Sukses tim "Garuda Muda" sebagai juara Piala AFF dan kemudian lolos ke putaran final Piala Asia 2014 di Myanmar telah melambungkan nama pemain seperti Evan Dimas dan Maldini Pali sehingga mereka sering menerima undangan dari banyak pihak.
Namun, dibalik keberhasilan ini, terselip rasa kekhawatiran sukses yang diraih mereka membuat anak-anak muda Indonesia ini lupa diri dan "besar kepala". Apalagi, jika ada pihak-pihak yang memanfaatkan mereka untuk kepentingan tertentu.
Menteri Pemuda dan Olah Raga, Roy Suryo, pernah menyatakan dengan tegas larangan terhadap segala bentuk komersialisasi seperti menjadi bintang iklan atau semacamnya.
"Saya tekankan sekali lagi para pemain timnas jangan menjadi besar kepala dengan hasil yang diraih. Mereka jangan masuk menjadi bintang iklan atau menjadi alat kampanye partai politik," tegas Roy saat itu.
Roy juga meminta semua pihak untuk tidak terlalu menonjolkan Evan Dimas. Pasalnya perjuangan semua pemain layak diapresiasi tinggi karena mampu membuktikan permainan tim yang berkualitas.
Kekhawatiran masyarakat seperti itu, rupanya dirasakan juga oleh artis sekaligus pembawa acara, Shahnaz Natasya Haque atau biasa disapa Shahnaz Haque.
Menurut Shahnaz, konsentrasi para pemain Timnas U-19 tidak boleh tiba-tiba terpecah karena syuting iklan, atau pemotretan yang tidak ada hubungannya dengan kemajuan prestasi di lapangan.
Mantan None Jakarta ini, menjelaskan, di luar negeri seseorang yang berprestasi baru menjadi populer saat mereka sudah matang secara mental. Jadi mereka bisa menganggap popularitas itu bonus bukan tujuan.
"Jadi populer itu bonus, bukan target, karena tujuan mereka juara dunia," kata Shahnaz dalam perbincangannya dengan Liputan6.com, belum lama ini. "Kalau mental kuat, manajernya galak, maka fokus tetap jalan untuk prestasi. Namun, kalau mental lembek dari zero become hero, maka kerlipan bintang ketenaran suka membikin mereka tidak fokus dengan target untuk berprestasi," imbuhnya.
I