Apakah Boleh Puasa Syawal di Hari Jumat? Pahami Hukum dan Pengecualiannya

Apakah boleh puasa syawal di hari Jumat? Simak penjelasan hukumnya, pengecualian, serta keutamaan puasa sunah ini agar ibadah lebih sempurna.

oleh Ricka Milla SuatinDiterbitkan 19 Maret 2026, 21:00 WIB
Apakah Boleh Puasa Syawal di Hari Jumat? (Photo by Michael Burrows from Pexels)

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Syawal menjadi momen istimewa bagi umat Muslim untuk melanjutkan ibadah setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan. Salah satu amalan sunah yang dianjurkan adalah puasa enam hari di bulan ini.

Pertanyaan apakah boleh puasa syawal di hari Jumat kerap kali menjadi perdebatan di kalangan masyarakat. Secara umum, terdapat pandangan yang menyatakan kemakruhan mengkhususkan puasa sunah hanya pada hari Jumat. Namun, dalam konteks puasa Syawal, terdapat beberapa pengecualian yang menjadikan ibadah ini diperbolehkan.

Memahami hukum dan pengecualian ini penting agar ibadah dijalankan sesuai syariat. Artikel Liputan6.com ini akan mengulas tuntas hukum puasa Syawal di hari Jumat, beserta dalil dan pandangan ulama serta ketentuan pelaksanaannya.

Hukum Asal Puasa di Hari Jumat

Ilustrasi kitab suci, Islam, Al-Qur'an. (Photo Copyright by Freepik)

Secara umum, mengkhususkan puasa sunah hanya pada hari Jumat hukumnya makruh. Dalam hadis Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ

Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali jika ia berpuasa pula pada hari sebelum atau sesudahnya.” (HR. Bukhari no. 1849 dan Muslim no. 1929).

Juga terdapat hadits dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

Janganlah khususkan malam Jum’at dengan shalat malam tertentu yang tidak dilakukan pada malam-malam lainnya. Janganlah pula khususkan hari Jum’at dengan puasa tertentu yang tidak dilakukan pada hari-hari lainnya kecuali jika ada puasa yang dilakukan karena sebab ketika itu.” (HR. Muslim no. 1144).

Dari Juwairiyah binti Al Harits radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهِيَ صَائِمَةٌ فَقَالَ أَصُمْتِ أَمْسِ قَالَتْ لا قَالَ تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِي غَدًا قَالَتْ لا قَالَ فَأَفْطِرِي

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuinya pada hari Jum’at dan ia dalam keadaan berpuasa, lalu beliau bersabda, “Apakah engkau berpuasa kemarin?” “Tidak”, jawabnya. “Apakah engkau ingin berpuasa besok?”, tanya beliau lagi. “Tidak”, jawabnya lagi. “Batalkanlah puasamu”, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Bukhari no. 1986).

Imam an-Nawawi, ulama besar dari mazhab Syafi’i juga menjelaskan bahwa mengkhususkan puasa sunah hanya pada hari Jumat hukumnya makruh. Kemakruhan ini timbul karena dikhawatirkan seseorang menganggap hari Jumat memiliki keistimewaan khusus untuk berpuasa sunah, padahal tidak ada dalil yang secara tegas menganjurkannya. Larangan ini bertujuan untuk mencegah praktik yang menyerupai perayaan atau pengagungan berlebihan terhadap hari Jumat dalam konteks puasa sunah.

Pengecualian Hukum Makruh Puasa di Hari Jumat

Jadwal Imsakiyah Ramadan. dok: gemini AI

Meskipun puasa sunah yang dikhususkan hanya pada hari Jumat secara umum makruh, terdapat beberapa pengecualian. Hukum makruh tidak berlaku jika puasa tersebut merupakan puasa wajib atau bagian dari kebiasaan puasa, seperti puasa Ramadan, puasa nazar, puasa kafarat, atau puasa Daud yang kebetulan jatuh pada hari Jumat.

Pengecualian lain berlaku jika puasa hari Jumat disambung dengan puasa pada hari Kamis sebelumnya atau Sabtu sesudahnya. Dalam hal ini, puasa tidak dilakukan secara tunggal pada hari Jumat sehingga niatnya bukan untuk mengkhususkan hari tersebut, melainkan sebagai rangkaian ibadah.

