Pekikan gitar elektrik Vai langsung menghentak panggung yang didesain sederhana itu, hanya berhias sampul album terbaru Vai, Story of Light. Sayatan gitar berirama progresif dalam Racing the World pun menggema di antara ribuan penonton yang hadir untuk melihat aksi anak didik Joe Satriani itu.
"Selamat malam. Proud to be with you again tonight. Apa kabar. The last time being here was 1996. Sorry it took you so long," kata Vai membuka percakapan konser yang dimulai pukul 21.00 WIB itu.
Steve Vai tampil layaknya rocker seusianya, mengenakan atasan hitam sebatas lutut dipadu dengan celana bermotif dengan potongan lebar. Tak lupa, ia mengenakan topi dan kacamata hitam saat pertama kali muncul di panggung.
Petikan-petikan gitar elektrik Vai pun beradu dengan ketukan drum dari Jeremy Colson, betotan bass Philip Bynoe, dan alunan gitar Dave Weiner, band yang mengiringinya dalam The Story of Light Tour.
Di usianya yang ke-53, Vai tetap lincah ketika berada di atas panggung. Tak henti-hentinya ia berjalan dari sisi panggung ke sisi lainnya sambil tetap beraksi dengan gitarnya.
Tanpa lirik lagu, mayoritas lagu Vai malam itu instrumentalia, gitaris bernama lengkap Steven Siro Vai ini berbicara lewat gitarnya. Penonton di bagian belakang kelas festival pun dengan tenang menyimak Velorum, Building the Church, Tender Surrender, dan Weeping China Doll, meski kebanyakan lagu tersebut bertempo cepat.
Penonton yang terkagum-kagum dengan penampilan kedua Vai di Jakarta itu pun bersorak setiap Vai usai menunjukkan kepiawaiannya memetik gitar. Aksi khas gitaris rock pun tak lupa dilakukan, bergaya ketika memainkan gitarnya, mulai dari memutar-mutar gitar di sekeliling tubuh, memetiknya dari belakang punggung, hingga aksi menjilat gitar.