Toyota Berhenti Produksi Veloz Bensin, Fokus ke Hybrid

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) telah resmi menghentikan produksi dari Veloz bensin

oleh Arief AszhariDiterbitkan 16 April 2026, 18:19 WIB
Tampak Toyota New Veloz Hybrid di GJAW 2025 (Liputan6.com/Azkal Azkia)

Liputan6.com, Jakarta - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) resmi menghentikan produksi dari Veloz bensin. Hal tersebut, dilakukan untuk fokus dan hanya merakit model hybrid.

Dijelaskan Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam, langkah ini juga sebagai bagian dari strategi efisiensi, dan juga menjawab perkembangan tren elektrifikasi saat ini di pasar otomotif Tanah Air.

"Kita transfer semua ke hybrid," ujar Bob, saat dikonfirmasi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Lanjut Bob, penghentian produksi Veloz bensin ini dilakukan untuk selamanya, jadi bukan untuk sementara waktu. Selain itu, langkah ini sekaligus sebagai strategi penghematan.

"(Veloz ICE) nggak ada, iya (full hybrid) biar hemat lah," tegas Bob lagi.

Sementara itu, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Toyota Veloz bensin varian manual memang sudah tidak diproduksi sejak Maret 2026.

Bahkan, angka distribusinya terus menurun sebelum benar-benar dihentikan. Sedangkan produksi varian otomatis, masih berjalan pengirimannya hingga bulan lalu.

Sedangkan dari whole sales (pabrik ke dealer), penjualan Veloz bensin nol pada Maret 2026, sedangkan januari 49 unit, dan Februari 14 unit.

Pajak 40 Persen Bikin Harga Mobil di Indonesia Mahal, Ini Dampaknya ke Pasar

Pasar otomotif Indonesia saat ini tengah mengalami stagnasi dan belum mampu menembus angka penjualan 1 juta unit per tahun. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah tingginya harga mobil di dalam negeri dibandingkan negara lain.

Peneliti dari Institut Teknologi Bandung, Agus Purwadi, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama mahalnya harga kendaraan di Tanah Air adalah besarnya komponen pajak.

"Bahwa harga produk otomotif kita itu, 40 persen tax, dan sisanya barang," ujar Agus saat ditemui di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Menurut Agus, tingginya pajak membuat daya beli masyarakat Indonesia menjadi terbatas, terutama jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki pendapatan per kapita lebih tinggi.

Ia mencontohkan, masyarakat Indonesia dengan Produk Domestik Bruto (GDP) sekitar US$ 5.000 akan merasakan harga kendaraan jauh lebih mahal dibandingkan konsumen di negara maju seperti Jepang.

Bahkan untuk model premium seperti Toyota Alphard, harga yang harus dibayar konsumen Indonesia relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan pembeli di negara asalnya.

"Coba bayangin, kalau kita tidak mampu beli yang lebih efisien, ya berarti makin tidak efisien ekonomi kita," tambahnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya