
- 10 gram: Rp 26.931.000
- 25 gram: Rp 67.197.000
- 50 gram: Rp 134.311.000
- 100 gram: Rp 268.541.000
UBS
- 0,5 gram: Rp 1.426.000
- 1 gram: Rp 2.639.000
- 2 gram: Rp 5.237.000
- 5 gram: Rp 12.941.000
- 10 gram: Rp 25.745.000
- 25 gram: Rp 64.237.000
- 50 gram: Rp 128.210.000
- 100 gram: Rp 256.319.000
- 250 gram: Rp 640.607.000
- 500 gram: Rp 1.279.711.000.
Harga Emas Bangkit dari Titik Terendah
Harga emas dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Rabu setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan. Sentimen positif juga datang dari pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, yang menilai risiko inflasi mulai mereda.
Dikutip dari CNBC, Kamis (2/7/2026), harga emas di pasar spot naik 2,1% menjadi US$ 4.089,49 per ounce, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak November 2025. Pada kuartal II 2026, logam mulia tersebut juga mencatatkan kinerja negatif.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat 1,6% ke level US$ 4.103,10 per ounce.
Pedagang logam independen, Tai Wong, mengatakan bahwa pelemahan data tenaga kerja swasta AS menjadi pemicu utama kenaikan harga emas. Di sisi lain, komentar Ketua The Fed mengenai inflasi turut mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS sehingga meningkatkan daya tarik emas.
"Emas mengalami kenaikan yang cukup baik. Data lapangan kerja yang lebih rendah dari perkiraan menjadi pemicu awal, sementara komentar Ketua The Fed bahwa inflasi mulai menurun membuat imbal hasil obligasi turun dan mendorong pasar emas yang sebelumnya lesu kembali bergairah," kata Wong.
Ia menambahkan, harga emas berpotensi membentuk dasar penguatan dalam jangka pendek, kecuali jika laporan ketenagakerjaan nonpertanian (non-farm payrolls/NFP) yang dirilis Kamis nanti menunjukkan hasil yang jauh lebih kuat dari ekspektasi.
Risiko Inflasi AS
Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan ekspektasi maupun risiko inflasi dalam beberapa pekan terakhir mulai menurun. Meski demikian, ia kembali menegaskan komitmen bank sentral AS untuk membawa inflasi kembali ke target 2%.
Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga umumnya mengurangi daya tarik logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 67% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang, berdasarkan alat pemantau CME FedWatch.
Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat dan Iran juga menggelar pembicaraan teknis di Doha pada Rabu. Kedua negara berupaya mencapai kesepakatan terkait kelancaran pelayaran di Selat Hormuz sekaligus mengamankan gencatan senjata yang berkelanjutan, menurut seorang pejabat Iran.