Pemprov NTB Dorong Penerapan Teknologi Climate Smart Agriculture Hadapi El Nino, Apa Itu?

Pemprov NTB mendorong penerapan budidaya pertanian dengan teknologi climate smart agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 28 April 2026, 14:00 WIB
Per 1 Agustus 2023, BMKG merilis, 63 persen wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Akibatnya, Kementerian Pertanian mencatat 27.000 hektare lahan pertanian di Indonesia mengalami kekeringan. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Pemprov NTB atau Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendorong penerapan budidaya pertanian dengan teknologi climate smart agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim dalam menghadapi dampak perubahan iklim (el nino) tahun ini.

"Memang ada banyak teknologi, salah satunya itu CSA. Ini yang sedang kita dorong bagaimana petani menerapkan teknik budidaya seperti itu," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Mirza Amir di Mataram, melansir Antara, Selasa (28/4/2026).

Ia menegaskan, teknologi ini diarahkan pada tiga aspek utama, yakni peningkatan produktivitas tanaman, ketahanan terhadap perubahan iklim dan serangan penyakit, serta keberlanjutan lingkungan melalui pengurangan emisi gas rumah kaca.

"Implementasinya di lapangan antara lain melalui penggunaan air secara hemat dengan sistem "macak-macak", pemupukan berimbang berbasis uji tanah, serta penggunaan benih unggul," ucap Mirza.

Selain itu, lanjut dia, dalam menghadapi perubahan ini, pihaknya juga mendorong petani memanfaatkan varietas padi adaptif untuk mengantisipasi potensi kekeringan akibat musim kemarau tahun ini. Termasuk, memperkuat koordinasi dengan BMKG.

"Pemanfaatan varietas padi adaptif ini krusial agar produksi pertanian tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau. Jadi, mana varietas yang tahan terhadap kemarau itu yang kita anjurkan selain tanaman yang berumur pendek," terang Mirza.

 

Optimalkan Pengelolaan Sumber Air

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan 63 persen wilayah zona musim di Indonesia terdampak fenomena El Nino, yang menyebabkan musim kemarau menjadi lebih kering. (merdeka.com/imam buhori)

Disamping itu menurut Mirza, pihaknya juga mendorong upaya mengoptimalkan pengelolaan sumber air. Upaya ini mencakup irigasi, pompanisasi, dan perpipaan di berbagai sentra produksi.

"Terkait pompanisasi ini, Kementerian Pertanian sudah mengumpulkan seluruh bupati/wali kota untuk memperkuat mitigasi. Apa hasilnya kita belum tahu, tapi kalau bicara usulan pompa sudah kita usulkan ke pemerintah pusat," kata dia.

Mirza mengatakan, peran petugas di lapangan seperti Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), pengawas benih, hingga petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (OPT) akan terus diperkuat.

"Mereka bertugas mendeteksi dini serangan hama, penyakit, hingga potensi dampak bencana alam terhadap tanaman. Pendampingan budidaya melalui penerapan good agriculture practices menjadi kunci agar produktivitas petani tetap optimal," ucapnya.

Menurut dia, untuk tahun ini pihaknya menargetkan produksi gabah kering giling (GKG) di NTB mencapai 1,460 juta ton.

"Itu target kita dan kita optimis angka itu bisa tercapai meski ada el nino dengan beberapa strategi yang kita lakukan," tandas Mirza.

Infografis Ancaman El Nino Godzilla hingga Wilayah Terdampak di Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya