Vaksin HIV Temuan Peneliti Jerman Segera Diujicobakan

Vaksin yang dinamai TG AAC-09 itu mampu bekerja secara efektif, walaupun hanya dengan sekali suntik. Uji coba di klinik penelitian universitas di Bonn, Jerman, didukung IAVI dan CCRI.

oleh Liputan6Diterbitkan 17 Februari 2004, 08:04 WIB
Liputan6.com, Berlin: Para peneliti sebuah perusahaan vaksin yang berpusat di Berlin, Jerman, baru-baru ini mengklaim menemukan vaksin pencegah penularan virus human immunodeficiency virus (HIV) yang mengakibatkan Acquired Immune Deficiency Syndrome atau sindrom penurunan kekebalan tubuh (AIDS). Vaksin hasil tim International AIDS Vaccine Initiative (IAVI) itu segera diujicobakan di klinik penelitian universitas di Bonn, Jerman. Jika terbukti ampuh, dalam waktu kurang dari delapan tahun vaksin sudah tersedia di pasaran.

Direktur Frans van Den Boom mengungkapkan, pencegahan dan vaksinasi adalah cara paling ampuh untuk memerangi AIDS. Berdasarkan penelitian, vaksin yang dinamai "TG AAC-09" itu mampu bekerja secara efektif, walaupun hanya dengan sekali suntik. Hasil ini akan sangat membantu pencegahan penyebaran AIDS. Saat ini setiap hari terdapat 14 ribu kasus baru infeksi virus HIV di dunia. Dari jumlah itu, 95 persen di antaranya dilaporkan terjadi di negara-negara berkembang.

Uji coba vaksin tersebut didukung oleh prakarsa Vaksin AIDS Internasional (IAVI), Target Genetika--perusahaan bioteknologi, dan Lembaga Riset Anak Columbus (CCRI). Vaksin TG AAC-09 bekerja dengan cara memancing respons sistem kekebalan tubuh. Sejauh ini, terdapat 50 orang relawan yang akan ambil bagian dalam uji coba.

Sebelumnya, Program Pangan Dunia (WFP) pernah meluncurkan obat penanggulangan sindrom cacat kekebalan tubuh dalam bentuk makanan untuk tiga juta penduduk dunia. Sayangnya, obat ini bukan untuk menyembuhkan, melainkan hanya untuk mengurangi angka kematian yang selalu menghantui para penderita AIDS [baca: Program Pangan Dunia Meluncurkan Obat Penghambat AIDS]. Fungsi obat ini adalah dengan mengubah AIDS menjadi semacam penyakit kronis. Caranya dengan menaikkan kadar protein dalam setiap makanan. Penyebaran obat difokuskan ke sejumlah daerah rawan AIDS.(DEN/Rka)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya