Emiten Beras HOKI Waspadai Tekanan Rupiah

Manajemen Buyung Poetra Sembada (HOKI) mengatakan, jika kurs rupiah tertekan berdampak terhadap harga kemasan.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 23 Juni 2026, 19:30 WIB
Paparan publik PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI), Selasa (23/6/2026). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta - PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang dipicu ketidakpastian geopolitik berpotensi meningkatkan biaya produksi perusahaan, terutama pada komponen bahan pendukung seperti kemasan.

Direktur PT Buyung Poetra Sembada Tbk, Budiman Susilo, mengatakan kenaikan kurs akan berdampak langsung terhadap harga bahan pendukung yang sebagian masih bergantung pada impor.

Dia menuturkan, sepanjang 2026, tekanan nilai tukar diperkirakan membuat biaya pengadaan bahan pendukung meningkat. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh faktor geopolitik global yang mendorong lonjakan harga bahan baku.

Budiman menjelaskan, salah satu komponen yang paling terdampak adalah bahan kemasan (packaging). Dia menuturkan, kenaikan harga kemasan akibat pelemahan kurs dan ketidakpastian geopolitik dapat mencapai 70-80 persen dibandingkan kondisi normal.

"Tentu kalau di tahun 2026 kenaikan bahan pendukung pasti akan naik kalau kursnya naik apalagi karena faktor geopolitik itu berpengaruh terhadap harga packaging yang naik bisa mencapai 70-80 persen daripada yang seharusnya," kata Budiman dalam Public Expose HOKI, Selasa (23/6/2026).

Dia menuturkan, lonjakan biaya tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan produsen beras kemasan, karena dapat meningkatkan biaya produksi secara keseluruhan.

Kenaikan BBM Berpotensi Menambah Beban Transportasi

Selain biaya kemasan, Budiman juga menyoroti potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dapat memberikan tekanan tambahan terhadap operasional perusahaan.

Dia menuturkan, kenaikan harga BBM akan berdampak langsung pada biaya distribusi dan transportasi, mengingat produk HOKI dipasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia. Sementara itu, terkait kenaikan suku bunga acuan, Budiman menilai hingga saat ini dampaknya terhadap kinerja perseroan masih relatif terbatas. "Kalau harga BBM tentunya akan mempengaruhi juga ke transportasi. Kalau suku bunga belum terlalu, sementara itu dulu," pungkasnya.

 

 

Penutupan IHSG 23 Juni 2026

Layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham, Selasa, (23/6/2026). Akan tetapi, koreksi IHSG hari ini berkurang jelang penutupan.

Berdasarkan data RTI, IHSG hari ini ditutup melemah 0,25% menjadi 6.101,33. Indeks saham LQ45 merosot 0,13% menjadi 598,42. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Pada sesi kedua, IHSG berada di level tertinggi 6.121,77 dan level terendah 5.993,03. Sebanyak 373 saham melemah sehingga bebani IHSG. 282 saham menguat dan 160 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 1.790.736 kali dengan volume perdagangan saham 41,5 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 32,9 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah di kisaran 17.862.

Mayoritas sektor saham menghijau. Sektor saham kesehatan naik 3,97%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham basic mendaki 0,49%, sektor saham industri melompat 0,46%, sektor saham consumer nonsiklikal mendaki 0,15%. Selain itu, sektor saham consumer siklikal bertambah 0,28%, sektor saham properti menguat 1,54% dan sektor saham infrastruktur melompat 0,27%.

Sementara itu, sektor saham energi melemah 0,61%, sektor saham keuangan terpangkas 0,62%, sektor saham teknologi susut 1,05%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham transportasi terpangkas 0,15%.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya