3 Orang Meninggal, Begini Prosedur Penanganan Peserta SPPI Saat Sakit

Korps Marinir TNI memaparkan mekanisme penanganan kesehatan peserta latsarmil yang mengalami keluhan saat latihan.

oleh Tim NewsDiterbitkan 25 Juni 2026, 20:30 WIB
Peserta latsarmil dari pengelola KDMP dan KNMP mengikuti upacara pembukaan pelatihan diklat di lapangan Dirgantara AAU, Yogyakarta pada Rabu (17/6/2026). (Antara/Humas TNI AU)

Liputan6.com, Jakarta - Korps Marinir TNI Angkatan Laut (AL) menjelaskan prosedur penanganan medis bagi peserta latihan dasar kemiliteran (latsarmil) calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang mengalami gangguan kesehatan selama mengikuti pendidikan.

Hal ini disampaikan di tengah perhatian publik terhadap pelaksanaan program latsarmil setelah adanya peserta yang meninggal dunia saat menjalani pelatihan.

Komandan Batalyon Latihan SPPI KDMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir Cilandak Letkol Marinir Agus Mutaqin mengatakan, peserta yang mengalami keluhan kesehatan akan ditangani sesuai prosedur yang berlaku. Langkah awal yang harus dilakukan adalah melaporkan kondisi tersebut kepada komandan peleton untuk kemudian diteruskan secara berjenjang.

"Mereka melaporkan ke tingkat bawah, dalam hal ini Danton (Komandan Peleton). Kemudian Danton melapor ke Danki (Komandan Kompi), dan Danki melapor ke Danyonlat (Komandan Batalyon Latihan)," kata Agus, Kamis (25/6/2026).

Sambil proses pelaporan berlangsung, peserta yang sakit akan segera mendapatkan penanganan medis dari fasilitas kesehatan yang tersedia di lingkungan markas.

"Namun apabila dari Peleton Kesehatan (Tonkes) atau dokter kami tidak mampu menangani, sudah disiapkan rumah sakit terdekat, yaitu Rumah Sakit Marinir Cilandak yang akan segera melakukan penanganan, rawat inap, dan sebagainya," ujarnya.

Selain menyiapkan mekanisme penanganan medis, Korps Marinir juga menerapkan langkah pencegahan untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan selama pelatihan.

Peserta yang memiliki riwayat penyakit kronis atau kondisi kesehatan tertentu tidak diikutsertakan dalam kegiatan fisik yang berat.

"Yang memiliki riwayat kronis atau sakit berat kita pisahkan sampai dengan tingkat peleton dan kompi. Supaya kegiatan-kegiatan di lapangan yang berkaitan dengan fisik tidak kita ikutkan," kata Agus.

Menurut dia, data kondisi kesehatan peserta diperoleh dari hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum mengikuti latsarmil. Peserta yang memiliki riwayat penyakit tertentu kemudian diarahkan untuk lebih banyak mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelas sesuai kondisi kesehatannya.

 

Latsarmil Masih Berjalan

Agus mengatakan hingga saat ini seluruh rangkaian latsarmil masih berjalan aman dan kondusif.

Ia berharap proses pendidikan dapat berlangsung dengan baik sehingga para peserta memperoleh pengetahuan, kedisiplinan, dan wawasan kebangsaan yang dapat diterapkan saat mengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Sebanyak 674 peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) mengikuti latsarmil selama satu setengah bulan di Markas Pasmar I Cilandak, Jakarta. Para peserta terbagi dalam empat kompi, dengan masing-masing kompi terdiri atas enam peleton.

Selama mengikuti pendidikan, mereka menjalani berbagai materi latihan dasar kemiliteran yang bertujuan menumbuhkan disiplin, semangat pengabdian, dan jiwa nasionalisme.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya