Ini Saran Shahnaz Haque untuk Evan Dimas Cs

Shahnaz Haque minta konsentrasi para pemain Timnas U-19 tidak boleh terpecah oleh kegiatan yang tak ada kaitannya dengan kemajuan prestasi

oleh a.yaniDiterbitkan 26 Oktober 2013, 12:03 WIB
Keberhasilan timnas Indonesia U-19 meraih dua prestasi ganda dalam kurun waktu dua bulan terakhir masih menjadi buah bibir masyarakat Indonesia.

Sukses tim "Garuda Muda" sebagai juara Piala AFF dan kemudian lolos ke putaran final Piala Asia 2014 di Myanmar telah melambungkan nama pemain seperti Evan Dimas dan Maldini Pali sehingga mereka sering menerima undangan dari banyak pihak.

Namun, dibalik keberhasilan ini, terselip rasa kekhawatiran sukses yang diraih mereka membuat anak-anak muda Indonesia ini lupa diri dan "besar kepala". Apalagi, jika ada pihak-pihak yang memanfaatkan mereka untuk kepentingan tertentu.

Menteri Pemuda dan Olah Raga, Roy Suryo, pernah menyatakan dengan tegas larangan terhadap segala bentuk komersialisasi seperti menjadi bintang iklan atau semacamnya.

"Saya tekankan sekali lagi para pemain timnas jangan menjadi besar kepala dengan hasil yang diraih. Mereka jangan masuk menjadi bintang iklan atau menjadi alat kampanye partai politik," tegas Roy saat itu.

Roy juga meminta semua pihak untuk tidak terlalu menonjolkan Evan Dimas. Pasalnya perjuangan semua pemain layak diapresiasi tinggi karena mampu membuktikan permainan tim yang berkualitas.

Kekhawatiran masyarakat seperti itu, rupanya dirasakan juga oleh  artis sekaligus pembawa acara, Shahnaz Natasya Haque atau biasa disapa Shahnaz Haque.

Menurut Shahnaz, konsentrasi para pemain Timnas U-19 tidak boleh tiba-tiba terpecah karena syuting iklan, atau pemotretan yang tidak ada hubungannya dengan kemajuan prestasi di lapangan.

Mantan None Jakarta ini, menjelaskan, di luar negeri seseorang yang berprestasi  baru menjadi populer saat mereka sudah matang secara mental. Jadi mereka bisa menganggap popularitas itu bonus bukan tujuan.

"Jadi populer itu bonus, bukan target, karena tujuan mereka juara dunia," kata Shahnaz dalam perbincangannya dengan Liputan6.com, belum lama ini. "Kalau mental kuat, manajernya galak, maka fokus tetap jalan untuk prestasi. Namun, kalau mental lembek dari zero become hero, maka kerlipan bintang ketenaran suka membikin mereka tidak fokus dengan target untuk berprestasi," imbuhnya.

I
Lanjut Baca:

stri musisi Gilang Ramadan ini, kemudian memberi saran kepada anak-anak muda itu. "Buka mata! belajar dari pengalaman banyak atlet yang jago dan berprestasi tiba-tiba kesalip oleh para pencari bintang iklan, pemain sinetron yang akhirnya mereka turun prestasinya akhirnya gagal jadi juara dunia," katanya.Selain membuka mata. Shahnaz juga mengimbau para pejabat yang terkait dengan bidang keolahragaan agar memperhatikan kesejateraan para atlet. Ini dilakukan supaya mereka tidak tergiur iming-iming materi. "Buka hati para pejabat untuk menyediakan ini agar atlet-atlet ini bangga dengan profesinya. Menpora coba sebelum pensiun bikin gebrakan dengan membuat program dana abadi untuk atlet-atlet ini," ujar Shahnaz.Ditambahkan Shahnaz,  kalau mereka mau berubah jadi artis lebih baik ketika sudah pensiun dan gantung sepatu, seperti maestro bulutangkis Indonesia, Rudy Hartono. "Dia main iklan dengan title-nya mantan juara dunia. Nah, kelihatannya jadi lebih mahal untuk produk yang menempel karena icon tersebut sudah menjadi pembeda abadi, nggak sama dengan atlet lainnya," ujarnya.Tapi, kata dia, kalau baru juga netes sudah sibuk syuting karena urusan materi bukan prestasi lagi,  targetnya pasti mengecewakan. "Lagi-lagi kita nangis....kapan bangsa yang penduduknya besar  mencapai kemajuan. Cari pemain bola aja susah banget,! pungkas Shahnaz.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya