Liputan6.com, Jakarta - Krisis energi mulai kembali terlihat di beberapa negara seperti Nepal, Sri Lanka dan Pakistan. Ketiga negara tersebut menerapkan penjatahan agar cadangan bahan bakar mereka tidak kunjung habis.
Mengutip The Economist, sejumlah perusahaan di Sri Lanka melakukan penutupan pada hari Rabu. Sementara sekolah dan universitas melaksanakan pembelajaran daring. Sedikit berbeda, Nepal menunjukan adanya antrean panjang kala masyarakat ingin mendapatkan gas untuk memasak.
Advertisement
Ternyata kondisi akibat perang teluk ketiga ini sudah diprediksi oleh Kepala IMF, Kristalina Georgieva, disebut sebagai “sesuatu yang tak terpikirkan”. Seakan de javu, kondisi ini pernah dialami usai invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Benua biru ingin membantu warganya dan menjaga kompor rumah tangga mereka tetap menyala. Alhasil, beban berpindah ke negara pengimpor dengan cadangan lebih kecil dan ruang fiskal yang terbatas dan menjadikan situasi yang krisis.
Terlihat pada Sri Lanka yang harus mengocek cadangan devisanya dan gagal bayar. Kemudian Pakistan, tenggelam ke dalam krisis neraca pembayaran, beralih ke IMF, dan memangkas impor.
Habis jatuh tertiban tangga, penutupan hampir total Selat Hormuz menambah risiko krisis energi global. Pakistan dan Mesir menjadi contoh paling rentan. Keduanya mengalokasikan sekitar 3–4% PDB untuk impor energi, dengan pasokan besar berasal dari Timur Tengah, serta bergantung pada remitansi hingga 5–6% PDB.
Lonjakan harga energi dan potensi turunnya remitansi memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan mata uang. Cadangan devisa Pakistan bahkan di bawah standar minimum IMF, sementara Mesir dibebani jatuh tempo utang luar negeri sekitar USD29 miliar tahun ini.
Bangladesh dan Sri Lanka juga berada dalam tekanan. Cadangan devisa yang hanya cukup sekitar tiga bulan impor serta ketergantungan industri pada energi impor membuat keseimbangan eksternal mereka rapuh.
Thailand dan India Lebih Tahan
Sebaliknya, Thailand dan India relatif lebih tahan. Thailand memang mengimpor energi besar (sekitar 7% PDB), tetapi ditopang cadangan minyak dan devisa kuat. India memiliki cadangan devisa setara tujuh bulan impor serta fleksibilitas sumber energi, termasuk minyak Rusia, sehingga lebih mampu meredam gejolak.
Di luar risiko makroekonomi, dampak sosial berpotensi lebih luas. Kenaikan harga gas mendorong lonjakan biaya pupuk dan pangan. World Food Programme memperingatkan jumlah penduduk yang menghadapi kelaparan akut bisa mencapai rekor pada 2026 jika konflik berlanjut.
Berdasarkan grafik, Indonesia berada di kuadran low exposure, strong buffers (paparan rendah, bantalan kuat). Terlihat juga posisi Indonesia bersama Turki, Filipina, dan India, serta relaif dekat dengan Afrika Selatan.
Hal ini semakin menegaskan, Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor energi dari Timur Tengah dibanding negara seperti Pakistan atau Mesir. Indonesia juga memiliki cadangan devisa dan kondisi makro yang cukup stabil untuk menyerap guncangan.
Tidak heran, jika Indonesia relatif tahan krisis. Namun, posisinya masih tidak sekuat Thailand atau India yang memiliki buffer lebih tinggi.