Liputan6.com, Jakarta - Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah pada sesi pertama perdagangan saham Senin, (30/3/2026). Koreksi saham BBCA terjadi di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang lesu pada sesi pertama.
Mengutip data RTI, Senin pekan ini pada sesi pertama, harga saham BBCA melemah 3,73% ke posisi Rp 6.450 per saham. Harga saham BBCA dibuka turun 300 poin ke posisi Rp 6.400 per saham dari sebelumnya Rp 6.700.
Advertisement
Harga saham BBCA berada di level tertinggi Rp 6.475 dan level terendah Rp 6.350. Total frekuensi perdagangan saham 50.733 kali dengan volume perdagangan saham 1.604.402 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 1 triliun.
Sementara itu, laju IHSG turun 0,38% ke posisi 7.070,40. Indeks LQ45 susut 0,34% ke posisi 716,49. Sebagian besar indeks saham acuan memerah. Pada perdagangan saham awal pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.084,72 dan level terendah 6.945,50.
Seban yak 423 saham melemah sehingga menekan IHSG. 245 saham menguat dan 146 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 10.029.999 kali dengan volume perdagangan saham 14,4 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 7,7 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.980.
Mayoritas sektor saham memerah. Sektor saham keuangan turun 1,75%, dan catat penurunan terbesar. Sektor saham basic dan consumer nonsiklikal masing-masing susut 0,50%. Lalu sektor saham consumer siklikal tergelincir 0,04%, sektor saham kesehatan merosot 0,34%. Sektor saham properti terpangkas 0,96%, sektor saham infrastruktur terpangkas 0,28% dan sektor saham transportasi melemah 0,06%.
Kompak, Direksi dan Komisaris BCA Borong Saham BBCA
Sebelumnya, sejumlah jajaran direksi hingga komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kompak melakukan aksi pembelian saham perseroan pada 25 Maret 2026.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (25/3/2026) langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang, sekaligus mencerminkan keyakinan internal terhadap prospek kinerja bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.
Diurutan pertama yang melakukan pembelian yakni, Presiden Direktur BCA, Gregory Hendra Lembong, tercatat melakukan pembelian sebanyak 1.135.639 saham dengan harga Rp 6.982 per saham.
Dengan transaksi ini, kepemilikannya meningkat dari 1.531.282 saham menjadi 2.666.921 saham, dengan porsi hak suara naik dari 0,001% menjadi 0,002%.
Kedua, aksi serupa juga dilakukan Komisaris BCA, Tonny Kusnadi, yang membeli 317.892 saham di harga yang sama. Setelah transaksi, kepemilikan sahamnya bertambah dari 7.502.058 saham menjadi 7.819.950 saham, sementara hak suara tetap berada di level 0,006%.
Selanjutnya, diurutan ketiga, Wakil Presiden Direktur BCA, John Kosasih, mengakumulasi 626.237 saham. Kepemilikannya meningkat dari 1.094.492 saham menjadi 1.720.729 saham, dengan hak suara tetap di kisaran 0,001%.
Dari jajaran direksi lainnya, Vera Eve Lim membeli 549.859 saham, sehingga total kepemilikannya naik dari 2.731.601 saham menjadi 3.281.460 saham. Porsi hak suara pun meningkat dari 0,002% menjadi 0,003%.
Direksi Lainnya
Direktur BCA lainnya, Santoso, turut menambah kepemilikan sebanyak 495.034 saham. Dengan demikian, total saham yang dimilikinya bertambah dari 3.269.028 saham menjadi 3.764.062 saham, dengan hak suara tetap di level 0,003%.
Adapun Direktur BCA, Subur Tan atau Tan Ho Hien, memborong 618.958 saham. Kepemilikannya meningkat dari 11.169.044 saham menjadi 11.788.002 saham, dengan hak suara naik dari 0,009% menjadi 0,01%.
Seluruh transaksi dilakukan pada harga yang sama, yakni Rp6.982 per saham, dan memiliki tujuan yang seragam yaitu untuk investasi jangka panjang.