Sosok Peter Magyar, PM Baru Hungaria yang Tumbangkan Viktor Orban

Peter Magyar adalah pemimpin partai Tisza. Berikut ini profil lengkapnya.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 13 April 2026, 16:04 WIB
Peter Magyar berasal dari keluarga elite di Budapest dengan latar belakang hukum dan koneksi politik. Ia terpilih sebagai perdana menteri Hungaria yang baru pada Senin (13/4/2026). (Dok. AFP)

Liputan6.com, Budapest - Seorang mantan loyalis kini menjelma menjadi penantang paling serius bagi kekuasaan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban yang telah berkuasa selama lebih dari satu dekade.

Peter Magyar, sosok yang dulu mengidolakan Orban hingga menempelkan posternya di kamar tidur saat masa transisi demokrasi, kini mampu mengakhiri dominasi 16 tahun sang pemimpin dalam pemilu parlemen.

Namun, jalan Magyar tidak mudah. Sejumlah pengamat menilai sistem pemilu Hungaria telah dimanipulasi, ditambah dominasi media pro-pemerintah, sehingga menciptakan kondisi pemilu yang “bebas tetapi tidak adil”.

Di tengah keterbatasan itu, harapan publik terhadap perubahan terlihat nyata. Ribuan warga berkumpul di tepi Sungai Danube di Budapest untuk menanti hasil pemungutan suara, dikutip dari laman CNN, Senin (13/4/2026).

“Kami sudah lama menunggu ini. Sangat lama,” ujar Dora, seorang pengacara berusia 30 tahun.

Magyar (45), tampil sebagai figur kontras dibanding Orban. Ia berasal dari keluarga elite di Budapest, dengan latar belakang hukum dan koneksi politik, termasuk mantan Presiden Ferenc Mádl.

Karier politiknya sebelumnya justru berakar kuat di lingkaran kekuasaan. Ia merupakan anggota partai berkuasa Fidesz dan pernah menikah dengan Judit Varga, salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Orban.

Namun, segalanya berubah cepat pada 2024, ketika skandal pengampunan narapidana kasus pelecehan anak mengguncang pemerintah. Keputusan tersebut, yang juga menyeret Presiden saat itu, Katalin Novák, merusak citra Fidesz sebagai pelindung nilai keluarga.

Bagi banyak pemilih, skandal itu membuka apa yang disebut analis sebagai “kemunafikan” dalam narasi politik Orban.

Momentum tersebut dimanfaatkan Magyar. Dalam wawancara yang viral, ia secara terbuka menyerang mantan sekutunya dan menuduh elite kekuasaan menguasai sebagian besar ekonomi negara.

“Beberapa keluarga memiliki separuh negara ini,” ujarnya, dalam pernyataan yang menyebar luas di publik.

Tak lama kemudian, Magyar bergabung dengan partai Tisza dan dengan cepat menjadi pemimpinnya. Di bawah kepemimpinannya, Tisza meraih hampir 30 persen suara dalam pemilihan Parlemen Eropa 2024—hasil yang mengejutkan dan mengangkat Magyar sebagai anggota parlemen Eropa.

Sejak itu, ia muncul sebagai alternatif nyata bagi pemilih yang kecewa terhadap Orban namun sebelumnya tidak memiliki opsi oposisi yang kuat.

 

Beda dengan Viktor Orban

PM Hungaria Viktor Orban (AP Photo)

Berbeda dengan Orban yang menitikberatkan kampanye pada isu global dan hubungan luar negeri, Magyar fokus pada persoalan domestik seperti korupsi dan kondisi ekonomi. Ia juga aktif turun langsung ke daerah, membangun koneksi personal dengan pemilih.

Korupsi menjadi isu utama yang terus ia gaungkan. Magyar menyebut narasi kedaulatan nasional yang diusung Orban hanya sebagai “kedok” untuk mempertahankan kekuasaan dan akumulasi kekayaan elite.

Meski demikian, pertarungan tetap berlangsung tidak seimbang. Orban selama ini dikenal efektif menggunakan mesin politiknya untuk melemahkan lawan. Namun, menurut analis, pendekatan tersebut belum sepenuhnya berhasil menghadapi Magyar, yang memahami sistem dari dalam.

Bahkan, Magyar beberapa kali mengantisipasi serangan terhadap dirinya, termasuk dugaan upaya intimidasi melalui penyebaran rekaman pribadi.

Kini, pemilu Hungaria tidak hanya menjadi ajang perebutan kekuasaan, tetapi juga ujian bagi masa depan demokrasi di negara tersebut—apakah dominasi lama akan bertahan, atau justru runtuh oleh sosok yang dulu menjadi bagian darinya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya