Harga BBM Nonsubsidi akan Disesuaikan? Ini Bocoran Menteri Bahlil

Menteri ESDM Bahlil sebut penyesuaian harga BBM nonsubsidi masih dikaji. Stok LPG aman di atas 10 hari dan pasokan energi nasional dipastikan stabil.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 08 April 2026, 21:50 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta. (Foto: Liputan6.com/Lizsa Egeham).

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah masih mengkaji kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya untuk jenis RON 92, RON 95, RON 98, serta solar seperti Pertamina Dex.

"Mengenai dengan BBM yang RON 92, 95, 98, termasuk dengan solar yang Pertamina Dex, itu nanti kita akan melakukan penyesuaian setelah perhitungan selesai. Sekarang kita masih melakukan exercise dan mudah-mudahan doakan agar betul-betul harga ICP bisa turun, itu akan jauh lebih baik lagi," ujar Bahlil di Istana Negara, Rabu (8/4/2026).

Ia menambahkan, pemerintah saat ini masih melakukan perhitungan bersama badan usaha, baik milik negara seperti Pertamina maupun pihak swasta.

Bahlil juga memastikan kondisi pasokan LPG nasional sudah kembali stabil setelah sempat mengalami tekanan.

"Menyangkut LPG ini teman-teman media, saya menyampaikan bahwa masa sulit kita untuk LPG sudah kita lewati sejak tanggal 4. Alhamdulillah sekarang cadangan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari," katanya.

Ia menyebutkan, dalam waktu dekat kapal pengangkut LPG tambahan juga akan tiba untuk memperkuat cadangan nasional.

Selain itu, pemerintah tidak lagi melakukan impor solar. Saat ini, impor energi hanya difokuskan pada bensin dengan kebutuhan sekitar 20 hingga 22 juta kiloliter.

 

Pasokan Energi Aman, Tak Bergantung pada Selat Hormuz

Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (18/11/2025). (Foto: liputan6.com/Lizsa Egeham).

Bahlil menegaskan bahwa pasokan LPG Indonesia tidak bergantung pada jalur Selat Hormuz, yang kerap menjadi titik rawan geopolitik.

"LPG tidak ada urusannya sama Selat Hormuz karena kita sudah ambil dari Australia, dari Amerika, dan beberapa negara lain," ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa impor dari Timur Tengah saat ini hanya berupa minyak mentah (crude) sekitar 20–25 persen, dan sebagian sudah dialihkan ke negara lain seperti Angola, Nigeria, dan Amerika Serikat.

"Jadi kita insyaallah sudah clear lah, insyaallah aman ya," kata Bahlil.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis ketahanan energi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya