Lippo Ubah 3.000 Ton Sampah Jadi Energi

Lippo Karawaci memperkuat pengelolaan limbah melalui ekonomi sirkular dengan target mengalihkan 3.000 ton sampah dari TPA setiap tahun.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 17 Juni 2026, 14:00 WIB
Lippo Karawaci mendorong ekonomi sirkular lewat pengelolaan limbah di sektor hotel, residensial, ritel, dan kawasan industri. (Dok Lippo)

Liputan6.com, Jakarta - Isu lingkungan dan perubahan iklim mendorong perusahaan untuk melihat pengelolaan limbah dari sudut pandang yang berbeda. Jika sebelumnya limbah identik dengan biaya operasional dan beban lingkungan, kini banyak korporasi mulai memandangnya sebagai sumber daya yang dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan.

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) memperkuat program pengelolaan limbah di berbagai lini bisnis. Melalui Agenda Keberlanjutan 2030, perusahaan menargetkan pengalihan sedikitnya 3.000 ton limbah dari tempat pembuangan akhir (TPA) setiap tahun.

Target tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, memperbesar tingkat daur ulang, serta memperkuat penerapan ekonomi sirkular di lingkungan operasional perusahaan.

Presiden Direktur Lippo Karawaci, Indra Yuwana, mengatakan penerapan prinsip ekonomi sirkular merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mencapai target keberlanjutan sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih.

"Penerapan prinsip ekonomi sirkular tidak hanya mendukung pencapaian target keberlanjutan perseroan, tetapi juga merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi generasi mendatang," ujar Indra Yuwana, Rabu (17/6/2026).

Untuk mencapai sasaran tersebut, Lippo Karawaci mengadopsi prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Program ini tidak hanya melibatkan karyawan, tetapi juga penghuni kawasan, pengunjung, tenant, hingga mitra pengelolaan limbah dari sektor publik maupun swasta.

 

 

Limbah Diolah Menjadi Produk Bernilai

Lippo Karawaci mendorong ekonomi sirkular lewat pengelolaan limbah di sektor hotel, residensial, ritel, dan kawasan industri. (Dok Lippo)

Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, perusahaan berupaya mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA sekaligus meningkatkan pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan operasional yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Implementasi pengelolaan limbah dilakukan di berbagai unit usaha Lippo Karawaci, termasuk sektor perhotelan melalui jaringan Aryaduta.

Hotel-hotel Aryaduta menerapkan sistem pemilahan sampah yang terstandarisasi, mulai dari limbah basah, limbah kering, hingga material yang dapat didaur ulang. Berbagai jenis sampah seperti botol plastik, kardus, dan minyak jelantah dikumpulkan untuk diproses kembali.

Selain itu, penggunaan botol sabun dan sampo sekali pakai telah digantikan dengan dispenser isi ulang guna mengurangi sampah plastik. Operasional hotel juga didukung sistem berbasis QR code untuk menekan penggunaan kertas.

Program keberlanjutan tersebut turut memberikan dampak sosial. Melalui kerja sama dengan organisasi masyarakat setempat, makanan dan minuman berlebih dari operasional hotel disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Sementara itu, LippoLand mengembangkan berbagai inovasi pengelolaan limbah organik di kawasan residensial dan township. Program yang dijalankan meliputi pengomposan, budidaya maggot untuk mengolah sampah makanan, hingga pemanfaatan teknologi biopower.

Perusahaan juga tengah menguji pemanfaatan limbah lanskap menjadi kompos sebagai bagian dari upaya memperluas penggunaan kembali material yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah.

 

Dorong Ekonomi Sirkular

Transformasi limbah menjadi sumber daya juga dilakukan pada skala yang lebih luas. Departemen Wastewater Treatment Plant (WWTP) Lippo Karawaci saat ini mengeksplorasi pemanfaatan produk sampingan biodegradable sebagai pupuk organik.

Selain itu, perusahaan juga mengkaji penggunaan sludge cake sebagai bahan konstruksi, termasuk untuk pembuatan blok beton. Langkah tersebut menunjukkan bahwa limbah tidak selalu berakhir sebagai sampah, melainkan dapat diolah kembali menjadi material yang memiliki nilai ekonomi.

Di sektor ritel, Lippo Malls juga terus meningkatkan tingkat pengalihan limbah dari TPA. Saat ini sekitar 18 persen dari total limbah yang dihasilkan telah berhasil didaur ulang.

Selain menangani limbah kertas, plastik, dan aluminium, perusahaan menggandeng mitra khusus untuk mengelola limbah refrigeran dari sistem pendingin berskala besar yang memerlukan penanganan khusus. Upaya pengurangan kantong plastik sekali pakai di Jakarta dan Bali juga terus diperkuat melalui kolaborasi dengan tenant pusat perbelanjaan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya