[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Duka Cita Meninggalnya Para Dokter Internship

Satu dokter internship yang bertugas di Jambi meninggal dunia. Ini artinya dalam tiga bulan sudah ada 4 dokter internship wafat.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 04 Mei 2026, 13:07 WIB
Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan usai ada empat dokter internship meninggal dunia maka penentu kebijakan perlu penjaminan mutu.

Liputan6.com, Jakarta - Berbagai berita media massa mengabarkan meninggalnya dokter Myta Aprilia Azmy pada awal Mei 2026, yang sedang menjalani program internship. Sebelumnya, sejak Februari 2026 sudah ada tiga orang dokter internship lain juga yang meninggal. Jadi, total ada empat dokter internship yang wafat.

Kita tentu amat bersedih dengan kejadian wafatnya empat orang dokter yang sedang menjalani program internship ini, suatu program penempatan wajib sementara bagi lulusan baru sebagai tahap transisi dari pendidikan akademik menuju praktik profesional.

Sedikitnya ada tiga alasan mendasar yang membuat kita amat bersedih. Pertama, tentu wafatnya seseorang -apalagi sampai empat orang- membawa kesedihan mendalam. Yang wafat tidak akan bisa kembali, keluarga dan kerabat serta dunia kedokteran Indonesia amat berduka.

Kedua, dalam berbagai kesempatan diberitakan bahwa Indonesia kekurangan dokter. Kita tentu jadi amat bersedih karena di awal karier keempat dokter internship ini harus kehilangan nyawa mereka. Padahal kalau mereka dilindungi dengan baik maka akan memberi peran dalam pelayanan kesehatan di negara kita.

Ketiga, amat menyedihkan sekali karena wafatnya para teman sejawat ini dihubungkan dengan kerja  dalam menjalankan program internship. Ini adalah program yang harusnya membuat menjadi dokter profesional di lapangan tetapi malah merenggut nyawa.

Mengutip jurnal internasional Medscape pada 24 April 2026 menurunkan artikel berjudul “The Health Worker Paradox: When Caregivers Become Patients”, yang menunjukkan beratnya tugas dan tantangan kerja dokter. Mulai dari jam kerja yang amat panjang, tugas jaga malam, tekanan dalam pekerjaan dll membuat kerja para dokter dapat berdampak buruk pada kesehatan mereka sendiri.

Dalam artikel tersebut juga ditulis tentang suasana kerja para dokter akan dapat menimbulkan stres yang tinggi dan juga kelelahan berkepanjangan (burnout).

Keadaan ini akan berhubungan dengan kemungkinan terjadinya gangguan kesehatan fisik dan mental dan menurunkan kualitas hidup, apalagi kalau sistem kerja tidak mendukung atau malah sebaliknya menekan para dokter dalam kerjanya.

Selain yang tertulis di artikel terbaru ini maka harus diingat bahwa para dokter internship kita masih muda-muda sehingga dianggap junior di lingkungannya.

Selain itu, mereka jelas punya beban untuk menyelesaikan program internship sebagai salah satu syarat untuk kemudian dapat berprofesi selanjutnya sebagai dokter di masyarakat. Jadi mereka jelas memerlukan selesainya program internshipnya walau apapun tantangan yang dihadapi.

3 Aspek yang Perlu Diperhatikan

 

Sehubungan kematian empat dokter internship, maka kita mengharapkan agar para penentu kebijakan perlu memperhatikan tiga aspek penting dalam program.

Pertama program untuk penjaminan mutu dan kesiapan dokter sebelum praktik mandiri.

Kedua, penentu kebijakan harus memberikan perlindungan agar pada dokter internship dapat melakukan tugasnya dengan baik, tanpa tekanan fisik dan mental yang tidak perlu.

Ketiga, selama menjalankan tugas internship maka para dokter ini juga perlu terjamin kehidupannya, jangan sampai terlantar.

Wafatnya empat orang dokter internship kita harus menjadi momentum untuk membuat program yang lebih baik, lebih bermutu, lebih manusiawi dan lebih bermartabat.

 

** Penulis adalah Direktur Pascasarjana Universtas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia, Dokter sejak 1980 dan Guru Besar Ilmu Kedokteran sejak 2008

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya