Liputan6.com, Jakarta - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) atau harga emas antam naik pada perdagangan selasa (12/5/2026). Kenaikan harga emas Antam pada hari ini di atas pelemahan pada perdagangan Senin kemarin.
Hari ini, harga emas Antam naik Rp 40.000 sedangkan pada Senin kemarin melemah Rp 20.000.
Advertisement
Mengutip laman logammulia.com, emas antam hari ini dipatok Rp 2.859.000 per gram. harga emas antam sebelumnya di Rp 2.819.000.
Sementara itu, harga buyback emas Antam naik lebih tinggi yaitu Rp 50.000. Harga buyback emas Antam hari ini ditetapkan Rp 2.676.000 per gram.
Untuk diketahui, harga buyback ini adalah jika Anda akan menjual emas, Antam akan membelinya di harga Rp 2.676.000 gram.
Sebagai informasi, harga emas Antam mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis 29 Januari 2026 di harga Rp 3.168.000 per gram. Sedangkan harga buyback emas Antam di angka Rp 2.989.000 per gram.
Informasi mengenai harga emas Antam ini bersumber dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk. Dengan demikian, data yang disajikan memiliki akurasi dan kredibilitas yang tinggi bagi publik.
Daftar Harga Emas Antam
Berikut daftar harga emas Antam hari ini Selasa (11/5/2026) untuk pengambilan Gedung Antam:
- Harga emas 0,5 gram: Rp 1.479.500
- Harga emas 1 gram: Rp 2.859.000
- Harga emas 2 gram: Rp 5.668.000
- Harga emas 3 gram: Rp 8.484.000
- Harga emas 5 gram: Rp 14.110.000
- Harga emas 10 gram: Rp 28.140.000
- Harga emas 25 gram: Rp 67.185.00
- Harga emas 50 gram: Rp 140.205.000
- Harga emas 100 gram: Rp 280.260.000
- Harga emas 250 gram: Rp 700.340.000
- Harga emas 500 gram: Rp 1.400.400.000
- Harga emas 1.000 gram: Rp 2.799.600.000.
Harga Emas Rebound, Investor Akumulasi Perlahan
Harga emas dunia kembali menguat tipis pada perdagangan Senin setelah bergerak volatil sepanjang sesi. Investor kini mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran, sekaligus menunggu rilis data inflasi AS yang akan keluar pekan ini.
Mengutip CNBC, Selasa (12/5/2026), harga emas di pasar spot tercatat naik 0,1% menjadi USD 4.717,38 per ounce, setelah sebelumnya sempat turun lebih dari 1% di awal perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS relatif stabil di level USD 4.727,80 per ounce.
Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan penguatan emas saat ini didorong aksi beli saat harga turun dan strategi investor menjelang rilis data ekonomi penting dari AS.
“Ada aksi bargain hunting dan penyesuaian posisi menjelang data inflasi AS pekan ini,” ujar Wyckoff.
Pelaku pasar saat ini menyoroti data Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan rilis pada Selasa waktu setempat. Setelah itu, pasar juga menunggu data Producer Price Index (PPI) yang akan diumumkan Rabu.
Di sisi geopolitik, ketegangan antara AS dan Iran masih menjadi perhatian utama investor global. Presiden AS Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu itu akan terus berkepanjangan.
Pasar juga khawatir konflik tersebut dapat mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia. Kekhawatiran ini turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Trump bahkan mengatakan pada Senin bahwa gencatan senjata antara kedua negara kini berada dalam kondisi “life support” atau di ambang kegagalan.
Risiko Inflasi
Senior Market Strategist RJO Futures, Daniel Pavilonis, mengatakan pasar saat ini fokus terhadap kemungkinan pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menurut dia, investor mulai memperhitungkan dampak yang lebih luas dari kenaikan harga energi terhadap ekonomi global.
“Pasar sangat fokus terhadap Selat Hormuz, terutama apakah jalur itu akan dibuka kembali, dan mulai mencerna dampak lebih luas dari kenaikan harga energi,” kata Pavilonis.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan broker global mulai memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tahun ini. Sebagian analis kini memperkirakan bank sentral AS atau The Fed hanya akan memangkas suku bunga secara terbatas, bahkan ada yang memperkirakan tidak ada pemotongan suku bunga sama sekali pada 2026.
Risiko inflasi yang masih tinggi serta sikap hati-hati pejabat bank sentral menjadi alasan utama perubahan proyeksi tersebut.
Kondisi suku bunga tinggi biasanya menjadi tekanan bagi harga emas. Meski dikenal sebagai aset safe haven, emas tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga menjadi kurang menarik saat suku bunga meningkat.
Selain itu, pasar juga menyoroti kunjungan dua hari Donald Trump ke China pekan ini. Dalam lawatan tersebut, Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping untuk membahas sejumlah isu penting seperti Iran, Taiwan, kecerdasan buatan, hingga senjata nuklir.