Direktur Astra Beli 250.000 Saham ASII, Ini Tujuannya

Direktur PT Astra International Tbk, Gita Tiffani membeli saham ASII pada 4 Maret 2026.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 10 Maret 2026, 07:09 WIB
Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan PT Astra International Tbk (ASII) Gita Tiffani Boer menambah kepemilikan saham ASII. (Foto: Astra)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan PT Astra International Tbk (ASII) Gita Tiffani Boer membeli saham ASII pada awal Maret 2026.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Selasa (10/3/2026), Direktur PT Astra International Tbk Gita Tiffani beli 250.000 saham ASII senilai Rp 6.075 per saham pada 4 Maret 2026. Nilai pembelian saham ASII sebesar Rp 1,5 miliar.

“Tujuan transaksi investasi dengan status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Setelah transaksi pembelian saham ASII, Gita genggam 0,0082% atau setara 3,33 juta saham dari sebelumnya 3,08 juta saham ASII.

Pada penutupan perdagangan saham Senin, 9 Maret 2026, harga saham ASII merosot 4,49% ke posisi Rp 5.850 per saham. Harga saham ASII dibuka turun ke posisi Rp 5.900 per saham dari penutupan sebelumnya Rp 6.125 per saham. Saham ASII berada di level tertinggi Rp 5.900 dan terendah Rp 5.800 per saham. Total frekuensi perdagangan 16.010 saham dengan volume perdagangan saham 517.062 saham. Nilai transaksi Rp 303,5 miliar.

Sementara itu, IHSG hari ini ditutup turun 3,27% ke posisi 7.337,36. Indeks saham LQ45 terpangkas 3,28% ke posisi 750,57. Seluruh indeks saham acuan memerah.

Pada awal pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.403,73 dan level terendah 7.156,68. Sebanyak 708 saham melemah sehingga bebani IHSG. 68 saham menguat dan 41 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan 2.474.203 kali dengan volume perdagangan 46,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 23,9 triliun. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di kisaran 16.940.

 

Kinerja ASII

Gedung Astra. Dok Astra

Sebelumnya, PT Astra International Tbk (ASII) mencatat kinerja keuangan turun tipis sepanjang 2025. Perseroan membukukan pendapatan susut dua persen dan laba bersih terpangkas tiga persen.

PT Astra International Tbk meraup pendapatan Rp 323,39 triliun pada 2025. Pendapatan perseroan turun dua persen dibandingkan 2024 sebesar Rp 328,48 triliun.

Seiring pendapatan yang turun itu, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk susut tiga persen menjadi Rp 32,76 trilun dari 2024 sebesar Rp 33,90 triliun.

“Pada 2025, laba grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” ujar Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Djony Bunarto Tjondro dikutip dari keterangan resmi, Jumat (27/2/2026).

Adapun penurunan kontribusi dari bisnis jasa penambangan dan pertambangan batu bara serta bisnis mobil baru itu diimbangi oleh kinerja lebih baik dari bisnis pertambangan emas, jasa keuangan dan bisnis sepeda motor.

Ia menuturkan, ke depan, meskipun kondisi operasional pada beberapa bisnis perseroan masih tetap menantang, pihaknya memperkirakan sentimen konsumen secara keseluruhan akan membaik.

“Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan,” kata dia.

 

 

Aset ASII

Gedung Astra

Selain itu, perseroan mencatat laba bruto turun 2,21 persen menjadi Rp 71,44 triliun dari 2024 sebesar Rp 73,05 triliun. Laba sebelum pajak penghasilan susut 7 persen menjadi Rp 49,28 triliun pada 2025 dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 53 triliun. Demikian mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI).

Seiring hal itu, laba per saham perseroan turun tiga persen menjadi Rp 810 per saham dari periode 2024 sebesar Rp 837 per saham.

Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 7 persen menjadi Rp 228,90 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 213,67 triliun. Liabilitas perseroan naik 8,57 persen menjadi Rp 216,55 triliun pada 2025 dari 2024 sebesar Rp 199,44 triliun. Aset perseroan bertambah 7,6 persen menjadi Rp 507,36 triliun pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 471,44 triliun.

Nilai aset bersih per saham naik 8 persen menjadi Rp 5.692 triliun dari 2024 sebesar Rp 5.278 triliun.

Kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan Jasa Keuangan Grup, mencapai Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, menurun dibandingkan Rp8,0 triliun pada 31 Desember 2024. Utang bersih anak perusahaan Jasa Keuangan Grup mencapai Rp 64,9 triliun pada 31 Desember 2025, meningkat dibandingkan Rp60,2 triliun pada 31 Desember 2024.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya