Liputan6.com, Samarinda: Santri berpakaian rapi dan klimis sudah biasa. Tapi, santri yang berguru di Pondok Pesantren Al Adnan, Samarinda, Kalimantan Timur, berbeda. Ponpes itu khusus untuk laki-laki. Dan, para santrinya wajib berambut gondrong alias panjang. Mereka pun harus memakai bahasa Jawa sebagai bahasa pergaulan dan pengantar mendalami Islam.
Ponpes Al Adnan hanya dihuni sebanyak 41 santri. Mereka datang dari berbagai daerah dan suku. Aktivitas keseharian para santri berjalan tenang dan damai. Hal ini bisa jadi lantaran Ponpes Al Adnan berada di Jalan Lampake, Samarinda Ilir, yang terletak di tengah hutan.
Para santri menjalani kehidupan di pesantren dengan penuh kesederhanaan. Mereka makan dari satu tempat besar bersama-sama dengan lauk pauk serupa. Menjelang Ramadan, para santri wajib melakukan ritual mandi besar di sebuah kolam. Tapi, beberapa santri ada juga yang mandi di sungai, tak jauh dari lokasi ponpes.(KEN/Polmart Aritonang)
Ponpes Al Adnan hanya dihuni sebanyak 41 santri. Mereka datang dari berbagai daerah dan suku. Aktivitas keseharian para santri berjalan tenang dan damai. Hal ini bisa jadi lantaran Ponpes Al Adnan berada di Jalan Lampake, Samarinda Ilir, yang terletak di tengah hutan.
Para santri menjalani kehidupan di pesantren dengan penuh kesederhanaan. Mereka makan dari satu tempat besar bersama-sama dengan lauk pauk serupa. Menjelang Ramadan, para santri wajib melakukan ritual mandi besar di sebuah kolam. Tapi, beberapa santri ada juga yang mandi di sungai, tak jauh dari lokasi ponpes.(KEN/Polmart Aritonang)