Selain itu, puasa hari Jumat juga dibolehkan jika bertepatan dengan puasa sunah lain yang dianjurkan, seperti puasa Syawal, puasa Arafah, atau puasa Senin-Kamis. Puasa dilakukan bukan karena memilih hari Jumat secara khusus, melainkan mengikuti sebab atau ketentuan puasa sunah yang sah dalam syariat Islam.

Puasa Syawal di Hari Jumat

Apakah Boleh Puasa Syawal di Hari Jumat? ©Ilustrasi dibuat AI

 

Puasa Syawal tetap boleh dilakukan pada hari Jumat, asalkan dapat digandengkan dengan hari sebelum atau sesudahnya, misalnya Kamis-Jumat atau Jumat-Sabtu. Meskipun ada pendapat yang memperbolehkan puasa Syawal hanya pada hari Jumat jika tidak mengkhususkan hari tersebut, untuk lebih berhati-hati dianjurkan agar puasa digabung dengan hari lain.

Berdasarkan pengecualian ini, puasa Syawal yang jatuh pada hari Jumat diperbolehkan dan tidak termasuk makruh. Hal ini karena puasa Syawal memiliki sebab khusus, yaitu menunaikan anjuran Nabi Muhammad SAW untuk berpuasa enam hari di bulan Syawal, sehingga jika salah satunya bertepatan dengan hari Jumat, pelaksanaan tetap sah.

Dengan kata lain, niat puasa harus ditujukan untuk menunaikan puasa Syawal, bukan karena mengkhususkan hari Jumat. Ulama besar sekaligus ahli fikih, Syaikh Ibnu Utsaimin menegaskan bahwa puasa Syawal pada hari Jumat diperbolehkan, dan sebagian ulama bahkan membolehkan menggabungkannya dengan puasa sunah lain, seperti Senin-Kamis, sehingga seseorang bisa mendapatkan pahala dari dua ibadah sekaligus.

Ketentuan dan Keutamaan Puasa Syawal

Ilustrasi Membaca Doa Credit: freepik.com

Puasa Syawal dimulai pada tanggal 2 Syawal, sehari setelah Hari Raya Idulfitri, karena berpuasa pada tanggal 1 Syawal hukumnya haram. Puasa sunah ini dilakukan selama enam hari, dan meskipun idealnya dilaksanakan secara berturut-turut dari tanggal 2 hingga 7 Syawal, pelaksanaannya tidak harus berurutan dan bisa dilakukan kapan saja selama bulan Syawal.

Bagi umat Islam yang memiliki utang puasa Ramadan, dianjurkan menyelesaikan puasa qadha terlebih dahulu sebelum melaksanakan puasa Syawal. Beberapa ulama menekankan bahwa untuk memperoleh pahala puasa Syawal secara utuh, puasa Ramadan harus lengkap terlebih dahulu, meskipun ada juga pendapat yang membolehkan menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa Syawal sehingga bisa mendapatkan dua pahala sekaligus.

Keutamaan utama puasa Syawal adalah pahalanya yang setara dengan berpuasa selama satu tahun penuh, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaif Al-Ma'arif menjelaskan bahwa menyegerakan puasa enam hari setelah Idul Fitri termasuk perintah untuk bersegera berbuat kebaikan, tetapi jika diakhirkan pun tetap diperbolehkan. Niat puasa Syawal dapat dibaca pada malam hari, atau pada pagi dan siang hari sebelum makan atau minum sejak waktu Subuh untuk puasa sunah.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

1. Kapan puasa Syawal dimulai dan berapa lama durasinya?

Puasa Syawal dimulai pada tanggal 2 Syawal, sehari setelah Idulfitri, dan dilakukan selama enam hari.

2. Apakah Puasa Syawal harus dilakukan secara berurutan?

Tidak wajib berurutan. Meskipun idealnya berturut-turut, puasa Syawal tetap sah jika dilakukan secara terpisah selama enam hari dalam bulan Syawal.

3. Apa keutamaan utama Puasa Syawal?

Keutamaan utamanya adalah pahalanya yang setara dengan berpuasa selama satu tahun penuh, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.

4. Bolehkah puasa Syawal digabung dengan puasa Senin-Kamis atau puasa qadha Ramadan?

Ya, sebagian ulama membolehkan menggabungkan niat puasa Syawal dengan puasa sunah lain seperti Senin-Kamis. Ada juga pendapat yang membolehkan menggabungkan dengan puasa qadha Ramadan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya