Tren Ekstrem Pria Rusia: Sengaja Rusak Telinga demi Tampil Seperti Petarung MMA

Banyak pria di Rusia sengaja merusak tulang rawan telinga agar dianggap sebagai petarung tangguh.

oleh Erin Rahayu PutriDiterbitkan 11 Mei 2026, 20:30 WIB
Petarung MMA, Brandon Moreno kehilangan sabuk juara kelas terbang usai kalah dengan split decision atas musuh lamanya Alexandre Pantoja pada UFC 290 di T Mobile Arena, Las Vegas, Nevada, Minggu (9/7/2023). (AFP/Steve Marcus)

Liputan6.com, Moskow - Sejumlah pria di Rusia dilaporkan mengikuti tren ekstrem dengan sengaja menciptakan kondisi yang dikenal sebagai cauliflower ear atau telinga kembang kol pada tubuh mereka. Fenomena ini dilakukan bukan akibat olahraga bela diri, melainkan melalui tindakan mematahkan tulang rawan telinga secara sengaja demi alasan estetika dan citra ketangguhan.

Cauliflower ear merupakan kondisi medis yang umumnya terjadi pada atlet gulat atau seni bela diri campuran akibat benturan berulang. Cedera tersebut menyebabkan penumpukan darah dan cairan di bawah kulit telinga, yang jika tidak ditangani dengan benar akan membentuk deformasi permanen.

Namun, dalam tren yang dilaporkan di Rusia ini, kondisi tersebut justru direkayasa secara sengaja. Tujuannya adalah untuk meniru tampilan petarung profesional MMA yang kerap memiliki bekas luka di telinga sebagai tanda pengalaman bertarung.

Menurut laporan saluran Telegram “Baza” yang dikutip media Dexerto pada Senin (11/5/2026), permintaan untuk prosedur pematahan tulang rawan telinga meningkat tajam hingga menimbulkan antrean berbulan-bulan. Prosedur tersebut dilaporkan dilakukan dengan biaya sekitar 6.000 rubel.

Dalam praktiknya, telinga ditekan hingga mengalami retakan pada jaringan tulang rawan. Meski dilakukan secara sengaja, tindakan ini membawa risiko medis serius, termasuk infeksi, peradangan berat, dan kerusakan jaringan permanen.

Para spesialis THT memperingatkan bahwa prosedur semacam itu dapat menyebabkan hematoma purulen, gangguan pendengaran, hingga komplikasi jangka panjang yang tidak dapat diperbaiki. Dalam sejumlah kasus, kerusakan yang terjadi bersifat permanen.

Kendati dianggap sebagian kalangan sebagai simbol “ketangguhan” atau gaya visual tertentu, para ahli medis menegaskan bahwa risiko kesehatan jauh lebih besar dibandingkan nilai estetika yang dicari. Mereka menekankan bahwa modifikasi tubuh secara ekstrem tanpa alasan medis tidak aman dan dapat membahayakan fungsi pendengaran secara permanen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya