Harga Minyak Dunia Hari Ini Merosot 4%

Simak pergerakan harga minyak dunia hari ini Kamis 25 Juni 2026.

oleh Septian DenyDiterbitkan 25 Juni 2026, 07:31 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Simak pergerakan harga minyak dunia hari ini Kamis 25 Juni 2026. Foto: AFP

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia turun sekitar 4% pada perdagangan Rabu (Kamis waktu Jakarta) seiring berlanjutnya lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz. Kondisi ini memunculkan harapan bahwa gangguan pasokan energi dari Timur Tengah tidak akan separah yang sebelumnya dikhawatirkan pasar.

Dikutip dari CNBC, Kamis (25/6/2026), harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup melemah ke level US$ 70,34 per barel setelah sempat menyentuh titik terendah harian di US$ 69,63 per barel. Ini menjadi pertama kalinya harga WTI turun di bawah US$ 70 per barel sejak 2 Maret 2026.

Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan global turun 4,3% dan ditutup di level US$ 73,74 per barel. Harga tersebut merupakan yang terendah sejak sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Penurunan harga minyak terjadi setelah aktivitas pelayaran di Selat Hormuz tetap berlangsung relatif normal. Jalur strategis tersebut sebelumnya menjadi perhatian pasar karena mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Trump Soroti Harga BBM yang Belum Turun

Di tengah pelemahan harga minyak mentah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik terhadap perusahaan minyak yang dinilai belum menurunkan harga bahan bakar di tingkat konsumen. Menurut Trump, penurunan harga minyak mentah seharusnya sudah tercermin pada harga BBM yang dibayar masyarakat.

"Perusahaan-perusahaan minyak besar tidak menurunkan harga di pompa bensin sebanding dengan penurunan tajam harga minyak yang mereka beli. Harga minyak jatuh sangat cepat," tulis Trump melalui platform Truth Social.

Trump bahkan menuding konsumen dirugikan oleh praktik penetapan harga tersebut dan meminta Departemen Kehakiman AS melakukan penyelidikan.

"Dengan kata lain, konsumen sedang diperas. Saya telah menginstruksikan Departemen Kehakiman untuk segera menyelidiki masalah ini. Harga bensin harus turun jauh lebih cepat dari yang saya lihat saat ini," tegasnya.

Hingga kini, Departemen Kehakiman AS belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan tersebut.

 

Penurunan Harga Minyak Tidak Langsung Berdampak ke Konsumen

Ilustasi minyak mentah. (AP Photo/Leo Correa)

Meski harga minyak mentah turun tajam, para analis menilai harga bahan bakar di tingkat konsumen tidak bisa langsung mengikuti pergerakan pasar minyak global.

Peneliti Senior Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia, Karen Young, menyebut pernyataan Trump lebih bersifat "teater politik" karena mekanisme pembentukan harga bensin di AS jauh lebih kompleks.

Menurut Young, terdapat berbagai komponen biaya seperti pajak negara bagian dan lokal yang turut memengaruhi harga jual bahan bakar.

"Begitulah cara harga bensin bekerja di Amerika Serikat. Ada pajak negara bagian dan pajak lokal yang diterapkan pada harga bahan bakar di SPBU," ujarnya.

Selain itu, proses transmisi penurunan harga minyak mentah ke harga konsumen membutuhkan waktu beberapa pekan. Harga minyak terlebih dahulu harus tercermin pada biaya kilang sebelum akhirnya berdampak pada harga eceran di SPBU.

"Diperlukan waktu beberapa minggu sebelum penurunan harga minyak mentah memengaruhi harga di kilang dan kemudian diteruskan kepada konsumen," jelas Young.

 

Pasar Mulai Kurangi Kekhawatiran Pasokan

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini. Foto: AFP

Pelemahan harga minyak menunjukkan pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap risiko gangguan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah.

Jika arus kapal tanker melalui Selat Hormuz terus berjalan lancar dan ketegangan geopolitik tidak kembali meningkat, harga minyak berpotensi tetap berada dalam tren yang lebih stabil dalam jangka pendek.

Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan situasi keamanan di kawasan serta dampaknya terhadap pasokan energi global, mengingat Timur Tengah tetap menjadi salah satu wilayah penghasil minyak terbesar di dunia.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya