Liputan6.com, Jakarta: Masalah dana memang menjadi persoalan klasik di mana pun juga. Problem ini juga dialami kelompok kesenian tradisional Wayang Orang Bharata (WOB). Akibatnya upaya merenovasi Gedung WOB di bilangan Pasar Senen, Jakarta Pusat, yang dilakukan sejak setahun silam tak kunjung rampung akibat kucuran dana yang tak lancar. Buntutnya memang kurang menyenangkan. Pentas pertunjukan kesenian tradisional tersebut hingga pertengahan Januari ini hanya bisa disaksikan sebulan sekali. Nasib baik memang belum mau berkawan dengan WOB.
Dulu, gedung sederhana adalah "rumah" satu-satunya yang digunakan setiap malam oleh para pemain WOB. Namun suasana dan keadaan ala kadarnya itu tak mengurangi niat memanjakan penggemar lewat pentas kesenian. Sebab secara rutin, para pemain menyajikan pertunjukan olah gerak dan suara khas tradisional diiringi lantunan gamelan Jawa. Soal lakon, tinggal mengambil sepenggal cerita dari Kitab Mahabarata atau Ramayana.
Sayang, kenangan itu berlalu sudah. Kini suasana di gedung tua ini tak lagi sama. Sebab sejak setahun silam, kegiatan pertunjukan wayang orang terhenti akibat pemugaran bangunan. Ironisnya, pelaksanaan renovasi untuk memperindah gedung teater rakyat ini malah terkatung-katung. Bahkan dana tambahan untuk penyelesaian pemugaran harus menunggu Pemerintah Daerah Jakarta selesai menyusun anggaran pembangunan.
Namun para seniman tradisional yang tergabung dalam komunitas pemain WOB tak kehilangan akal. Meski hanya sekali dalam sebulan, mereka tetap tampil walau di Gedung Kesenian Jakarta -yang terbilang sebagai gedung seni yang lebih berkelas. Lantas untuk terus menyambung hidup, sebagian besar seniman ini bermain sebagai figuran dalam acara Ketoprak yang sekarang gencar ditayangkan di stasiun-stasiun televisi swasta. Menurut seorang pemain wayang orang Lupus, penghasilan yang diterima kelompoknya untuk bermain di televisi jauh lebih besar ketimbang pendapatan harian saat mereka tampil di pentas wayang orang.
Sekarang, boleh jadi para seniman WOB tengah bersuka cita. Namun jika pemugaran gedung pertunjukan pribadi tak kunjung selesai, bukan tak mungkin para pemain wayang orang ini condong memilih terus bermain di televisi. Tak mengapa memang. Toh niat awal melestarikan budaya leluhur bisa dilakukan lewat media apa saja.(BMI/Alfito Deannova dan Dwi Nindyas)
Dulu, gedung sederhana adalah "rumah" satu-satunya yang digunakan setiap malam oleh para pemain WOB. Namun suasana dan keadaan ala kadarnya itu tak mengurangi niat memanjakan penggemar lewat pentas kesenian. Sebab secara rutin, para pemain menyajikan pertunjukan olah gerak dan suara khas tradisional diiringi lantunan gamelan Jawa. Soal lakon, tinggal mengambil sepenggal cerita dari Kitab Mahabarata atau Ramayana.
Sayang, kenangan itu berlalu sudah. Kini suasana di gedung tua ini tak lagi sama. Sebab sejak setahun silam, kegiatan pertunjukan wayang orang terhenti akibat pemugaran bangunan. Ironisnya, pelaksanaan renovasi untuk memperindah gedung teater rakyat ini malah terkatung-katung. Bahkan dana tambahan untuk penyelesaian pemugaran harus menunggu Pemerintah Daerah Jakarta selesai menyusun anggaran pembangunan.
Namun para seniman tradisional yang tergabung dalam komunitas pemain WOB tak kehilangan akal. Meski hanya sekali dalam sebulan, mereka tetap tampil walau di Gedung Kesenian Jakarta -yang terbilang sebagai gedung seni yang lebih berkelas. Lantas untuk terus menyambung hidup, sebagian besar seniman ini bermain sebagai figuran dalam acara Ketoprak yang sekarang gencar ditayangkan di stasiun-stasiun televisi swasta. Menurut seorang pemain wayang orang Lupus, penghasilan yang diterima kelompoknya untuk bermain di televisi jauh lebih besar ketimbang pendapatan harian saat mereka tampil di pentas wayang orang.
Sekarang, boleh jadi para seniman WOB tengah bersuka cita. Namun jika pemugaran gedung pertunjukan pribadi tak kunjung selesai, bukan tak mungkin para pemain wayang orang ini condong memilih terus bermain di televisi. Tak mengapa memang. Toh niat awal melestarikan budaya leluhur bisa dilakukan lewat media apa saja.(BMI/Alfito Deannova dan Dwi Nindyas)