Liputan6.com, Manila: Kematian Faturrahman Al-Ghozi menimbulkan spekulasi. Seperti dikutip harian The Manila Times dalam situsnya, Selasa (14/10), sejumlah pertanyaan kini membayangi kematian Al-Ghozi. Salah seorang tokoh yang meragukan penyebab kematian Ghozi adalah Gubernur Cotabato Utara Emanuel Pinyol. Berdasarkan saksi-saksi yang berada di lokasi kejadian, Pinyol meragukan Al-Ghozi tewas dalam kontak senjata.
Pinyol berpendapat, jika Al-Ghozi tewas dalam kontak senjata, maka tak mungkin lubang peluru yang terdapat di tubuhnya hanya tiga [baca: Al-Ghozi Tewas Ditembak]. Laporan otopsi menyebutkan, di tubuh Al-Ghozi terdapat tiga luka tembak. Dua di dada dan satu di lengan kiri terpidana 17 tahun penjara atas kasus pemilikan satu ton bahan peledak dan pengeboman di Manila itu. Karenanya, Pinyol meminta penjelasan pemerintah.
Hal lain yang dirasakan ganjil adalah lokasi Al-Ghozi tewas. Lelaki asal Madiun itu dilaporkan tewas setelah mobil yang ditumpanginya dihentikan oleh polisi di Kota Pigkawayan. Al-Ghozi kemudian melepaskan tembakan dan terjadilah kontak senjata. Menurut tokoh pemerintahan daerah Mindanao, Benasing Macarambon, Kota Pigkawayan di Provinsi Kotabato Utara adalah wilayah komunitas Kristen. Jadi, akan sangat bodoh jika Al-Ghozi berkendaraan layaknya warga pribumi di wilayah yang sangat ia hindari.
Seorang anggota Parlemen Filipina Gilbert Remula juga meragukan laporan militer Filipina mengenai kematian Al-Ghozi. Ia curiga, Ghozi malah telah tewas dua bulan silam. Untuk memperkuat tudingannya, ia menantang pemerintahan Arroyo untuk menggelar pemeriksaan forensik yang independen atas jasad Al-Ghozi.
Kecurigaan juga diungkapkan Senator Ramon Magsaysay. Politisi senior Filipina itu menduga Al-Ghozi sudah ditangkap dan berada dalam genggaman militer sebelumnya. Ghozi kemudian dibunuh menjelang kedatangan Presiden Amerika Serikat George Walker Bush ke Filipina, Sabtu mendatang [baca: Filipina Membantah Penembakan Al-Ghozi Terkait Kunjungan Bush].
Analisa lain menyebutkan, Ghozi sengaja dibunuh agar tidak bercerita tentang pelariaannya dari penjara markas kepolisian Filipina di Manila, 14 Juli silam. Seperti diketahui, kaburnya Ghozi dari penjara sempat membuat malu Presiden Arroyo.(AWD/Indreswari)
Pinyol berpendapat, jika Al-Ghozi tewas dalam kontak senjata, maka tak mungkin lubang peluru yang terdapat di tubuhnya hanya tiga [baca: Al-Ghozi Tewas Ditembak]. Laporan otopsi menyebutkan, di tubuh Al-Ghozi terdapat tiga luka tembak. Dua di dada dan satu di lengan kiri terpidana 17 tahun penjara atas kasus pemilikan satu ton bahan peledak dan pengeboman di Manila itu. Karenanya, Pinyol meminta penjelasan pemerintah.
Hal lain yang dirasakan ganjil adalah lokasi Al-Ghozi tewas. Lelaki asal Madiun itu dilaporkan tewas setelah mobil yang ditumpanginya dihentikan oleh polisi di Kota Pigkawayan. Al-Ghozi kemudian melepaskan tembakan dan terjadilah kontak senjata. Menurut tokoh pemerintahan daerah Mindanao, Benasing Macarambon, Kota Pigkawayan di Provinsi Kotabato Utara adalah wilayah komunitas Kristen. Jadi, akan sangat bodoh jika Al-Ghozi berkendaraan layaknya warga pribumi di wilayah yang sangat ia hindari.
Seorang anggota Parlemen Filipina Gilbert Remula juga meragukan laporan militer Filipina mengenai kematian Al-Ghozi. Ia curiga, Ghozi malah telah tewas dua bulan silam. Untuk memperkuat tudingannya, ia menantang pemerintahan Arroyo untuk menggelar pemeriksaan forensik yang independen atas jasad Al-Ghozi.
Kecurigaan juga diungkapkan Senator Ramon Magsaysay. Politisi senior Filipina itu menduga Al-Ghozi sudah ditangkap dan berada dalam genggaman militer sebelumnya. Ghozi kemudian dibunuh menjelang kedatangan Presiden Amerika Serikat George Walker Bush ke Filipina, Sabtu mendatang [baca: Filipina Membantah Penembakan Al-Ghozi Terkait Kunjungan Bush].
Analisa lain menyebutkan, Ghozi sengaja dibunuh agar tidak bercerita tentang pelariaannya dari penjara markas kepolisian Filipina di Manila, 14 Juli silam. Seperti diketahui, kaburnya Ghozi dari penjara sempat membuat malu Presiden Arroyo.(AWD/Indreswari)