Bitcoin Terjun ke Level Terendah Pekan Ini, Harga Minyak Jadi Biang Kerok

Waspada! Harga Bitcoin anjlok di bawah USD 66.000 seiring guncangan pasar global. Analis senior Bloomberg beri peringatan potensi koreksi lebih dalam.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 03 April 2026, 16:00 WIB
Pasar kripto berdarah! Likuidasi tembus USD 400 juta saat harga Bitcoin menyentuh level terendah sepekan. Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan dan menyentuh level terendah dalam sepekan. Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak dunia yang ikut mengguncang pasar keuangan global.

Mengutip laman Cointelegraph.com, Jumat (3/4/2026) pada perdagangan Kamis (2/4) harga Bitcoin turun di bawah USD 66.000. Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin waspada terhadap arah pergerakan aset kripto tersebut ke depan.

Sejumlah analis mulai memberikan peringatan bahwa harga Bitcoin masih berpotensi turun lebih dalam. Salah satunya analis senior Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, yang menyebut harga Bitcoin bisa kembali ke kisaran USD 10.000.

Menurutnya, level tersebut bukan angka sembarangan. Sebelum lonjakan besar pada 2020–2021, Bitcoin sempat lama berada di sekitar harga itu.

“Bitcoin bisa saja kembali ke level tersebut,” ujarnya.

Di sisi lain, data dari CoinGlass menunjukkan likuidasi pasar kripto dalam 24 jam terakhir mencapai lebih dari USD 400 juta. Ini menandakan banyak investor yang mengalami kerugian akibat pergerakan harga yang tajam.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Harga Minyak Naik Pasar Ikut Guncang

Bitcoin adalah salah satu dari implementasi pertama dari yang disebut cryptocurrency atau mata uang kripto.

Tekanan pada Bitcoin tidak terjadi sendirian. Pasar saham Amerika Serikat juga ikut melemah. Indeks Nasdaq bahkan turun lebih dari 2% saat pembukaan perdagangan. Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga minyak mentah dunia.

Harga minyak jenis WTI tercatat naik hingga USD 114 per barel, dipicu kekhawatiran gangguan pasokan, terutama di jalur penting seperti Selat Hormuz.

Kenaikan harga energi ini dikhawatirkan bisa mendorong inflasi kembali naik. Lembaga riset The Kobeissi Letter memperkirakan inflasi AS bisa mencapai 3,6% jika harga minyak bertahan tinggi selama dua bulan.

Situasi pasar juga semakin tidak menentu setelah pidato Presiden AS, Donald Trump, yang dinilai tidak memberikan kejelasan terkait meredakan konflik dengan Iran.

Pendiri Kobeissi Letter, Adam Kobeissi, bahkan menyebut situasi ini membingungkan karena arah kebijakan yang tidak konsisten. Kondisi tersebut membuat investor cenderung berhati-hati. Aset berisiko seperti kripto pun ikut terdampak, sementara pasar global masih menunggu kepastian arah ekonomi dan geopolitik ke depan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya