Menu Buka Puasa untuk Pasien Kanker, Dokter Ungkap Pola Makan yang Aman dan Seimbang

Dokter ungkap menu buka puasa yang aman untuk pasien kanker. Karbohidrat, protein, vitamin, dan aktivitas fisik tetap penting bagi kesehatan.

oleh Aditya Eka PrawiraAde Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 10 Maret 2026, 14:00 WIB
Dokter jelaskan menu buka puasa yang aman untuk pasien kanker, mulai dari karbohidrat, protein hingga vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh. (Foto Dibuat oleh AI)

Liputan6.com, Jakarta - Menjalani ibadah puasa Ramadan sering menimbulkan pertanyaan bagi sebagian pasien kanker, terutama terkait pola makan saat sahur dan buka puasa. Banyak yang khawatir apakah menu buka puasa tertentu aman dikonsumsi atau justru dapat memengaruhi kondisi kesehatan.

Dokter spesialis bedah konsultan onkologi dari RS EMC Alam Sutera, dr. Denni Joko Purwanto menjelaskan bahwa pasien kanker, termasuk kanker payudara, sebenarnya tidak perlu terlalu bingung menentukan menu sahur dan buka puasa. Hal terpenting adalah memastikan makanan yang dikonsumsi memiliki kandungan gizi seimbang.

"Yang penting makanannya itu seimbang, bergizi, memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, tidak berlebihan. Artinya kita perlu tenaga, tenaga itu dari karbohidrat, kita perlu zat-zat pembangun dari protein," kata Denni kepada Health Liputan6.com dalam sebuah kesempatan belum lama ini.

Menurut Denni, karbohidrat tetap menjadi sumber energi utama bagi tubuh. Sumber karbohidrat bisa diperoleh dari berbagai makanan yang umum dikonsumsi masyarakat Indonesia, seperti nasi, roti, kentang, hingga ketela.

Selain karbohidrat, tubuh juga membutuhkan protein sebagai zat pembangun untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Proses perbaikan sel tidak hanya didukung oleh istirahat yang cukup, tetapi juga memerlukan asupan protein yang memadai.

"Protein hewani seperti ikan, telur, dan daging itu penting untuk membantu perbaikan sel tubuh. Asal tidak berlebihan itu boleh. Protein nabati juga ada seperti jamur," ujarnya.

Tak kalah penting, vitamin juga memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan fungsi tubuh. Vitamin membantu proses regulasi berbagai sistem dalam tubuh agar tetap berjalan optimal.

Denni menambahkan bahwa salah satu vitamin yang penting bagi pasien kanker adalah vitamin D. Vitamin ini dapat diperoleh dari produk susu serta paparan sinar matahari.

"Vitamin perlu juga karena itu untuk meregulasi tubuh kita. Jangan lupa kita perlu vitamin D, vitamin D memang banyaknya dari susu, produk susu, dibantu sinar matahari dan aktivitas fisik. Walau puasa kita harus terus bergerak," ujar Denni.

Dia mengibaratkan kehidupan seperti mengendarai sepeda. Agar tetap seimbang, tubuh harus terus bergerak.

"Life is like riding bicycle, if you want to keep balance you must keep moving," kata Denni.

 

Kebutuhan Vitamin D bagi Pasien Kanker

Dokter jelaskan menu buka puasa yang aman untuk pasien kanker, mulai dari karbohidrat, protein hingga vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh. (Foto Dibuat oleh AI)

Selain pola makan yang sehat, paparan sinar matahari juga penting bagi pasien kanker. Menurut Denni, waktu terbaik untuk berjemur adalah pada pagi hari antara pukul 08.00 hingga 10.00, serta sore hari sekitar 16.00 hingga 18.00.

"Karena memang ultravioletnya tidak terlalu merusak menembus sel kulit, tapi juga efek vitamin D-nya bagus," ujarnya.

Kegiatan berjemur bisa dilakukan selama sekitar 30 menit. Meski demikian, Denni mengingatkan agar tetap melindungi bagian tubuh tertentu, terutama wajah, dengan menggunakan tabir surya atau sunblock.

Dia juga menyarankan agar berjemur dilakukan sambil bergerak ringan seperti berjalan kaki atau olahraga ringan. Aktivitas fisik tersebut membantu metabolisme tubuh bekerja lebih baik.

Selain itu, Denni menjelaskan bahwa puasa Ramadan juga dapat memberikan manfaat tambahan bagi pasien kanker. Meski bukan terapi utama, beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat memengaruhi lingkungan biologis dalam tubuh.

"Puasa itu memang bukan terapi utama, tapi penelitian menunjukkan bahwa puasa bisa memengaruhi lingkungan biologis, jadi waktu puasa itu sel-sel kita resting zone, tidak tumbuh cepat, sehingga meningkatkan respons terapi," katanya.

Menurut Denni, puasa juga dapat membantu menurunkan peradangan kronis dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Namun demikian, pasien kanker yang sedang menjalani terapi seperti kemoterapi, radioterapi, atau menjelang operasi tetap disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menjalankan puasa.

Dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, serta konsultasi medis yang tepat, pasien kanker tetap dapat menjalani ibadah puasa dengan aman dan tetap menjaga kesehatan tubuh.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya