Hepatitis Bisa Picu Kerusakan Hati, Ini yang Perlu Dihindari

Begini tips cegah hepatitis yang bisa picu kerusakan hati menurut Wamenkes Dante Saksono Harbuwono.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 11 April 2026, 12:00 WIB
Tips cegah hepatitis yang bisa picu kelainan hati agar tak perlu transplantasi menurut Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, Jakarta (10/4/2026). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Kelainan hati kerap dipicu infeksi hepatitis C dan hepatitis B. Masalah hepar atau hati yang parah ujung-ujungnya memerlukan tindakan transplantasi.

Guna mencegah terjadinya masalah hati yang serius, maka perlu dilakukan pencegahan berbagai penyebab infeksi hepatitis.

“Ini transplantasi hepar, kasus ini terutama di negara kita banyaknya akibat infeksi, infeksi hepatitis C dan hepatitis B yang menyebabkan kerusakan hati. Maka, faktor-faktor risiko yang bisa menyebabkan infeksi hepar akibat hepatitis itu harus dicegah,” kata Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono kepada Health Liputan6.com saat ditemui di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati, Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Dia pun memberi tips terhindar dari kerusakan hati yang dapat dipicu infeksi hepatitis, yakni:

  • Menghindari hubungan multipartner atau gonta-ganti pasangan seksual
  • Menghindari konsumsi alkohol.

“Hubungan seksual multipartner itu mesti dicegah. Kemudian alkohol juga salah satu penyebab dari kerusakan liver, kalau kasus alkohol sih di kita sedikit,” ujar Dante.

Mengutip laman Kemenkes, hepatitis B juga dapat ditularkan melalui cairan tubuh penderita Hepatitis B, dapat terjadi secara vertikal, yaitu dari ibu yang menderita Hepatitis B kepada bayi yang dilahirkannya.

Penyakit ini juga dapat terjadi secara horizontal melalui transfusi darah, jarum suntik yang tercemar, pisau cukur, tatto, atau transplantasi organ.

“Jadi untuk donor dan pasien-pasien yang masih sehat, maka kita harapkan agar kebiasaan-kebiasaan dan faktor risiko yang bisa menyebabkan kelainan hatinya bisa lebih dihindari,” saran Dante.

Tentang Transplantasi Hati

Dalam kesempatan yang sama, Dante juga menjelaskan soal transplantasi hati. Pasalnya, baru-baru ini RSUP Fatmawati berhasil menjalankan prosedur tersebut.

Transplantasi hati dilakukan pada 9 April 2026, ini merupakan tindakan ketiga yang dilakukan di rumah sakit tersebut. Transplantasi kasus ketiga dilakukan pada pasien usia 52 dengan sirosis hati akibat hepatitis B.

Prosedur dilakukan dengan pendekatan living donor liver transplantation, di mana donor berasal dari anak kandung pasien yang menginjak usia 26. Keterlibatan keluarga dalam proses ini menjadi bagian penting dalam penanganan penyakit hati tahap lanjut, terutama di tengah keterbatasan ketersediaan donor organ.

Transplantasi hati merupakan tindakan medis yang kompleks dan memerlukan koordinasi serta kerja sama multidisiplin yang erat. Proses ini tidak hanya berlangsung di ruang operasi, tetapi dimulai sejak tahap awal, yaitu:

  • Memilih kandidat transplantasi yang tepat
  • Persiapan pra-operasi yang matang
  • Pelaksanaan tindakan operasi
  • Pemantauan pasca operasi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Seluruh rangkaian ini dilakukan secara hati-hati untuk menjaga keselamatan pasien dan memastikan proses transplantasi dapat berjalan dengan baik.

Libatkan Tim Dokter dari Berbagai Bidang

Tim dokter yang terlibat dalam transplantasi hati mencakup berbagai bidang, antara lain:

  • Bedah digestif
  • Penyakit dalam (gastroentero-hepatologi)
  • Anestesi
  • Kardiologi
  • Pulmonologi
  • Rehabilitasi medik
  • Radiologi
  • Patologi klinik
  • Patologi anatomi
  • Gizi
  • Kedokteran gigi
  • Tim keperawatan.

Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam memberikan pelayanan yang menyeluruh dan berkesinambungan bagi pasien.

Pelaksanaan transplantasi hati di RSUP Fatmawati juga dilakukan melalui kerja sama dengan Seoul National University Hospital (SNUH) sebagai bagian dari upaya pembelajaran dan pengembangan kapasitas layanan transplantasi secara bertahap.

Pada pasien dengan sirosis hati stadium lanjut, transplantasi hati menjadi salah satu terapi yang dapat dipertimbangkan untuk membantu meningkatkan kualitas hidup. Namun, tindakan ini tetap memerlukan seleksi pasien yang ketat serta kesiapan fasilitas dan sumber daya manusia yang memadai.

Pengembangan layanan transplantasi di RSUP Fatmawati dilakukan secara bertahap, seiring dengan penguatan kapasitas tim, peningkatan fasilitas, serta penyempurnaan sistem pelayanan. Selain pelayanan kuratif, upaya promotif dan preventif juga tetap menjadi perhatian, termasuk edukasi mengenai pencegahan hepatitis serta pentingnya deteksi dini penyakit hati.

“Ke depan, diharapkan layanan transplantasi hati dapat terus berkembang dan semakin memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia,” harap Dante.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya