Liputan6.com, Jakarta - Artificial Intelligence (AI) kini menjadi salah satu teknologi yang paling cepat berkembang dan mulai mengubah berbagai sektor industri di dunia, termasuk kesehatan dan asuransi.
Di tengah meningkatnya biaya kesehatan, kompleksitas layanan medis, dan ekspektasi masyarakat terhadap layanan yang lebih cepat dan personal, AI dinilai memiliki potensi besar untuk membantu industri menghadirkan pengalaman yang lebih relevan dan terintegrasi.
Advertisement
Tidak lagi sekadar berfungsi sebagai alat automasi, AI kini mulai dipandang sebagai teknologi pendukung yang mampu membantu masyarakat mengambil keputusan kesehatan dan finansial secara lebih proaktif.
Salah satunya untuk memberikan solusi dalam akses layanan kesehatan yang saat ini masih menjadi tantangan di Asia. Hal itu seperti disampaikan Vice President Director Prudential Indonesia Vikas Sinha.
"Studi 'Patient Voices: Experiences of Healthcare Access in Asia' oleh Economist Impact yang didukung Prudential plc pada April-Mei 2025 menunjukkan bahwa sekitar 55 persen pasien di Indonesia masih kesulitan menentukan layanan kesehatan yang tepat, menghadapi waktu tunggu yang panjang, proses pembayaran yang kompleks, serta kekhawatiran akan biaya pengobatan mendorong banyak masyarakat menunda pengobatan," ujar Vikas.
Selain itu, lanjut dia, 55 persen masyarakat juga mengaku belum memiliki informasi yang cukup untuk mengambil keputusan medis yang tepat, sementara hampir 40% mulai memanfaatkan platform digital, termasuk AI, untuk memperoleh panduan dan informasi kesehatan.
"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kini membutuhkan layanan perlindungan yang tidak hanya cepat, tetapi juga memberikan layanan yang lebih personal, proaktif, dan mudah diakses," kata Vikas.
Melihat perkembangan ini, lanjut dia, Prudential Indonesia memandang AI sebagai bagian penting dalam transformasi perjalanan nasabah yang lebih human-centric.
Beri Peluang
Pada sesi diskusi panel acara Asian Banking & Finance and Insurance Asia Summit-Indonesia 2026, Vikas menjelaskan, AI memberikan peluang bagi industri asuransi untuk bergerak dari model perlindungan yang reaktif menjadi lebih preventif dan personal.
"Tujuan Prudential Indonesia bukan hanya hadir ketika Nasabah sakit, tetapi juga ketika mereka sehat Prudential ingin membantu mereka mengambil tindakan preventif lebih dini agar dapat memperoleh hasil kesehatan dan finansial yang lebih baik," ucap dia.
Vikas menjelaskan, melalui kombinasi antara peran mitra bisnis dan teknologi seperti AI, Prudential Indonesia ingin terus menghadirkan solusi perlindungan yang tepercaya, relevan, dan siap menghadapi kebutuhan masa depan keluarga Indonesia.
"Prudential Indonesia percaya bahwa AI tidak hanya membantu merespons kebutuhan nasabah, tetapi juga dapat membantu memandu masyarakat mengambil langkah preventif lebih dini melalui analisis pola kesehatan dan gaya hidup, tentunya dengan persetujuan nasabah dan tata kelola data yang ketat," terang dia.
Dengan bantuan teknologi, lanjut Vikas, risiko kesehatan dapat dikenali lebih awal sehingga masyarakat memiliki kesempatan untuk mengambil langkah pencegahan sebelum kondisi menjadi lebih serius.
"Selain membantu meningkatkan kualitas hidup, deteksi dini juga dapat membantu mengurangi beban finansial jangka panjang akibat biaya perawatan yang terus meningkat," ucap dia.
Penuhi Kebutuhan Masyarakat
Menurut Vikas, sebagai bagian dari transformasi tersebut, Prudential Indonesia menghadirkan PRUConcierge, layanan berbasis AI yang membantu Nasabah memperoleh informasi dan navigasi layanan kesehatan, termasuk panduan second medical opinion.
