Pramono Dorong Pasar di Jakarta Pakai QRIS: Signifikan Mengurangi Copet

Pramono Anung meminta agar dilakukan percepatan digitalisasi sistem pembayaran di seluruh pasar tradisional Jakarta dengan QRIS.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 06 April 2026, 15:56 WIB
QRIS adalah standar kode QR (Quick Response) yang digunakan di Indonesia untuk menghubungkan dompet digital dan metode pembayaran non-tunai dengan berbagai pihak, termasuk bank dan pedagang. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta agar dilakukan percepatan digitalisasi sistem pembayaran di seluruh pasar tradisional ibu kota dengan menerapkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Pramono menilai, kebijakan tersebut tidak hanya dapat meningkatkan transaksi, tetapi juga bisa menekan risiko kejahatan seperti pencopetan yang kerap terjadi pasar tradisional.

Hal ini disampaikan oleh Pramono dalam acara groundbreaking revitalisasi Pasar Gardu Asem dan Pasar Kramat Jaya di Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2026).

“Saya berharap betul pasar-pasar di Jakarta yang berjumlah 153 ini sebisa mungkin kita lakukan revitalisasi dan kita modernisasi. Termasuk dalam pembayarannya,” kata Pramono.

Ia menjelaskan bahwa modernisasi pasar yang dikelola Perumda Pasar Jaya harus mencakup sistem pembayaran. Saat ini, Pasar Jaya mengelola 153 pasar yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi warga Jakarta.

QRIS Mengurangi Copet

Menurut Pramono, digitalisasi untuk pembayaran terutama melalui QRIS akan menjadi instrumen penting dalam membenahi ekosistem pasar tradisional agar lebih modern dan efisien. Selain itu, aspek keamanan menjadi salah satu alasan utama dorongan penggunaan transaksi non tunai tersebut.

“Dan yang paling penting dan paling utama adalah dengan QRIS orang misalnya dengan digitalisasi apakah nanti pakai QRIS atau pakai yang lainnya, itu akan secara signifikan juga mengurangi copet,” jelasnya.

Pramono berujar bahwa selama ini kejahatan pencopetan di pasar tradisional kerap menyasar uang tunai yang dibawa oleh penjual maupun pembeli. Dengan beralih ke sistem pembayaran digital, potensi tersebut dinilai bisa ditekan secara signifikan.

“Karena selama ini ya kalau mau copet kartu kan enggak bisa, yang dicopet ya pasti uang cash,” tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya