Angin Puyuh Melanda Bali, Satu Tewas

Wayan Surji, warga Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, dilaporkan tewas tertimpa puing-puing rumahnya. Pemerintah diminta segera membantu korban angin puting beliung di Langkat, Sumut.

oleh Liputan6Diterbitkan 05 Februari 2004, 14:25 WIB
Liputan6.com, Buleleng: Hujan deras disertai angin kencang melanda tiga kabupaten di Bali, Rabu (4/2). Tiga kabupaten yang dilanda angin puyuh, antara lain Kabupaten Buleleng, Kabupaten Karangasem, dan Kabupaten Bangli. Akibatnya, ratusan bangunan rusak berat dan pohon bertumbangan. Musibah ini bahkan menewaskan seorang warga akibat tertimpa puing-puing rumah.

Di Karangasem, lebih dari 500 rumah warga dan berbagai fasilitas umum yang tersebar di tiga desa rusak berat. Ratusan pohon yang tumbang menimpa rumah dan juga menutup badan jalan. Sedangkan di Buleleng, musibah ini menewaskan seorang warga Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar. Wayan Surji dilaporkan tewas akibat tertimpa puing-puing rumahnya. Hujan juga menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor di lima kecamatan.

Selain itu, angin kencang juga memorakporandakan sekitar 12 bangunan sekolah di Desa Seraya Timur, Tengah, Barat, dan Tegalingga. Sekolah Dasar Negeri VIII Segarakaton, misalnya. Seluruh genting dan atap bangunan beterbangan disapu angin kencang. Ratusan pohon bertumbangan. Bahkan hampir sekitar 24 jam ini, aliran listrik dan telepon di kawasan tersebut mati akibat tertimpa pohon. Sejauh ini, bantuan untuk para korban berupa mi instan dan beras baru datang dari Palang Merah Indonesia setempat.

Wayan Senti dan Ketut Kontra, warga Desa Seraya, Kecamatan Karangasem mengatakan, kejadian tersebut diluar dugaan mereka. Sebab, biasanya hujan deras yang disertai angin kencang tak separah saat ini. Wayan menuturkan, saat itu sekitar pukul 20.00 waktu Bali, saat hampir seluruh warga mengurung diri dan bersiap tidur, tiba-tiba angin kencang menyapu rumah mereka. Angin itu diiringi suara pohon bertumbangan.

Wayan yang rumahnya tertimpa pohon baru sadar setelah seluruh dinding rumahnya hancur. Ia pun keluar rumah menyelamatkan diri bersama anak-anaknya. Begitu pula dengan warga lain yang atap dan genting rumahnya hilang seiring tiupan angin. Kendati telah mereda, warga masih mengaku was-was mengingat hingga kini hujan gerimis masih mengguyur di wilayah mereka.

Sementara itu, musibah angin puting beliung yang melanda di tiga desa di Kecamatan Babalan, Langkat, Sumatra Utara, Rabu kemarin, menyisakan kesedihan warga setempat. Banyak korban yang kehilangan rumah beserta harta benda. Kini beban hidup mereka pun semakin bertambah, mengingat untuk kebutuhan sehari-hari serba kekurangan.

Kesedihan itu pun tampak di raut wajah keluarga Mudjianto dan Siti Masitoh. Warga Desa Teluk Meku ini terpaksa harus mengumpulkan puing-puing bangunan yang tersisa untuk didirikan bangunan seadanya. Namun mereka masih bersyukur karena seluruh anggota keluarganya selamat dari musibah yang mengagetkan ini.

Kawasan Desa Teluk Meku ini dihuni sekitar 250 kepala keluarga. Warga di wilayah itu hidup di bawah garis kemiskinan. Sebagian besar warga bekerja sebagai buruh tani dan nelayan [baca: Angin Puting Beliung Memorakporandakan Rumah Warga Langkat]. Atas musibah ini, warga berharap kepedulian Pemerintah Kabupaten Langkat untuk segera menyalurkan bantuan. "Mohon perhatian dari pemerintah. Kami sehari-sehari saja tidak cukup," tutur Siti Masitoh, lirih.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya