Israel Cegat Armada Bantuan Global Sumud Flotilla di Laut Mediterania

Pasukan Israel mulai mengambil alih kapal-kapal bantuan yang menuju Gaza. Ada tujuh dari total 58 kapal ditangkap di dekat Pulau Kreta, Yunani.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 30 April 2026, 10:33 WIB
Untuk diketahui, Pelabuhan Barcelona, Spanyol, merupakan satu dari empat titik kumpul ribuan relawan dan aktivis GSF untuk memulai misi pelayaran kemanusian menembus blokade Gaza tahun ini. Tampak dalam foto, kapal-kapal yang membawa aktivis dan bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Gaza bermanuver di pelabuhan selama acara pelepasan simbolis sebagai bagian dari Global Sumud Flotilla, di Barcelona, Spanyol, Minggu, 12 April 2026. (AP Photo/Joan Mateu Parra)

Liputan6.com, Tel Aviv - Pasukan militer Israel dilaporkan mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam Armada Global Sumud di perairan internasional Laut Mediterania. Pencegatan tersebut melibatkan penggunaan drone, teknologi pengacau komunikasi, serta pasukan bersenjata, menurut pernyataan penyelenggara armada dan laporan media Israel.

Dalam keterangan resminya, pihak Armada Global Sumud menyebut kapal-kapal mereka didekati oleh kapal cepat militer yang mengidentifikasi diri sebagai milik Israel. Personel militer disebut mengarahkan laser dan senjata, serta memerintahkan para peserta untuk berkumpul di bagian depan kapal dan berlutut.

“Komunikasi dengan 11 kapal telah terputus,” demikian pernyataan armada melalui media sosial, seraya menambahkan bahwa media Israel mengklaim sedikitnya tujuh kapal telah berhasil dicegat, dikutip dari laman Al Jazeera, Kamis (30/4/2026).

Radio Angkatan Darat Israel, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa pasukan Israel mulai mengambil alih kapal-kapal bantuan yang menuju Gaza. Tujuh dari total 58 kapal dilaporkan ditangkap di dekat Pulau Kreta, Yunani.

Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyatakan armada tersebut telah dihentikan sebelum mencapai wilayah Israel. Ia menyebut tindakan militer dilakukan secara tegas terhadap kelompok yang ia gambarkan sebagai “agitator”.

Sementara itu, juru bicara Armada Global Sumud, Gur Tsabar, mengecam tindakan tersebut sebagai serangan langsung terhadap kapal sipil tak bersenjata di perairan internasional. Ia menilai tindakan Israel melanggar hukum internasional karena dilakukan jauh dari wilayah yurisdiksinya.

Seorang aktivis yang berada di salah satu kapal, Tariq Ra’ouf, mengatakan armada dikepung oleh kapal militer besar yang menurunkan perahu karet untuk mendekati kapal-kapal bantuan. Ia juga menyebut komunikasi armada terganggu akibat intervensi militer Israel.

“Kami menerima pesan radio yang menyatakan bahwa kami melanggar hukum internasional dan harus berhenti,” ujarnya.

 

Operasi Dilakukan Beberapa Jam

Blokade, serangan udara, dan invasi darat Israel memicu kekurangan makanan, air, bahan bakar, dan obat-obatan yang akut, serta runtuhnya sistem kesehatan di Gaza, Palestina. Tampak dalam foto, kapal-kapal yang membawa aktivis dan bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Gaza bermanuver di pelabuhan selama acara pelepasan simbolis sebagai bagian dari Global Sumud Flotilla, di Barcelona, Spanyol, Minggu, 12 April 2026. (AP Photo/Joan Mateu Parra)

Ra’ouf menambahkan, operasi berlangsung selama beberapa jam saat armada tengah berlayar menuju Kreta. Ia juga mengklaim adanya taktik perang psikologis berupa pemutaran musik di saluran komunikasi untuk mengganggu koordinasi antar kapal.

Jurnalis Jack Barton melaporkan dari Amman, Yordania, bahwa sumber militer Israel menyebut tujuan operasi tersebut adalah mengejutkan armada dengan melakukan pencegatan jauh dari Gaza. Armada disebut berada sekitar 600 mil laut dari wilayah tersebut saat insiden terjadi.

Armada Global Sumud diketahui membawa lebih dari 50 kapal yang mengangkut ratusan aktivis dari berbagai negara. Mereka berlayar dari Italia menuju Jalur Gaza dalam misi bantuan kemanusiaan.

Sebelumnya, pada Oktober tahun lalu, militer Israel juga mencegat sekitar 40 kapal dari armada yang sama dan menahan lebih dari 450 peserta, termasuk aktivis lingkungan Greta Thunberg dan sejumlah tokoh internasional lainnya. Beberapa peserta saat itu mengaku mengalami perlakuan tidak menyenangkan selama dalam penahanan sebelum akhirnya dideportasi oleh otoritas Israel.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya