Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menyampaikan rasa duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit terbaik TNI yang tengah menjalankan misi perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon selatan.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Hari ini, bangsa Indonesia kembali kehilangan putra-putra terbaiknya yang gugur saat menjalankan tugas mulia sebagai penjaga perdamaian dunia. Mereka adalah pahlawan kemanusiaan yang memberikan pengabdian melebihi panggilan tugasnya. Atas nama pribadi dan Fraksi Partai Demokrat, saya menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan,” ujar Ibas, Selasa (31/3/2026).
Advertisement
Senada dengan pernyataan tegas Pemerintah RI melalui Menteri Luar Negeri Sugiono, Ibas mengutuk keras insiden serangan yang menyasar pasukan penjaga perdamaian. Ia menegaskan, serangan terhadap personel UNIFIL merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional.
“Pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran. Sesuai dengan apa yang disampaikan Sekjen PBB, serangan ini dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang," tegas Ibas.
"Saya mendesak UNIFIL dan PBB untuk segera melakukan investigasi penuh, transparan, dan menyeluruh untuk mengungkap sumber serangan ini, apakah berasal dari IDF atau aktivitas militer lainnya,” imbuhnya.
Ibas pun menyoroti kondisi prajurit lainnya yang mengalami luka-luka dalam insiden terkait. Dia mendoakan agar mereka segera diberikan kesembuhan.
"Saya mendukung penuh langkah KBRI Beirut dalam memantau kondisi mereka dan menyiapkan proses pemulasaraan serta pemulangan jenazah almarhum ke tanah air dengan penghormatan tertinggi," jelas dia.
Upayakan Deeskalasi dan Mediasi
Sebagai pimpinan MPR RI, Ibas mendukung penuh sikap Pemerintah Indonesia yang menyerukan kepada semua pihak untuk menghormati kedaulatan Lebanon dan segera melakukan deeskalasi. Ia juga mengapresiasi kesiapan Presiden Prabowo Subianto yang menawarkan diri sebagai mediator untuk gencatan senjata.
“Dunia harus kembali ke meja perundingan. Konflik ini telah membawa imbas yang terlalu besar bagi masyarakat sipil dan personel perdamaian. Kita tidak ingin eskalasi ini meluas menjadi perang yang lebih besar di kawasan,” seru Ibas.
Ibas pun mengapresiasi profesionalisme TNI yang tetap teguh menjalankan mandat PBB di tengah situasi keamanan yang sangat dinamis. Namun, ia juga mengingatkan agar faktor keselamatan prajurit tetap menjadi prioritas utama melalui penerapan Standard Operating Procedure (SOP) yang ketat.
“TNI telah bekerja secara profesional dan penuh tanggung jawab. Kita harus memastikan langkah-langkah kontinjensi disiapkan secara matang sesuai dinamika di lapangan. Indonesia akan tetap menjadi bagian dari solusi perdamaian dunia, namun nyawa setiap prajurit kita adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya,” Ibas menandasi.
Tak lupa, Ibas mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menundukkan kepala sejenak dan mendoakan para syuhada perdamaian yang telah gugur mengharumkan nama bangsa di mata dunia.
Gugur
Sebagai informasi, Tiga prajurit TNI yang tengah menjalankan misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), gugur akibat serangan pada Minggu 29 Maret 2026 dan Senin 30 Maret 2026.
Diketahui, identitas tiga prajurit TNI yang gugur dalam tugas di Lebanon yaitu:
1. Praka Farizal Rhomadhon
2. Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar
3. Sertu Muhammad Nur Ichwan
Selain tiga TNI yang gugur, ada lima anggota yang mengalami luka-luka. Yakni:
1. Praka Rico Pramudia
2. Praka Bayu Prakoso
3. Praka Arif Kurniawan
4. Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana
5. Praka Deni Rianto