Jelang Libur Panjang Idulfitri, Investor Disarankan Selektif Pilih Saham

Menghindari risiko "terjebak" di menit-menit akhir perdagangan jelang libur Lebaran, investor disarankan segera merapikan portofolio.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 17 Maret 2026, 10:35 WIB
Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menjelang periode libur panjang Idulfitri, investor pasar saham diimbau untuk lebih selektif dan defensif dalam mengelola portofolio. Analis menyarankan para pelaku pasar untuk mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking).

Analis Pasar Saham dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai investor perlu menerapkan strategi yang lebih selektif dan defensif menjelang periode libur panjang Idulfitri.

Menurut Wafi, investor dapat melakukan profit taking secara bertahap pada saham berisiko tinggi atau high beta. Sementara itu, untuk saham atau aset yang cenderung defensif, posisi dapat tetap dipertahankan.

"Profit taking bertahap pada saham berisiko tinggi (high beta), hold pada aset defensif, buy on weakness pada saham berfundamental kuat, dan perbesar porsi kas tunai," kata Wafi kepada Liputan6.com, Selasa (17/3/2026).

Ia juga menyarankan investor memanfaatkan momentum koreksi harga untuk melakukan buy on weakness pada saham dengan fundamental yang kuat.

Selain itu, investor juga disarankan memperbesar porsi kas tunai sebagai langkah antisipasi terhadap potensi volatilitas pasar selama periode libur panjang.

 

Sektor Berpotensi Bergerak

Kinerja saham emiten bank jumbo seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kompak ambrol. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lebih lanjut, Wafi mengatakan, sejumlah sektor saham biasanya menunjukkan pergerakan yang menarik menjelang maupun setelah periode Idulfitri. Sektor-sektor tersebut antara lain consumer primer, ritel, serta telekomunikasi dan transportasi.

Pergerakan sektor tersebut didorong oleh meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat selama Ramadhan hingga Idulfitri. Kenaikan konsumsi rumah tangga serta tingginya mobilitas masyarakat saat arus mudik menjadi faktor utama yang mendukung kinerja sektor-sektor tersebut.

"Sektor konsumer primer, ritel, dan telekomunikasi atau transportasi. Pendorong adalah kenaikan konsumsi masyarakat dan tingginya mobilitas mudik," ujarnya.

 

Kelola Risiko Saat Likuiditas Menurun

Papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2020). Pada penutupan akhir tahun, IHSG ditutup melemah 0,95 persen ke level 5.979,07. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Selain memperhatikan sektor, investor juga perlu mengantisipasi potensi penurunan likuiditas pasar selama periode libur panjang. Dalam kondisi ini, pengelolaan risiko dan penentuan waktu transaksi menjadi sangat penting.

Wafi menyarankan investor ritel untuk melakukan penyesuaian portofolio dan mengamankan posisi kas jauh sebelum hari terakhir perdagangan. Menurutnya, menunggu hingga menit-menit akhir berisiko membuat investor terjebak antrean jual.

Di sisi lain, investor juga disarankan untuk menghindari membuka posisi trading jangka pendek yang terlalu agresif.

"Hindari membuka posisi trading jangka pendek yang agresif. Likuiditas yang tipis memperbesar peluang volatilitas harga yang tidak rasional," pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya