Hati-hati Glomerulonefritis! Kenali Tanda Dini dari Urine Berbusa dan Pola Hidup Sehat

Urine berbusa bisa jadi tanda glomerulonefritis. Cegah gagal ginjal sejak dini dengan gaya hidup sehat dan cek kesehatan rutin.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 13 Maret 2026, 06:00 WIB
Glomerulonefritis bisa menyerang muda-mudi! Kenali urine berbusa dan pola hidup sehat agar ginjal tetap terlindungi. (Foto dibuat oleh AI)

Liputan6.com, Jakarta - Penyakit ginjal tidak hanya menyerang orang tua, generasi muda pun kini rentan terhadap masalah ini. Salah satu penyakit yang sering luput dari perhatian adalah glomerulonefritis, atau radang ginjal. Penyakit ini sering kali berkembang tanpa gejala di awal, sehingga deteksi dini menjadi sangat penting.

Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI), Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH, menekankan pentingnya pemeriksaan urine secara rutin, terutama bagi usia muda. Dalam temu media di Jakarta pada Rabu, 11 Maret 2026, Pringgodigdo menjelaskan bahwa radang ginjal menjadi penyebab gagal ginjal yang kerap terjadi pada usia produktif.

"Yang di muda-muda udah gagal ginjal kebanyakan itu karena penyakit ini peradangan ginjal, karena enggak pernah periksa urine. Bisa diketahuinya hanya dengan pemeriksaan, karena enggak ada gejala," ujarnya.

Menurut Pringgodigdo, pemeriksaan urine sederhana bisa mendeteksi sel darah merah (eritrosit) atau albumin yang seharusnya negatif. Salah satu tanda awal yang sering diabaikan adalah urine berbusa.

"Kalau sudah berbusa, berwarna, itu artinya kadar kebocoran albumin cukup tinggi. Biasanya berwarna kemerahan itu karena ada darah, bisa dari ginjalnya atau salurannya," tambahnya.

Selain deteksi dini, gaya hidup sehat menjadi kunci penting dalam mencegah glomerulonefritis. Pringgodigdo menekankan agar generasi muda memperhatikan pola makan dan aktivitas fisik. Konsumsi makanan tinggi gula dan kalori, serta makanan instan yang tinggi garam, dapat meningkatkan risiko diabetes dan hipertensi. Dua faktor utama yang memicu penyakit ginjal.

"Itu harus dihindari. Misalnya mengonsumsi yang manis-manis kan kalorinya tinggi. Nanti secara tidak langsung bisa melalui diabetes juga bisa. Pola makan tinggi garam bisa memicu hipertensi, yang lama-kelamaan meningkatkan risiko ginjal," ujarnya.

Selain pola makan, aktivitas fisik yang cukup juga menjadi faktor penting. Gaya hidup sedentary, seperti selalu menggunakan kendaraan untuk jarak pendek, turut meningkatkan risiko penyakit ginjal.

"Jalan kaki itu kan membantu membakar kalori. Aktivitas fisik sederhana bisa jadi langkah pencegahan," katanya.

Pringgodigdo menyarankan agar masyarakat, meski tidak ada gejala, setidaknya melakukan pemeriksaan urine setahun sekali. Deteksi dini glomerulonefritis memungkinkan penanganan lebih cepat dan mencegah kerusakan ginjal permanen.

Dia menekankan bahwa pencegahan, pemeriksaan rutin, dan gaya hidup sehat adalah kunci utama. Merawat ginjal sejak muda tidak hanya menjaga kesehatan diri, tapi juga mencegah komplikasi serius di masa depan. 

Dengan kesadaran dini, generasi muda dapat terhindar dari risiko gagal ginjal, sekaligus membangun pola hidup yang lebih sehat dan produktif. Pemeriksaan urine sederhana, kontrol pola makan, dan aktivitas fisik rutin menjadi investasi penting untuk kesehatan ginjal jangka panjang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya