Trump Umumkan Gencatan Senjata Tiga Hari Rusia-Ukraina

Seperti apa detail yang disampaikan Trump terkait gencatan senjata Rusia dan Ukraina?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 09 Mei 2026, 11:04 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbicara di Raymond F. Kravis Center for the Performing Arts di West Palm Beach, Florida, Jumat, 1 Mei 2026. (AP Photo/Matt Rourke)

Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama tiga hari antara Rusia dan Ukraina di tengah meningkatnya ketegangan dan saling tuding pelanggaran gencatan senjata di medan perang.

Trump mengatakan kesepakatan itu mencakup penghentian seluruh aktivitas militer serta pertukaran masing-masing 1.000 tahanan dari kedua negara.

“Gencatan senjata ini akan mencakup penghentian semua aktivitas militer, dan juga pertukaran tahanan sebanyak 1.000 orang dari masing-masing negara,” kata Trump.

Tak lama setelah pengumuman tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan Ukraina akan ikut serta dalam kesepakatan itu. Media pemerintah Rusia juga melaporkan Moskow telah menyetujui proposal yang diajukan Washington, dikutip dari BBC, Sabtu (9/5/2026).

Dalam unggahan di media sosial, Trump menyebut dirinya secara langsung meminta kedua pihak menyetujui gencatan senjata tersebut. Ia juga mengapresiasi persetujuan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Kesepakatan itu muncul di tengah peringatan Hari Kemenangan Rusia yang diperingati setiap 9 Mei untuk mengenang kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.

Sebelumnya, Putin telah lebih dulu mengumumkan gencatan senjata pada 8–9 Mei menjelang parade Hari Kemenangan di Moskow. Namun, Kyiv menilai usulan itu tidak cukup dan menyerukan gencatan senjata tanpa batas waktu yang dimulai sejak 6 Mei.

Rusia memperingatkan Ukraina agar tidak menyerang parade militer di Lapangan Merah. Kementerian Pertahanan Rusia bahkan mengancam akan melancarkan “serangan rudal balasan besar-besaran” ke pusat kota Kyiv jika ibu kota Rusia diserang selama perayaan berlangsung.

Moskow juga meminta para diplomat asing meninggalkan Kyiv sebelum 9 Mei karena meningkatnya risiko keamanan.

Untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade, parade Hari Kemenangan tahun ini disebut tidak akan menampilkan peralatan militer berat. Pemerintah Rusia meningkatkan status keamanan di Moskow di tengah kekhawatiran kemungkinan serangan drone dari Ukraina.

Warga Moskow dan St. Petersburg juga diperingatkan mengenai pembatasan akses internet seluler selama perayaan berlangsung dengan alasan keamanan.

Perayaan Hari Kemenangan tahun ini dihadiri lebih sedikit tamu asing dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sejauh ini hanya pemimpin Belarus, Malaysia, dan Laos serta sejumlah pejabat tinggi lain yang dijadwalkan hadir di Moskow.

Meski gencatan senjata diumumkan, kedua pihak tetap saling menuduh melakukan pelanggaran.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pasukan Ukraina terus menyerang posisi Rusia serta target sipil di wilayah perbatasan Kursk dan Belgorod. Moskow mengklaim tentaranya telah memberikan “balasan yang setara” terhadap serangan tersebut.

Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin mengatakan sekitar 20 drone berhasil ditembak jatuh di dekat ibu kota Rusia dalam dua jam pertama masa gencatan senjata.

Laporan Serangan Drone

Sebagai informasi, invasi skala penuh Rusia ke Ukraina dimulai sejak 24 Februari 2022. Tampak dalam foto, seorang pria yang terluka berdiri di halaman sebuah rumah tinggal yang hancur akibat serangan Rusia di Odesa, Ukraina, Jumat 24 April 2026. (AP Photo/Michael Shtekel)

Serangan drone Ukraina juga dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan industri di wilayah Perm dan Yaroslavl, serta di wilayah Rostov dan Grozny, ibu kota Chechnya. Akibat situasi keamanan, 13 bandara di Rusia selatan sempat menghentikan operasional.

Di pihak lain, Zelensky mengatakan Rusia tetap melancarkan serangan terhadap posisi Ukraina. Dalam pernyataannya di Telegram, ia menyebut lebih dari 140 serangan terjadi dalam beberapa jam pertama gencatan senjata, termasuk lebih dari 850 serangan drone.

“Ukraina akan bertindak setara,” kata Zelensky.

Di tengah konflik yang belum mereda, Presiden Dewan Eropa António Costa menyatakan Uni Eropa melihat adanya peluang untuk membuka pembicaraan dengan Rusia guna mengakhiri perang.

Dalam wawancara dengan Financial Times, Costa mengatakan dirinya sedang berdiskusi dengan 27 pemimpin negara anggota Uni Eropa untuk menentukan format negosiasi yang efektif dengan Moskow.

“Kita tidak dapat mengubah letak geografis. Kita berada di Eropa dan bertetangga dengan Rusia. Karena itu, kita perlu berbicara dengan mereka mengenai masa depan arsitektur keamanan Eropa,” ujarnya.

Menanggapi pernyataan tersebut, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia terbuka untuk dialog, tetapi tidak akan memulai kontak terlebih dahulu.

Amerika Serikat sejauh ini telah memediasi beberapa putaran pembicaraan antara Rusia dan Ukraina, namun belum menghasilkan terobosan berarti. Di saat yang sama, muncul kekhawatiran Washington mulai teralihkan oleh konflik yang berkembang di Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan Washington masih siap menjadi mediator, tetapi tidak ingin proses diplomasi berlangsung tanpa hasil nyata.

Sementara itu, Zelensky mengatakan dirinya memperkirakan utusan khusus AS akan mengunjungi Kyiv dalam beberapa pekan mendatang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya