Liputan6.com, Semarang - Berbeda dari Aparatur Negeri Sipil pada umumnya, hari pertama masuk kantor usai libur Lebaran, para ASN di Semarang langsung terjun ke lapangan membantu memperbaiki tanggul yang rusak akibat banjir.
Advertisement
Hujan yang menggugur, timbulkan genangan banjir di sejumlah titik rawan di Kota Semarang. Banjir di antaranya terjadi di wilayah Rowosari, Meteseh, Sumberejo, Grand Permata Tembalang, hingga Dinar Indah, Kecamatan Tembalang.
Banjir menggerakkan ASN untuk mau membantu memperbaiki tanggul di sepanjang Kali Babon, Kecamatan Tembalang. Perkuatan tanggul sebagai langkah tanggap darurat sekaligus antisipasi lanjutan menyusul banjir yang kembali terjadi di sejumlah wilayah Kecamatan Tembalang, akibat hujan ekstrem.
Hujan lebat yang mengguyur Kota Semarang sejak Rabu malam hingga Kamis dini hari (26/3/2026), menyebabkan banjir kembali melanda sejumlah titik di Kota Semarang.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menegaskan Pemkot langsung melakukan langkah cepat berbasis koordinasi teknis untuk mengendalikan situasi.
"Pada saat debit Kali Plumbon meningkat tadi malam, kami langsung berkoordinasi dengan BBWS terkait pengaturan pintu air di Bendung Pucanggading. Bukaan pintu diarahkan ke Banjir Kanal Timur sehingga elevasi air di hulu bisa ditekan," kata Agustina, Jumat (27/3/2026)
Pengaturan aliran diperbatasan Kota Semarang dengan Kabupaten Demak di Pucang gading tersebut terbukti mampu mengurangi tekanan air di wilayah hulu, sehingga limpasan di kawasan Meteseh dan Rowosari tidak setinggi kejadian banjir sebelumnya.
Selain itu, Pemkot Semarang juga langsung melakukan perkuatan tanggul darurat pada titik-titik kritis. Penanganan juga dilakukan melalui pemasangan sandbag dan kisdam sebagai upaya menahan potensi luapan susulan, mengingat intensitas hujan masih berpotensi tinggi.
Di sisi lain, Agustina juga menyoroti keterbatasan intervensi di kawasan perumahan baru yang terdampak banjir.
"Perumahan-perumahan baru di Meteseh dan Rowosari saat ini belum diserahterimakan, sehingga masih menjadi tanggung jawab pengembang. Pemerintah Kota belum dapat melakukan penanganan permanen di kawasan tersebut," jelasnya.
Banjir di Semarang yang Terus Berulang
Sebelumnya, pada awal Maret 2026, wilayah lain seperti Mangkang dan Tlogosari juga mengalami banjir akibat kombinasi hujan tinggi dan kerusakan infrastruktur seperti talud jebol.
Untuk itu, Pemerintah Kota Semarang menegaskan komitmennya dalam memperkuat sistem pengendalian banjir secara menyeluruh, mulai dari koordinasi pengelolaan pintu air, penguatan tanggul, hingga mendorong percepatan penyelesaian kewajiban pengembang dalam penyediaan infrastruktur dasar.
“Kami pastikan Pemerintah Kota akan terus siaga, bergerak cepat, dan hadir di tengah masyarakat. Penanganan banjir harus dilakukan secara terpadu, dari hulu hingga hilir,” tegas Agustina.
Sebagai langkah lanjutan, Pemkot Semarang terus melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi cuaca dan debit air, serta menyiagakan personel di titik-titik rawan guna memastikan respons cepat dapat dilakukan setiap saat.
Dengan langkah cepat, terukur, dan kolaboratif ini, diharapkan dampak banjir dapat ditekan dan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang masih berlangsung.