Kekalahan Arsenal di Final Carabao Cup Bisa Berdampak ke Persaingan Juara Premier League!

Arsenal kalah dari Man City di final Carabao Cup 2026. Apakah hasil ini berdampak pada persaingan gelar Premier League? Ini analisis lengkapnya.

oleh Asad ArifinDiterbitkan 23 Maret 2026, 08:29 WIB
Viktor Gyokeres mempertahankan bola dari gangguan Rodri dalam laga final Piala Liga Inggris antara Arsenal vs Manchester City di Wembley Stadium, 23 Maret 2026. (AP Photo/Maja Smiejkowska)

Liputan6.com, Jakarta - Arsenal harus menerima kenyataan pahit usai kalah 0-2 dari Manchester City pada final Carabao Cup 2025/2026. Laga di Wembley, Minggu (22/3) malam WIB, menjadi momentum penting dalam dinamika persaingan kedua tim musim ini.

Kekalahan ini tidak berdiri sendiri. Ia datang di tengah duel ketat perebutan gelar Premier League. Arsenal masih memimpin klasemen dengan 70 poin, sementara City membuntuti dengan 61 poin.

Namun, situasi di papan klasemen belum sepenuhnya aman bagi The Gunners. Manchester City memiliki satu laga tunda. Dengan delapan pertandingan tersisa, peluang masih terbuka.

Pertanyaan besarnya adalah apakah hasil final ini akan berdampak secara langsung pada perburuan gelar. Atau justru hanya menjadi catatan terpisah tanpa efek signifikan di liga?


Dampak Psikologis: Momentum Berubah ke Manchester City

Nico O'Reilly melakukan selebrasi saat Manchester City mengalahkan Arsenal di partai final Carabao Cup dengan skor 2-0. Pada laga ini ia membukukan dua gol. (Adrian DENNIS / AFP)(Adrian Dennis / AFP)

Kemenangan di final jelas memberi suntikan moral bagi Manchester City. Dalam konteks kompetisi panjang seperti Premier League, momentum sering kali menjadi faktor pembeda.

City kini memiliki dorongan tambahan untuk menekan Arsenal. Selisih poin memang masih signifikan, tetapi dengan satu laga tunda, jarak itu berpotensi terpangkas drastis.

Final Piala Carabao telah mengubah peta persaingan gelar musim ini, kata pandit sepak bola Jamie Redknapp. Dia meyakini bahwa Arsenal akan berada dalam situasi yang goyah secara mental.

"Bagi Arsenal, keraguan, negativitas, ini mengubah seluruh peta persaingan gelar," katanya kepada Sky Sports.

"Saya tidak mengatakan ini membuat Manchester City sepenuhnya kembali ke persaingan, tetapi ini memberi mereka peluang besar ketika mereka bermain di bulan April," tegasnya.


Tekanan pada Arsenal: Ujian Konsistensi di Fase Krusial

Manajer Arsenal asal Spanyol, Mikel Arteta (kiri ke kanan), memberikan instruksi dari pinggir lapangan kepada gelandang Arsenal asal Inggris bernomor punggung 41, Declan Rice, gelandang Arsenal asal Brasil bernomor punggung 11, Gabriel Martinelli, dan bek Arsenal asal Spanyol bernomor punggung 36, Martin Zubimendi, selama pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions UEFA antara Bayer 04 Leverkusen vs Arsenal di Leverkusen, Jerman barat, pada 12 Maret 2026. (INA FASSBENDER/AFP)

Dari sisi Arsenal, kekalahan ini berpotensi memunculkan tekanan baru. Mereka gagal mengamankan trofi, sekaligus membuka ruang keraguan menjelang fase akhir musim.

Secara matematis, posisi Arsenal masih unggul. Namun, tekanan psikologis bisa mengubah performa di lapangan. Terlebih, mereka akan menghadapi City secara langsung pada 19 April.

Mantan striker Arsenal, Ian Wright, menambahkan bahwa, meskipun selisihnya sembilan poin, itu bisa dengan cepat berkurang dan membuat akhir musim menjadi menegangkan.

"Selisihnya sembilan poin, tetapi Manchester City memiliki satu pertandingan yang belum dimainkan dan mereka harus memainkannya, jadi selisihnya bisa berkurang menjadi tiga poin," katanya pada Sky Sports.

"Tiba-tiba, tekanan benar-benar meningkat. Jangan salah, sembilan poin ini adalah sembilan poin yang sangat ketat," tegasnya.

Sumber: Sky Sports

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya