Liputan6.com, Jakarta - Umat Islam bersiap menyambut tahun baru 1 Muharram 1448 H. Sering kali muncul pertanyaan, mengapa umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah di Muharram?
Anjuran ini memiliki landasan dalil yang sangat kuat. Dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Al-Muharram. Dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam."
Advertisement
Ustadz Said Yai dalam buku Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya menukil pandangan ulama bahwa penyebutan Syahrullah (Bulan Allah) menunjukkan kemuliaan eksklusif, di mana setiap amal shalih akan dilipatgandakan ganjaran pahalanya.
Lebih dari itu tahun baru Hijriah ini ini merupakan madrasah spiritual yang semestinya dioptimalkan umat Islam guna membersihkan jiwa melalui puasa sunnah dan peningkatan amal ketaatan. Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah keutamaan beribadah di bulan Muharram.
1. Status Eksklusif sebagai Syahrullah (Bulan Allah)
Alasan pertama dan paling mendasar mengapa umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah adalah karena Muharram menyandang status sebagai Syahrullah atau Bulan Allah. Ini adalah satu-satunya bulan yang disandarkan langsung pada nama Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Al-Muharram. Dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam." (HR. Muslim no. 1163).
Dalam buku Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya, Ustadz Said Yai menukil penjelasan para ulama terkait hadits ini. Penyandaran bulan Muharram kepada lafaz Allah (Idhafah) adalah bentuk ta'zhim (pengagungan) dan tasyrif (pemuliaan).
Allah tidak menyandarkan sesuatu kepada nama-Nya melainkan hal tersebut memiliki kedudukan yang sangat luar biasa. Oleh karena itu, madrasah terbaik untuk melatih diri berpuasa sunnah secara intensif setelah Ramadhan adalah di bulan yang langsung membawa nama Sang Pencipta ini.
2. Kedudukannya sebagai Bulan Haram
Muharram termasuk dalam kelompok Asyhurul Hurum (empat bulan suci), di mana syariat menetapkan hukum khusus terkait amal perbuatan manusia di dalamnya.
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu..." (QS. At-Taubah: 36).
Ebook Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram yang disusun oleh Tim Bimbingan Islam membedah makna ayat ini melalui tafsir sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Allah mengkhususkan empat bulan ini dengan menjadikan dosanya lebih besar.
Konsekuensi logis dari hal tersebut—sebagaimana kaidah ushul fiqih—adalah bahwa setiap amal shalih dan ibadah yang dikerjakan di bulan haram juga akan dilipatgandakan ganjaran pahalanya oleh Allah. Kesadaran akan "musim panen pahala" inilah yang menjadi alasan kuat mengapa umat Islam dianjurkan untuk tidak menyia-nyiakan waktu di bulan Muharram.
3. Terdapat Hari Asyura yang Berfungsi Menghapus Dosa
Alasan ketiga adalah adanya momentum spesifik di dalam bulan Muharram yang menawarkan fasilitas pengampunan ilahi, yaitu Hari Asyura pada tanggal 10 Muharram.
Dalil: Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "...Dan puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia menghapuskan dosa tahun yang berlalu." (HR. Muslim no. 1162).
Penjelasan Ulama: Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam kitab Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram (Penerjemah: Abu Salma Muhammad Rachdie, S.Si) menggarisbawahi bahwa kesempatan menghapus dosa setahun ini adalah karunia yang sangat besar.
Dia mengutip Imam An-Nawawi yang merincikan bahwa dosa yang dihapuskan melalui ibadah puasa Asyura adalah dosa-dosa kecil (shagha'ir). Jika seorang hamba mengiringinya dengan taubat nasuha, maka dosa besarnya pun berpotensi diampuni.
Anjuran memperbanyak ibadah di sini bertujuan agar umat Islam memasuki tahun yang baru dengan catatan amal yang bersih.
4. Manifestasi Syukur atas Kemenangan Tauhid
Memperbanyak ibadah di bulan Muharram juga dianjurkan sebagai bentuk perayaan spiritual dan rasa syukur yang mendalam atas kemenangan para Nabi dalam menegakkan panji tauhid.
Ketika Nabi Muhammad tiba di Madinah, beliau mendapati orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Mereka beralasan, "Ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya..." Nabi bersabda, "Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." (HR. Bukhari no. 2004).
Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman dalam bukunya, Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita?, menjelaskan bahwa memperbanyak ibadah (seperti puasa Asyura) adalah implementasi dari syukran lillah (bersyukur kepada Allah).
Allah telah menolong Nabi Musa 'Alaihissalam dari kejaran Fir'aun di bulan ini. Ulama menegaskan bahwa rasa syukur atas pertolongan Allah harus diwujudkan dalam bentuk ketaatan, bukan dengan ritual khurafat, tathayyur (meyakini bulan sial), atau tradisi bid'ah.
5. Memurnikan Identitas Ibadah (Puasa Tasua)
Salah satu alasan krusial mengapa umat Islam dianjurkan untuk menambah volume ibadahnya—khususnya dengan melaksanakan puasa Tasu'a pada 9 Muharram selain puasa Asyura pada 10 Muharram—adalah untuk menjaga kemurnian dan kemandirian identitas ibadah Islam agar tidak mengekor pada tradisi agama lain.
Saat Rasulullah mengetahui bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani mengagungkan hari Asyura, beliau bersabda: "Seandainya aku masih hidup tahun depan, niscaya sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR. Muslim no. 1134).
Dalam karyanya Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram, Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menguraikan prinsip ini dengan mengutip pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Beliau menjelaskan bahwa mukhalafah (menyelisihi) kebiasaan Ahli Kitab merupakan prinsip dasar dalam syariat Islam.
