Liputan6.com, Jakarta - Dengan datangnya musim mudik tahun 2026, dokter Piprim Basarah Yanuarso selaku Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan imbauan kepada orang tua agar memilih tujuan liburan Lebaran dengan cermat. Pemilihan destinasi yang tepat sangat penting untuk menjaga kenyamanan dan keselamatan anak selama perjalanan.
Piprim merekomendasikan agar orang tua mempertimbangkan tempat wisata yang berada di dalam ruangan, seperti museum, pusat sains, atau perpustakaan anak. Hal ini bertujuan untuk menghindari risiko terkena hujan serta keramaian yang dapat mengganggu kenyamanan anak-anak.
Advertisement
Dalam keterangan persnya, Piprim menekankan, "Pilihlah destinasi di dalam ruangan (indoor) seperti museum, pusat sains/edukasi interaktif, perpustakaan anak, atau taman bermain dalam ruangan. Tempat-tempat ini menawarkan pengalaman seru sekaligus melindungi anak dari hujan dan keramaian yang berlebihan. Hindari lokasi yang rawan banjir, longsor, atau memiliki akses jalan licin." Pernyataan tersebut menunjukkan betapa pentingnya mempertimbangkan faktor keselamatan saat merencanakan perjalanan.
Selain itu, orang tua juga disarankan untuk memantau ramalan cuaca sebelum berangkat, memastikan anak dalam kondisi sehat, dan menyiapkan aktivitas alternatif di tempat penginapan jika cuaca tidak mendukung. Untuk perjalanan darat, membuat daftar putar lagu anak atau mendengarkan dongeng audio dapat membantu menjaga suasana tetap ceria dan menghibur anak-anak selama perjalanan.
IDAI juga memberikan rekomendasi perlengkapan yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi situasi darurat, antara lain:
- P3K Keluarga: Parasetamol, obat anti-mabuk, oralit, plester, perban, termometer, dan vitamin C.
- Dokumen Penting: Kartu Identitas Anak (Akta Kelahiran/Kartu Keluarga/Paspor), tiket perjalanan, bukti pemesanan hotel, surat izin dari pasangan (jika bepergian sendiri), serta daftar nomor darurat (rumah sakit terdekat di jalur mudik).
- Perlengkapan Cuaca: Jaket, jas hujan/payung, alas kaki anti selip, dan pakaian ganti.
- Bekal dan Hiburan: Camilan sehat (buah potong, telur rebus, omelet, biskuit), botol minum sendiri, serta mainan atau buku untuk mengalihkan kebosanan anak.
Kembali ke kampung saat angka kasus campak meningkat.
Piprim menyatakan bahwa mudik tahun ini bertepatan dengan meningkatnya kasus campak di Indonesia. Dalam situasi di mana kewaspadaan terhadap kemungkinan penularan penyakit seperti campak, batuk, dan pilek sangat penting, serta tingginya mobilitas masyarakat, IDAI menekankan bahwa persiapan yang teliti adalah kunci utama untuk menjaga kesehatan.
Campak merupakan salah satu penyakit yang sangat menular dan memiliki tingkat penyebaran yang lebih cepat dibandingkan dengan influenza. Piprim menekankan bahwa langkah yang paling mendasar sebelum melakukan perjalanan jauh adalah memastikan bahwa status imunisasi anak sudah lengkap. "Vaksinasi adalah benteng pertahanan terkuat yang bisa kita berikan kepada anak. Langkah paling krusial sebelum mudik adalah memastikan imunisasi anak Anda lengkap, terutama vaksin MR/MMR," ujarnya.
Piprim juga menambahkan bahwa "Vaksinasi dua dosis terbukti menjadi cara paling efektif untuk mencegah penularan campak yang sangat mudah menyebar." Jika anak sudah mendapatkan imunisasi yang lengkap, maka perlindungan yang diberikan akan optimal, dan ini dapat memberikan ketenangan ekstra bagi orang tua selama masa liburan. Dengan demikian, persiapan yang matang dan perhatian terhadap imunisasi adalah langkah penting untuk memastikan kesehatan anak saat mudik.
Laksanakan Protokol Kesehatan saat Mudik.
Selain melakukan vaksinasi, IDAI juga mengingatkan kepada orangtua untuk tetap menerapkan protokol kesehatan saat bepergian. Salah satu langkah yang perlu diambil adalah dengan menghindari keramaian, yaitu sebisa mungkin mengurangi interaksi di tempat yang ramai dan mengajarkan anak untuk menjaga jarak dari orang-orang yang menunjukkan tanda-tanda batuk atau pilek.
Selain itu, penting untuk menjaga higienitas dengan cara mencuci tangan secara teratur menggunakan sabun dan air mengalir, serta menyediakan hand sanitizer sebagai alternatif. Dalam hal etika batuk dan penggunaan masker, orangtua perlu mengajarkan anak untuk menutup mulut dengan tisu atau siku ketika batuk atau bersin. "Gunakan masker di transportasi umum atau ruang publik sebagai perlindungan ekstra dari percikan droplet," tambah IDAI. Terakhir, hindari berbagi barang pribadi seperti alat makan, handuk, atau botol minum untuk meminimalisir risiko penularan penyakit.