Italia vs Irlandia Utara: Tekanan Tak Seimbang, Gennaro Gattuso Sampai Sulit Tidur

Italia hadapi Irlandia Utara di play-off Piala Dunia 2026. Gattuso memikul tekanan besar, sementara lawan datang tanpa beban dan penuh ambisi.

oleh Asad ArifinDiterbitkan 26 Maret 2026, 17:31 WIB
Reaksi pelatih Italia, Gennaro Gattuso saat melawan Norwegia di Kualifikasi Piala Dunia 2026, Senin 17 November 2025. (AP Photo/Luca Bruno)

Liputan6.com, Jakarta - Semifinal play-off Piala Dunia 2026 menghadirkan duel sarat tekanan. Italia akan menjamu Irlandia Utara di Bergamo, Jumat (27/3) dini hari WIB. Laga ini bukan sekadar pertandingan biasa.

Bagi Italia, ini soal harga diri. Status juara dunia empat kali dipertaruhkan. Kegagalan akan menjadi luka ketiga secara beruntun.

Dalam empat bulan terakhir, arah perjalanan Azzurri semakin jelas. Mereka hanya berjarak dua kemenangan dari putaran final. Namun, rintangan mental masih menjadi ancaman.

Nama Irlandia Utara mungkin tidak menakutkan di atas kertas. Namun, sejarah membuktikan Italia pernah terpeleset. Makedonia Utara dan Swedia menjadi pengingat pahit.

Di sisi lain, lawan datang dengan semangat berbeda. Tanpa beban besar, mereka justru berpeluang menciptakan kejutan. Ini membuat tensi pertandingan semakin kompleks.


Tekanan Besar di Pundak Gattuso

Pemain Italia, Matteo Politano, dipeluk oleh pelatih Gennaro Gattuso saat ia ditarik keluar lapangan dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa Grup I antara Israel dan Italia di Stadion Nagyerdei, Debrecen, Hungaria, Senin, 8 September 2025. (AP Photo/Denes Erdos)

Gennaro Gattuso menghadapi ujian terbesar dalam karier kepelatihannya. Ia tidak hanya mengatur tim. Ia membawa ekspektasi seluruh negeri.

Sebagai pemain, ia terbiasa dengan laga besar. Namun sebagai pelatih, tekanannya berbeda. Ia bahkan mengaku kesulitan tidur menjelang pertandingan.

Jika tidak dibantu, ritme istirahatnya terganggu. "Pukul 4.30 atau 5 pagi saya bangun dan mata saya masih terbuka lebar seperti kelelawar," kata Gattuso.

Tekanan ini menunjukkan besarnya beban yang ia pikul. Italia tidak hanya dituntut menang. Mereka dituntut menghapus trauma masa lalu.


Irlandia Utara: Tanpa Beban, Penuh Ambisi

Pelatih Irlandia Utara, Michael O'Neill. (Branislav Racko / AFP)

Berbeda dengan Italia, Irlandia Utara datang tanpa tekanan besar. Mereka justru melihat laga ini sebagai peluang emas. Targetnya jelas: mencetak sejarah.

Sudah hampir 40 tahun mereka absen dari Piala Dunia. Motivasi ini menjadi bahan bakar utama. Setiap laga diperlakukan seperti final.

Pelatih Michael O'Neill memahami situasi ini. Ia pernah membangun tim dari titik terendah. Pengalaman itu menjadi modal penting.

"Tekanan melatih Italia jauh berbeda dari tekanan melatih Irlandia Utara," kata O'Neill.


Momen Terpenting dalam Karier Gattuso

Starting XI Timnas Italia saat melawan Norwegia di Kualifikasi Piala Dunia 2026, Senin 18 November 2025 di San Siro. (AP Photo/Luca Bruno)

Italia memiliki catatan buruk di fase play-off. Kekalahan dari Swedia dan Makedonia Utara masih membekas. Ini bukan sekadar statistik.

Tekanan historis sering kali memengaruhi performa. Dalam laga satu leg, kesalahan kecil bisa berujung fatal. Margin kesalahan sangat tipis.

Gattuso mencoba mengubah narasi. Ia menanamkan mental positif kepada tim. Fokusnya bukan pada kegagalan masa lalu.

"Saya telah melatih selama beberapa tahun sekarang, tetapi tentu saja pertandingan ini adalah pertandingan terpenting dalam karier kepelatihan saya sejauh ini," kata Gattuso.

Sumber: BBC Sport

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya