Liputan6.com, Jakarta - Kuartal II 2026 tercatat sebagai periode dengan jumlah peretasan terbanyak dalam sejarah industri kripto. Berdasarkan data DeFiLlama hingga 22 Juni, terdapat sekitar 83 insiden eksploitasi dan serangan siber, hampir dua kali lipat dibandingkan rekor sebelumnya.
Melansir Coinmarketcap, Selasa (23/6/2026), meski jumlah serangan meningkat tajam, total kerugian yang ditimbulkan diperkirakan mencapai US$ 775 juta. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan beberapa kuartal sebelumnya yang mencatat kerugian hingga miliaran dolar akibat serangan berskala besar.
Advertisement
Platform intelijen pasar kripto Unfolded menilai pola serangan saat ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dalam unggahannya di X, Unfolded menyebut, “Alih-alih beberapa eksploitasi besar, yang terjadi adalah serangkaian serangan kecil yang terus-menerus.”
Dua insiden terbesar pada kuartal ini berasal dari KelpDAO dan Drift Protocol. KelpDAO mengalami kebocoran keamanan yang menyebabkan kerugian sekitar US$ 293 juta, sementara Drift Protocol kehilangan sekitar US$ 280 juta. Kedua kasus tersebut menyumbang lebih dari 75% dari total dana yang dicuri sepanjang kuartal II.
Frekuensi Serangan Tinggi
Sebagian besar kerugian berasal dari celah keamanan pada jembatan lintas rantai (cross-chain bridge), dengan nilai kerugian diperkirakan mencapai US$ 351 juta. Selain itu, pencurian kredensial administrator dan manipulasi harga token palsu juga menjadi penyebab utama berbagai insiden yang terjadi.
Data CertiK menunjukkan frekuensi serangan tetap tinggi sepanjang kuartal II. Pada April tercatat 58 insiden, disusul 60 insiden pada Mei, dan 25 insiden hingga pertengahan Juni. Namun, sebagian besar serangan tersebut bernilai relatif kecil dibandingkan kasus-kasus besar yang pernah terjadi sebelumnya.
Selain proyek aktif, kontrak pintar (smart contract) lama yang sudah tidak lagi digunakan juga mulai menjadi sasaran empuk para peretas. Beberapa insiden terbaru menimpa Aztec Connect dan Thetanuts Finance yang memanfaatkan kerentanan pada kontrak lama yang tidak lagi dikelola secara aktif.
Kerugian Capai US$ 1,3 Miliar
Secara keseluruhan, kerugian akibat peretasan di industri kripto sepanjang 2026 diperkirakan telah melampaui US$ 1,3 miliar. Meski demikian, tren saat ini menunjukkan pergeseran dari serangan besar yang jarang terjadi menjadi serangkaian serangan yang lebih sering dengan nilai kerugian yang lebih kecil.
Di sisi lain, kemampuan respons keamanan industri juga terus berkembang, termasuk keberhasilan membekukan sebagian dana hasil peretasan dalam beberapa kasus besar.