Bursa saham Amerika Serikat diproyeksikan turun tajam pada kuartal pertama 2014, diikuti dengan periode stagnasi panjang.
Hal itu berdasarkan prediksi Societe Generale. “Setelah memperoleh keuntungan 170 persen sejak Maret 2009. Kami percaya saham Amerika Serikat adalah aset “lelah” dan sesak,” seperti dikutip dalam ulasannya Societe Generale. Mengutip dari CNBC, Selasa (8/10/2013).
Advertisement
Selain itu, keuntungan perusahaan juga telah mendekati tingkat puncak. Sementara pada saat yang sama, jumlah pendapatan perusahaan yang mengecewakan juga meningkat. Penguatan dolar Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi 10 tahun tidak akan membantu pasar.
Societe Generale menambahkan, shutdown/penghentian sementara operasional Amerika Serikat di tengah kebuntuan anggaran membuat kebijakan disfungsional dan meningkatkan ketidakpastian.
Dengan bank sentral Amerika Serikat, the Federal Reserve masih terus menyuntikkan likuiditas sekitar US$ 85 miliar, bursa saham Amerika Serikat tidak akan jatuh sebelum akhir tahun 2013.
Indeks saham S&P diproyeksikan di level 1.600 pada akhir tahun 2013. Sementara itu, indeks saham S&P turun sekitar 0,85% di kisaran 1.676,12 pada perdagangan saham Senin ini. Adapun indeks saham S&P turun 16% setelah putaran pertama quantative easing the Fed.
“Dalam dua hingga tahun, indeks saham Amerika Serikat relatif datar. Terbebani oleh hasil yang lebih tinggi, dolar Amerika Serikat menguat, dan pertumbuhan pendapatan terbatas. Akan tetapi didukung oleh prospek ekonomi yang lebih baik, dan siklus pemegang saham baru,” tulis Societe Generale.
Societe Generale menyarankan, investor untuk beralih ke zona Euro dan bursa saham Jepang. Hal itu didukung dari kebijakan ekonomi lebih jelas, kebijakan moneter longgar dan posisi rendah.
Bank-bank lain juga lebih berhati-hati untuk saham Amerika Serikat. HSBC memotong rekomendasi dari Overweight menjadi netral. Indeks S&P 500 diperkirakan mencapai level 1.750 pada akhir 2013 dan 1.900 pada akhir 2014.
“ Prospek pertumbuhan masih layak, tapi kami melihat potensi kejutan positif yang lebih besar di tempat lain, dan valuasi terlihat membentang,” tulis catatan HSBC.
Dalam rekomendasi HSBC, Eropa juga menjadi pertimbangan. “Daerah ini menarik ditempatkan baik dari pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua, dan ruang lingkup untuk memudahkan kebijakan moneter. Valuasi ekuitas pada 12,7 kali dalam dua belas bulan mendatang,” dalam ulasan HSBC.
Selain itu, HSBC memberikan rekomendasi negatif untuk Jepang. “Saham tidak mungkin untuk reli lebih jauh kecuali ada tanda-tanda perubahan di perusahaan Jepang muncul. Valuasi saham pun tidak lagi sangat menarik,” tulis riset HSBC.