Liputan6.com, Jakarta - Badan Geologi mencatat adanya peningkatan aktivitas Gunung Sorikmerapi di Sumatera Utara dan Gunung Slamet di Jawa Tengah. Masyarakat diimbau waspada dengan memperhatikan radius aman yang sudah ditentukan.
Plt Kepala Badan Geologi Lana Saria menyampaikan, terdapat peningkatan aktivitas gempa vulkanik dalam di Gunung Sorikmarapi. Peningkatan dinilai berkaitan dengan migrasi magma dari kedalaman ke arah permukaan sehingga perlu diwaspadai.
Advertisement
"Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, menaikkan tingkat aktivitas Gunungapi Sorikmarapi dari level I (normal) menjadi level II (waspada) terhitung mulai tanggal 3 April 2026 pukul 21.00 WIB," kata Lana dalam laporannya kepada wartawan di Bandung, Sabtu (4/4/2026).
Masyarakat dan pengunjung atau wisatawan diminta agar tidak memasuki wilayah radius 1.500 meter dari pusat kawah utama atau puncak Gunung Sorikmarapi.
Selain itu, masyarakat diimbau tidak memasuki area sejumlah kawah seperti Kawah Sibangor Tonga, Kawah Sibangor Julu, dan kawah-kawah lainnya guna menghindari potensi bahaya dari semburan lumpur atau gas beracun yang dapat terjadi secara tiba-tiba.
Lana menjelaskan, karakter erupsi Gunung api Sorikmarapi berupa erupsi freatik, erupsi abu dan semburan lumpur yang berdasarkan sejarahnya pernah terjadi pada tahun 1830, 1879, 1892, 1893, 1917, 1970, 1986, dan 1987.
Titik erupsi tidak hanya terjadi di kawah utama atau puncak tapi juga di manifestasi yang ada disekitarnya seperti di Kawah Sibangor Tonga dan Sibangor Julu.
"Seluruh pihak agar menjaga suasana yang kondusif di masyarakat, tidak menyebarkan narasi bohong (hoax), dan tidak terpancing isu-isu yang tidak jelas sumbernya. Masyarakat harap selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah," beber Lana.
Aktivitas Gunung Slamet
Sementara itu, pada 3 April 2026, teramati adanya perubahan visual di kawah Slamet, berupa kolom asap berwarna putih dengan tinggi maksimum sekitar 300 meter di atas bibir kawah. Asap teramati keluar secara terus menerus, yang mengindikasikan adanya aktivitas degassing, yaitu pelepasan gas-gas magmatik dari magma ke permukaan melalui kawah.
"Berdasarkan hasil analisis citra termal, teramati adanya peningkatan suhu maksimum dari sekitar 247,4 °C pada 13 September 2024 menjadi 411,2 °C pada 2 April 2026," jelasnya.
Kenaikan ini, beber Lana, menunjukkan peningkatan signifikan dalam aktivitas termal kawah. Sebaran anomali panas pada tahun 2024 masih terlokalisir di bagian pusat kawah, sedangkan pada tahun 2026, berkembang menjadi lebih luas dan membentuk pola melingkar di sekitar dinding kawah. Perubahan pola sebaran suhu mengindikasikan berkembangnya sistem rekahan.
"Perluasan area anomali termal ini menunjukkan peningkatan intensitas proses degassing di kawasan kawah," ujarnya.
Selain itu, terpantau pula adanya peningkatan aktivitas kegempaan. Hasil pengamatan dan analisis data-data pemantauan menunjukkan adanya peningkatan tekanan di bawah tubuh Gunungapi Slamet, yang memicu munculnya gempa-gempa dangkal, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya erupsi.
"Potensi ancaman bahaya saat ini adalah erupsi freatik yang menghasilkan abu dan hujan lumpur atau erupsi magmatik yang menghasilkan lontaran material pijar yang melanda di daerah sekitar puncak di dalam radius 2 km atau serta hembusan gas vulkanik konsentrasi tinggi yang sebarannya terbatas di sekitar kawah/puncak," jelas Lana.
"Hingga tanggal 3 April 2026 tingkat aktivitas Slamet masih ditetapkan pada Level II (Waspada)," tegasnya.
Badan Geologi pun meminta masyarakat untuk tidak berada atau beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah puncak Slamet. Pengamatan intensif terus dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan lebih lanjut.
"Tingkat aktivitas Gunung api Slamet akan segera ditinjau kembali jika terdapat perubahan visual maupun kegempaan yang signifikan," tutupnya.