Liputan6.com, Tokyo: Gaya suara tangis bayi ditentukan suara-suara yang didengarnya. Suara-suara tersebut direkam sebelum lahir, saat janin berusia sepuluh pekan. Tangis bayi yang keras menunjukkan bayi yang sehat. Kesimpulan itu didapat dari acara tahunan kontes memilih bayi dengan suara tangis terkeras yang digelar di pinggiran Kota Tokyo, Jepang, baru-baru ini.
Dalam penelitian yang dilakukan sejumlah ilmuwan di Jepang, Prancis, dan Italia ditemukan bahwa setiap bayi yang baru dilahirkan telah memiliki sensor inframerah untuk merekam gerak mulut ibunya. Para ilmuwan juga menemukan bahwa bagian otak bayi yang pada saat dewasa berfungsi memahami bahasa telah mampu berstimulasi saat mendengar ucapan-ucapan tertentu.
Bahkan, ketika janin berusia sepuluh pekan dan organ pendengaran telah berkembang lengkap, bayi telah mampu mendengar suara ibunya. Tak hanya suara ibu, embrio yang masih berada di dalam selaput pembungkus janin juga dapat mendengar suara-suara lain yang ada di lingkungan ibunya. Suara-suara tersebut terekam oleh bayi, termasuk intonasi dan aksennya. Intonasi dan aksen itulah yang ditiru oleh bayi saat menangis.(ORS/Idr)
Dalam penelitian yang dilakukan sejumlah ilmuwan di Jepang, Prancis, dan Italia ditemukan bahwa setiap bayi yang baru dilahirkan telah memiliki sensor inframerah untuk merekam gerak mulut ibunya. Para ilmuwan juga menemukan bahwa bagian otak bayi yang pada saat dewasa berfungsi memahami bahasa telah mampu berstimulasi saat mendengar ucapan-ucapan tertentu.
Bahkan, ketika janin berusia sepuluh pekan dan organ pendengaran telah berkembang lengkap, bayi telah mampu mendengar suara ibunya. Tak hanya suara ibu, embrio yang masih berada di dalam selaput pembungkus janin juga dapat mendengar suara-suara lain yang ada di lingkungan ibunya. Suara-suara tersebut terekam oleh bayi, termasuk intonasi dan aksennya. Intonasi dan aksen itulah yang ditiru oleh bayi saat menangis.(ORS/Idr)