Umat Islam dianjurkan tidak hanya berpuasa di tanggal 10, tetapi menambah ibadahnya di tanggal 9 sebagai wujud penegasan identitas bahwa tauhid dan ibadah kaum muslimin memiliki syariat yang mandiri dan menyempurnakan syariat para Nabi terdahulu.
6. Madrasah Pengendalian Diri dan Pencegahan Kezaliman
Berada di dalam salah satu bulan haram (suci), umat Islam dituntut untuk mengerahkan usaha ekstra dalam menahan hawa nafsu. Memperbanyak ibadah sunnah, seperti puasa dan shalat malam, menjadi benteng (perisai) paling efektif untuk mencegah seorang hamba dari perbuatan zalim.
Allah SWT berfirman: "...maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu..." (QS. At-Taubah: 36).
Ustadz Said Yai dalam buku Bulan Muharram dan Keutamaan Berpuasa di Dalamnya menukil tafsir dari Qatadah rahimahullah yang menegaskan bahwa kezaliman di bulan-bulan haram merupakan dosa yang teramat besar kemurkaannya.
Anjuran memperbanyak puasa sunnah di bulan ini—sebagaimana puasa berfungsi sebagai junnah (perisai)—adalah mekanisme syar'i agar umat Islam senantiasa sibuk dalam ketaatan, sehingga tidak memiliki celah untuk melakukan kemaksiatan, baik menzalimi hak Allah maupun hak sesama manusia.
7. Membuka Lembaran Tahun Baru dengan Ketaatan Tertinggi
Secara historis administratif, Muharram adalah bulan pembuka dalam sistem penanggalan kalender Hijriah. Mengawali sesuatu yang baru dengan amal ketaatan merupakan sunnah dan etika seorang mukmin sejati.
Ebook Bimbingan Islam Seputar Bulan Muharram yang disusun oleh Tim Bimbingan Islam memaparkan sejarah penetapan kalender ini di masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Muharram dipilih sebagai bulan pertama karena bulan ini datang tepat setelah umat Islam menyelesaikan ibadah rukun Islam yang kelima, yakni ibadah Haji di bulan Dzulhijjah.
Dengan selesainya ibadah haji, umat Muslim ibarat lembaran putih yang baru. Oleh karena itu, memperbanyak ibadah di bulan Muharram dianjurkan sebagai langkah untuk "menuliskan" tinta pertama di tahun yang baru dengan catatan amal shalih, memastikan tahun tersebut diawali dengan ketakwaan yang paripurna.
8. Menghapus Jejak Khurafat dan Memperkuat Tawakal
Di sebagian kultur masyarakat, bulan Muharram sering kali disikapi dengan rasa takut yang tidak berdasar akibat suburnya mitos "bulan sial" atau "bulan keramat". Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah sebagai bentuk perlawanan spiritual terhadap akidah yang menyimpang tersebut.
Rasulullah bersabda: "Tidak ada 'Adwa (penularan penyakit tanpa takdir Allah), tidak ada Thiyarah (menganggap sial pada sesuatu)..." (HR. Bukhari no. 5707).
Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman dalam bukunya, Muharram Bulan Keramat, Mitos atau Realita?, menyoroti keras berbagai ritual bid'ah dan kesyirikan (seperti sedekah laut, memandikan pusaka, atau laku bisu) yang kerap dilakukan masyarakat saat bulan Suro tiba.
Ulama menganjurkan agar umat Islam justru memperbanyak ibadah mahdhah (puasa, shalat, dzikir) di bulan ini untuk menunjukkan tawakal yang mutlak kepada Allah.
Kesibukan dalam ibadah yang disyariatkan akan membersihkan hati dari rasa takut terhadap mitos kesialan, sekaligus membuktikan bahwa waktu tidak memiliki otoritas mendatangkan bala, melainkan hanya Allah SWT.
Pertanyaan Seputar Ibadah di Muharram
Kenapa 10 Muharram harus menyantuni anak yatim?
Menyantuni anak yatim pada 10 Muharram (Hari Asyura) sangat dianjurkan karena menjadi momen berbagi kebahagiaan dan ladang pahala besar untuk meneladani Rasulullah SAW. Meski anjuran menyantuni berlaku sepanjang tahun, bersedekah di tanggal ini memiliki keutamaan khusus untuk melunakkan hati, mendapat keberkahan rezeki, dan kelak berdampingan dengan Nabi Muhammad SAW di surga.
Mengapa umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah pada bulan Ramadhan?
Memperbanyak ibadah di malam ini sangat dianjurkan agar mendapatkan pahala yang luar biasa. Dengan menjalankan amalan-amalan tersebut, umat Islam dapat meraih keberkahan dan kemuliaan Ramadhan serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Mengapa bulan Muharram penting bagi umat Islam?
Muharram adalah bulan yang memiliki makna penting bagi para nabi, yaitu: Nabi Adam: Diciptakannya Nabi Adam AS dan istrinya Hawa. Selain itu, di bulan Muharram juga-lah Allah memberikan ampunan kepada Nabi Adam setelah memakan buah Khuldi yang dilarang oleh Allah.
Mengapa 1 Muharram disebut sebagai hari yang penting dalam Islam?
Tanggal 1 Muharram sangat penting dalam Islam karena menandai Tahun Baru Hijriah dan memperingati peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah pada 622 Masehi. Momen ini menjadi tonggak sejarah kebangkitan Islam dan ditetapkan sebagai awal sistem penanggalan umat Islam oleh Khalifah Umar bin Khattab.