"Layanan ini hadir dari kebutuhan masyarakat yang sering kali merasa bingung menentukan rumah sakit, dokter, maupun perawatan yang sesuai dengan kondisi mereka," ucap dia.
"Melalui layanan ini, nasabah juga dapat memperoleh akses informasi yang lebih cepat dan terintegrasi untuk membantu perjalanan perawatan mereka," sambung Vikas.
Selain itu, lanjut dia, Prudential Indonesia juga telah meluncurkan PRUServices sebagai layanan digital bagi nasabah, dan saat ini sedang menyempurnakan sistem chatbot berbasis AI yang membantu Mitra Bisnis dan calon Nasabah mengakses informasi polis, transaksi, dan produk secara lebih cepat dan mudah.
Sebagai bentuk dukungan dalam mendorong kemajuan dan pemanfaatan AI dalam lingkup bisnis, pada April 2026 lalu Prudential menerima kunjungan dari para alumni mahasiswa Warwick University untuk mempelajari bagaimana AI saat ini digunakan di berbagai industri salah satunya di Prudential, mengeksplorasi peluang serta keterbatasan dari generative AI, dan memahami bagaimana para profesional dapat bekerja secara efektif bersama sistem AI.
Sesi ini berfokus pada pengembangan literasi AI dan pola pikir berbasis AI, membantu peserta mengenali area di mana AI dapat memberikan nilai tambah, berpikir kritis terhadap risiko yang ada, serta mempersiapkan diri menghadapi masa depan di mana keahlian manusia dan sistem cerdas akan semakin bekerja secara berdampingan.
Dukungan Lainnya
Menurut Vikas, pemanfaatan AI juga diterapkan Prudential Indonesia dalam mendukung deteksi dini kanker payudara melalui layanan skrining yang bekerja sama dengan MRCCC Siloam Hospitals Semanggi dan Siemens Healthineers pada tahun 2025.
"Prudential Indonesia menyediakan 1.000 layanan skrining kanker payudara gratis dengan teknologi AI-enabled 3D mammography yang memungkinkan proses skrining dilakukan dengan lebih cepat, nyaman, dan akurat," ucap dia.
Antusiasme masyarakat terhadap layanan ini kemudian mendorong Prudential Indonesia menghadirkan Asuransi Jiwa PRULady yang diluncurkan pada 21 Mei 2026, solusi perlindungan kanker payudara komprehensif yang mengintegrasikan edukasi kesehatan, pengingat pemeriksaan rutin, layanan berbasis AI, hingga perlindungan finansial dalam satu ekosistem perlindungan.
Vikas juga menambahkan, AI menghadirkan customer journey yang lebih personal dan proaktif, sehingga Nasabah dapat merasa lebih didampingi, bukan hanya saat sakit tetapi juga dalam menjaga kesehatannya.
Menurutnya, AI seharusnya tidak hanya diposisikan sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi layanan, tetapi juga sebagai instrumen perlindungan nasabah melalui pengalaman layanan yang lebih personal, transparan, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Selain itu, Vikas juga menekankan, pemanfaatan AI ini membutuhkan human touch dan rasional yang tidak dapat digantikan oleh AI.
"Oleh karena itu, pemanfaatan AI di industri asuransi perlu dilengkapi dengan profesionalisme human relations baik dari customer relations maupun tenaga pemasar dalam memberikan penjelasan yang humanis mengingat dalam asuransi hubungan kepercayaan menjadi sangat penting," ucap dia.
Selain itu, lanjut Vikas, penting untuk pemanfaatan Ai ini berjalan beriringan dengan perlindungan data pribadi dan transparansi.
"Prudential Indonesia menegaskan komitmennya untuk selalu mengedepankan persetujuan Nasabah, kepatuhan terhadap regulasi Perlindungan Data Pribadi (PDP), serta tata kelola data yang bertanggung jawab," kata dia.
"Ke depan, Prudential Indonesia percaya bahwa AI akan memainkan peran yang semakin penting dalam menciptakan sistem perlindungan yang lebih preventif, personal, dan berkelanjutan, sejalan dengan tujuan Prudential, For Every Life, For Every Future," jelas Vikas.