Dongeng, Sarana Penanaman Moral pada Usia Dini

Dalam mengajarkan moral perlu cara efektif supaya dapat menjadi kontrol sosial yang kuat salah satunya adalah dongeng.

oleh Liputan6Diterbitkan 24 November 2013, 08:19 WIB
Citizen6, Jakarta: Saat ini kejahatan dan turunnya moral masyarakat intensitasnya semakin meningkat. Dalam sisi birokrasi, banyak pejabat yang tersangkut kasus KKN dan kode etik jabatan. Terakhir, tersebarnya video mesum di kalangan siswa baik SMA maupun SMP.

Apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi? Hal ini terjadi karena pendidikan moral antar generasi yang kurang tepat. Padahal, moral dalam masyarakat sendiri penting sebagai kontrol sosial sehingga tercipta keselarasan antar anggota masyarakat. Dalam mengajarkan moral perlu cara efektif supaya dapat menjadi kontrol sosial yang kuat salah satunya adalah dongeng.


Pendidikan Dongeng

Dongeng adalah salah satu warisan budaya Indonesia sejak zaman dulu disalurkan antar generasi. Di dalam dongeng terdapat moral dan nilai bangsa yang sesuai dengan keadaan masyarakat Indonesia. Jadi dongeng sendiri adalah sarana pendidikan moral bangsa yang sesuai. Selain bahasanya mudah dicerna, tokoh dalam dongeng dapat melambangkan sifat manusia dalam kehidupan sehari hari.

Contoh tokoh Bawang Putih yang mempunyai sifat pemaaf, sabar, dan mau menolong. Di setiap akhir cerita, pendongeng memberikan apa makna dari dongeng melalui pertanyaan. Sehingga audiens akan mencari sendiri makna yang terkandung dalam dongeng. Jadi dalam mendongeng ada prinsip audiens sebagai pusat pembelajaran.

Bukti dari pendidikan dongeng mempengaruhi moral seseorang dibuktikan dengan penelitian seorang profesor yang berasal dari Amerika yang meneliti kondisi moral masyarakat di kota Napoli, Italia. Dalam penelitiannya beliau membagi masyarakat pada 2 masa. Pertama masa ketika epos dan dongeng menjadi perhatian dan kedua ketika dongeng mulai ditinggalkan. Hasilnya pada masa orang dari kecil diberi dongeng, misalnya epos, ketika dewasa menjadi orang yang mempunyai prinsip kuat serta berkarakter. Seperti jujur, bekerja keras, dan tenggang rasa. Sedangkan pada orang yang tidak diberi dongeng sejak kecil, ketika dewasa karakter dalam dirinya kurang kuat dan mudah goyah.


Realita di Indonesia

Dalam perkembangannya saat ini, banyak masyarakat mulai meninggalkan dongeng. Ketika kecil saja terutama pada usia TK, anak-anak sudak diajari hal-hal yang bersifat kognitif. Sedangkan afektif dan psikomotor cenderung di kesampingkan. Padahal pada bangku TK dan SD kemampuan afektif dan psikomotor sedang berkembang dengan pesat.

Jika anak pada usia dipaksa untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan hal kognitif yang terjadi adalah kemampuan afektif dan psikomotor akan mati. Sehingga pada saat dewasa akan kesulitan dalam menghadapi persaingan. Padahal aspek tersebut adalah pedoman moral pada diri seseorang. Sehingga apabila aspek psikomotor dan afektif kurang berkembang, maka yang terjadi adalah kurangnya pedoman dalam diri seseorang. Maka untuk menghindari hal tersebut mendongeng adalah cara yang efektif dalam mengembangkan moral seseorang. Jadi maukah Anda mendongeng untuk semua orang? (Rizky Kaharudin Supriyadi/mar)

Rizky Kaharudin Supriyadi adalah pewarta warga.

Mulai 18 November-29 November ini, Citizen6 mengadakan program menulis bertopik "Guruku Idolaku". Dapatkan merchandise menarik dari Liputan6.com bagi 6 artikel terpilih. Syarat dan ketentuan bisa disimak di sini.

Anda juga bisa mengirimkan artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atau opini Anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya ke Citizen6@liputan6.com.

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya