23 Maret 2021: Ever Given Menyumbat Terusan Suez, Mengganggu Perdagangan Global

Apa itu Ever Given dan bagaimana ia menghambat arus perdagangan global? Berikut selengkapnya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 23 Maret 2026, 06:00 WIB
Kapal kontainer MV Ever Given terlihat melintang dan menyumbat Terusan Suez pada 23 Maret 2021. (Dok. Planet Labs Inc. via AP)

Liputan6.com, Kairo - Pada 23 Maret 2021, dunia logistik global mengalami salah satu gangguan paling dramatis dalam sejarah modern. Kapal kontainer raksasa Ever Given, sebuah kapal kategori Ultra Large Container Ship (ULCS) dengan kapasitas 20.000 TEU yang dioperasikan oleh perusahaan pelayaran Evergreen Marine Corporation, kandas dan melintang di Terusan Suez—jalur yang menjadi urat nadi perdagangan antara Asia dan Eropa.

Insiden ini terjadi pada pagi hari waktu Mesir, ketika kapal sepanjang hampir 400 meter itu sedang melintasi kanal dalam konvoi menuju utara. Menurut laporan dari BBC News dan Reuters, kapal menghadapi angin kencang hingga lebih dari 40 knot disertai badai pasir yang mengurangi visibilitas secara signifikan. Dalam kondisi tersebut, kapal kehilangan kendali, haluannya menabrak tepi kanal, sementara buritannya berayun hingga menutup jalur sepenuhnya.

Dalam hitungan jam, dampak insiden ini langsung terasa secara global. Suez Canal Authority (SCA) menghentikan lalu lintas di kanal, menyebabkan antrean kapal di kedua sisi. Data dari Lloyd’s List dan Bloomberg menunjukkan bahwa lebih dari 400 kapal akhirnya tertahan, termasuk tanker minyak dan kapal pembawa barang konsumsi.

Terusan Suez sendiri menangani sekitar 12 persen perdagangan global, sehingga gangguan ini segera berdampak luas. The New York Times melaporkan bahwa nilai perdagangan yang tertahan diperkirakan mencapai sekitar USD 9–10 miliar per hari. Rantai pasok global—yang saat itu sudah tertekan akibat pandemi COVID-19—semakin terguncang, dengan keterlambatan pengiriman yang merambat ke berbagai sektor industri.

 

Operasi Penyelamatan

Sejak hari pertama, operasi penyelamatan skala besar segera dilakukan. Otoritas Mesir bekerja sama dengan perusahaan penyelamat internasional seperti Boskalis untuk membebaskan kapal tersebut.

Menurut laporan The Guardian dan Al Jazeera, upaya yang dilakukan melibatkan pengerukan lebih dari 30.000 meter kubik pasir di sekitar haluan kapal (terutama oleh kapal keruk Mashhour), serta pengerahan belasan kapal tunda untuk menarik badan kapal. Tim juga memanfaatkan momentum pasang maksimum air laut (Spring Tide) untuk membantu mengangkat kapal dari posisi kandas.

Operasi ini menjadi sorotan global karena kompleksitasnya. Para ahli maritim menyebut bahwa ukuran kapal yang sangat besar, dikombinasikan dengan sempitnya kanal, menjadikan proses evakuasi jauh lebih sulit dibandingkan insiden kapal kandas biasa.

Setelah hampir satu minggu, upaya akhirnya membuahkan hasil. Pada 29 Maret, Ever Given berhasil kembali terapung dan diluruskan. CNN melaporkan bahwa momen tersebut disambut lega oleh pelaku industri global karena jalur pelayaran vital itu akhirnya bisa dibuka kembali.

Lalu lintas kapal di Terusan Suez pun perlahan dipulihkan, meski butuh beberapa hari untuk mengurai kemacetan ratusan kapal yang telah menumpuk.

Meskipun lalu lintas kanal kembali normal, kapal Ever Given tidak diizinkan langsung meninggalkan Mesir. Berdasarkan laporan Financial Times, kapal tersebut disita secara resmi oleh pengadilan Mesir dan ditahan di Great Bitter Lake selama lebih dari tiga bulan. Penahanan ini merupakan bagian dari sengketa kompensasi antara SCA dan pemilik kapal, Shoei Kisen Kaisha.

Pihak otoritas Mesir awalnya menuntut ganti rugi sebesar USD 916 juta untuk menutup biaya operasi penyelamatan, kerusakan infrastruktur kanal, serta hilangnya pendapatan biaya transit selama enam hari penyumbatan. Setelah negosiasi yang alot, nilai kompensasi akhirnya disepakati turun menjadi sekitar USD 550 juta. Kapal raksasa tersebut baru diizinkan berlayar kembali pada 7 Juli 2021 setelah kesepakatan penyelesaian ditandatangani.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya