[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Tuberkulosis Harus Diobati dengan OAT yang Benar

Tuberkulosis harus diobati dengan OAT yang terbukti ilmiah karena klaim herbal belum terbukti dan berisiko memperparah penyakit serta penularan.

oleh Prof Tjandra Yoga AditamaDiterbitkan 18 Maret 2026, 11:00 WIB
Tuberkulosis harus diobati dengan OAT karena terbukti ilmiah sementara klaim herbal belum terbukti dan berisiko memperparah penyakit. (Foto: Dokumen Pribadi)

Liputan6.com, Jakarta - Sehubungan dengan berita viral dari influencer yang menyebutkan bahwa tuberkulosis dapat dicegah dan diobati dengan herbal, maka ada lima hal yang perlu jadi perhatian kita bersama.

Pertama, obat anti tuberkulosis (OAT) yang kini digunakan negara-negara di dunia ditentukan berdasarkan setidaknya tiga tahap penelitian mendalam.

  • Pertama adalah 'double blind case control trial'.
  • Kedua, hasil case control trial itu dilakukan penelitian di berbagai negara, yaitu 'multi center study'.
  • Ketiga, dilakukan analisa mendalam oleh para pakar internasional di WHO dan juga oleh para pakar masing-masing negara. Karena itu, nilai ilmiah dan validitasnya sangat tinggi.

Kedua, obat anti tuberkulosis (OAT) yang kita gunakan di Indonesia dan juga negara-negara lain telah dipakai selama bertahun-tahun dan membuktikan angka kesembuhan sesuai yang diharapkan. Jadi, sudah teruji secara panjang di berbagai negara.

Ketiga, dalam perkembangannya memang ada obat-obat baru yang diteliti, dan sejauh ini belum pernah ada penelitian yang membuktikan bahwa herbal tertentu dapat mencegah dan mengobati tuberkulosis.

Kalau ada klaim yang mengatakan obat bermanfaat, maka tentu harus mengikuti kaidah ilmu pengetahuan seperti dibahas di atas.

Keempat, informasi yang menyesatkan masyarakat akan dapat membuat pasien tuberkulosis tidak menggunakan obat anti tuberkulosis (OAT) yang terbukti ampuh secara ilmiah dan teruji lama. Kalau obat anti tuberkulosis (OAT) tidak digunakan, maka setidaknya ada tiga dampak buruknya.

  • Kesatu, penyakit tuberkulosisnya tidak sembuh.
  • Kedua, penyakitnya dapat makin berat dan bukan tidak mungkin menimbulkan keparahan dan kematian.
  • Ketiga, penyakit tuberkulosisnya akan terus menular ke orang di sekitarnya.

Selain itu, jika sebelumnya menggunakan obat anti tuberkulosis (OAT) yang benar lalu menggantikannya dengan obat lain yang tidak tepat, maka dapat terjadi resistensi obat dan bahkan 'multi drug resistance'.

Kelima, untuk informasi kesehatan yang benar dan teruji secara ilmiah, masyarakat harus mengacu pada badan resmi, seperti WHO di tingkat dunia atau Kementerian Kesehatan di tiap-tiap negara, serta kelompok ahli profesi kesehatan seperti Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

Ingat bahwa kesehatan adalah aset amat berharga kita, dan penanganannya tentu harus dilakukan dengan baik dan cermat, tidak hanya berdasarkan informasi sesaat semata.

Prof Tjandra Yoga Aditama

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Badan Pengawas Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Dewan Penasehat Stop TB Partnership Indonesia (STPI).

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya