Liputan6.com, Jakarta - PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), emiten pengelola Alfamidi mencatat kinerja keuangan positif pada 2025. Perseroan mencatat pertumbuhan pendapatan bersih dan laba.
Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Jumat, (20/3/2026), PT Midi Utama Indonesia Tbk meraup pendapatan bersih Rp 20,64 triliun pada 2025, tumbuh 3,79% dari periode 2024 sebesar Rp 19,88 triliun.
Advertisement
Beban pokok pendapatan naik 4,03% menjadi Rp 15,24 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 14,65 triliun. Seiring hal itu, laba bruto bertambah 3,11% menjadi Rp 5,39 triliun dari 2024 sebesar Rp 5,23 triliun.
Perseroan mencatat beban penjualan dan distribusi turun menjadi Rp 4,18 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 4,22 trliun. Beban umum dan administrasi susut menjadi Rp 447,97 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 487,82 miliar. Penghasilan lainnya naik menjadi Rp 230,82 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 229,64 miliar. Beban lainnya bertambah menjadi Rp 26,58 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 25,68 miliar.
Sementara itu, laba usaha naik 34,59% menjadi Rp 967,99 miliar pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 719,17 miliar. Seiring hal itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bertambah 45,01% menjadi Rp 792,36 miliar hingga 2025 dari 2024 sebesar Rp 546,40 miliar. Adapun laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp 23,70 pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 16,34.
Total ekuitas naik 5,84% menjadi Rp 4,54 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 4,29 triliun. Total liabilitas perseroan naik 3,2% menjadi Rp 4,58 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 4,44 triliun. Aset perseroan naik 4,5% menjadi Rp 9,19 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 8,73 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara Rp 576,19 miliar.
Bongkar Alasan Alfamidi Lepas Lawson, Ada Apa?
Sebelumnya, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) resmi mengakuisisi PT Lancar Wiguna Sejahtera (LWS) atau pengelola Lawson dari PT Midi Utama Indonesia Tbk. Penjualan LWS oleh PT Midi Utama Indonesia Tbk diperkirakan tidak memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan keuangan perusahaan.
LWS diketahui hanya menyumbang 6,8% dari total pendapatan bersih 2024 dan bahkan menurun menjadi 4,3% pada kuartal pertama 2025. Hal ini memperkuat keyakinan manajemen pelepasan LWS merupakan langkah yang tepat untuk efisiensi portofolio.
Dengan dilepasnya LWS, Midi Utama Indonesia kini dapat memfokuskan sumber dayanya pada lini bisnis inti, yakni perdagangan eceran. Manajemen menegaskan efisiensi ini diharapkan membawa peningkatan kinerja keuangan, baik dari sisi laba rugi maupun arus kas, yang pada akhirnya menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.
"Perseroan berharap dengan dilakukannya transaksi ini, Perseroan dapat fokus pada portofolio bisnis Perseroan di bidang perdagangan eceran sehingga diharapkan dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja keuangan Perseroan pada masa yang akan datang," ungkap Corporate Secretary Midi Utama Indonesia Tbk, Suantopo Po dalam keterbukaan informasi Bursa, Jumat (23/5/2025).
Penutupan 300 Gerai Lawson Jadi Strategi Adaptif Terhadap Dinamika Pasar
Dalam materi paparan publik yang disampaikan pada 16 Mei 2025, Perseroan mengonfirmasi sebanyak 300 gerai Lawson ditutup sepanjang 2024.
Penutupan ini merupakan bagian dari evaluasi berkala yang umum terjadi dalam bisnis ritel, di mana setiap lokasi dianalisis kelayakannya secara berkelanjutan. Perseroan menegaskan keputusan ini didasarkan pada pertimbangan komersial dan operasional yang matang.
Beberapa faktor yang mendorong penutupan gerai termasuk tidak diperpanjangnya sewa oleh pemilik bangunan serta perubahan lingkungan sekitar gerai yang berdampak pada penurunan kinerja. Penyesuaian ini dilakukan guna memastikan setiap aset yang dimiliki memberikan kontribusi optimal terhadap keseluruhan kinerja perusahaan.
"Penutupan gerai bisa dikarenakan berbagai hal antara lain seperti pemilik tanah/bangunan tidak ingin memperpanjang sewa lokasi gerai, terjadi perubahan potensi atau lingkungan sekitar gerai sehingga kinerja keuangan gerai menjadi tidak feasible lagi untuk dilanjutkan operasionalnya," jelas Suantopo Po.
Dana Hasil Penjualan LWS Difokuskan untuk Ekspansi dan Operasional
Dana hasil penjualan ini akan menjadi bagian penting dari strategi pengembangan usaha Perseroan. Sesuai keterbukaan informasi pada 9 April dan 14 Mei 2025, dana tersebut akan digunakan untuk mendukung kebutuhan operasional dan belanja modal dalam rangka memperluas jaringan dan kapasitas usaha. Fokus utama penggunaan dana adalah memperkuat struktur bisnis inti AMRT.
Pada tahun 2025 ini, Perseroan telah menyiapkan belanja modal sebesar Rp 1,5 triliun. Dana tersebut akan diarahkan untuk pengembangan 200 gerai baru, pembangunan gudang, perpanjangan sewa, serta renovasi gerai dan gudang eksisting. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi Perseroan di industri ritel Indonesia yang kompetitif.
"Perseroan menargetkan pembukaan 200 gerai baru pada tahun 2025 ini. Adapun belanja modal yang dibutuhkan pada tahun 2025 ini adalah sekitar Rp 1,5 triliun," kata Sutopo Po.