IWC: Perang Iran Ancam Populasi Paus di Perairan Afrika Selatan

Selain populasi paus, IWC juga memprediksi dampak buruk lainnya terhadap ekosistem laut.

oleh Erin Rahayu PutriDiterbitkan 13 Mei 2026, 18:35 WIB
Kawanan paus pilot yang terdampar di kawasan pantai Farewell Spit, ujung selatan Selandia Baru, Jumat (10/1). Diduga kuat Farewell Spit membuat paus kebingungan, karena kasus sebelumnya juga terjadi di area yang sama. (Tim Cuff/New Zealand Herald via AP)

Liputan6.com, Cape Town- Dampak ekologis dari meningkatnya instabilitas keamanan di jalur pelayaran internasional mulai menunjukkan ancaman serius terhadap keanekaragaman hayati laut. Perubahan rute kapal dagang global akibat konflik bersenjata di sejumlah kawasan kini dilaporkan meningkatkan risiko terhadap populasi paus di perairan lepas pantai Afrika Selatan.

Mengutip laporan Al Jazeera pada Rabu (13/5/2026), sejumlah kajian terbaru menunjukkan bahwa pengalihan jalur pelayaran sebagai respons terhadap situasi keamanan, termasuk konflik di Laut Merah yang melibatkan kelompok Houthi serta pembatasan transit di Selat Hormuz, telah memicu lonjakan lalu lintas kapal di sekitar Tanjung Harapan.

Laporan yang dipresentasikan dalam pertemuan Komisi Perburuan Paus Internasional (IWC) menyebutkan, kapal-kapal kargo yang sebelumnya melintasi Terusan Suez kini lebih banyak dialihkan melewati rute selatan Afrika.

Data PortWatch Monitor milik Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat sedikitnya 89 kapal komersial melintasi wilayah sekitar Afrika Selatan antara 1 Maret hingga 24 April 2024. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2003 yang tercatat sebanyak 44 kapal.

Peningkatan lalu lintas ini dinilai secara signifikan meningkatkan risiko tabrakan antara kapal dan mamalia laut (ship strike), yang menjadi salah satu ancaman utama bagi populasi paus.

Peneliti dari Universitas Pretoria, Els Vermeulen, yang memimpin studi untuk IWC, menyebut paus kerap tidak menyadari keberadaan kapal yang melintas karena fokus pada aktivitas mencari makan di wilayah tersebut.

 

Adaptasi dari Paus

Ilustrasi Paus Pembunuh Palsu (sumber: unsplash)

Sementara itu, perwakilan World Wildlife Fund (WWF), Chris Johnson, menjelaskan bahwa sejumlah spesies paus memiliki kemampuan adaptasi terbatas terhadap kebisingan kapal. Dalam beberapa kasus, paus tidak menjauh dari kapal, melainkan justru menyelam lebih dalam, yang tetap membuat mereka rentan terhadap tabrakan.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal IWC Cetacean Research and Management meneliti data kematian paus selama periode 1999 hingga 2019. Dari 97 kasus yang tercatat, 11 kasus dipastikan akibat tabrakan dengan kapal, sementara 16 kasus lainnya diduga kuat memiliki penyebab serupa.

Para peneliti menilai angka tersebut kemungkinan lebih tinggi dari data yang tercatat, karena bangkai paus di laut lepas kerap tenggelam dan tidak ditemukan.

Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup Afrika Selatan menyatakan kepada AFP bahwa pihaknya akan meninjau seluruh opsi mitigasi yang tersedia. Otoritas maritim setempat disebut akan mengambil langkah lanjutan setelah evaluasi ilmiah selesai dilakukan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya