Liputan6.com, Washington D.C - Militer Amerika Serikat mengonfirmasi identitas enam tentara AS yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak di Kuwait di tengah meningkatnya konflik dengan Iran.
Serangan terjadi pada Minggu ketika sebuah sistem pesawat tak berawak berhasil menembus pertahanan udara dan menghantam pusat komando militer di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait. Komando Pusat AS awalnya melaporkan tiga korban tewas, namun pada Senin jumlah korban meningkat menjadi enam orang setelah satu tentara meninggal akibat luka-luka dan dua jenazah lainnya ditemukan di bawah reruntuhan bangunan yang terkena serangan.
Advertisement
Keenam tentara yang gugur adalah Chief Warrant Officer 3 Robert M. Marzan (54), Mayor Jeffrey R. O’Brien (45), Kapten Cody Khork (35), Sersan Noah Tietjens (42), Sersan Nicole Amor (39), serta Sersan Declan Coady (20). Coady dipromosikan secara anumerta dari pangkat spesialis, dikutip dari laman BBC, Kamis (5/3/2026).
Menurut Pentagon, seluruh korban merupakan anggota Cadangan Angkatan Darat AS yang bertugas memberikan dukungan logistik bagi operasi militer Amerika di berbagai wilayah.
Empat identitas korban diumumkan pada Selasa, sementara dua nama terakhir—Marzan dan O’Brien—baru dirilis pada Rabu.
Sekretaris Angkatan Darat AS Daniel Driscoll menyampaikan belasungkawa dan menyebut para korban sebagai prajurit yang mengorbankan diri demi negara.
“Para pria dan wanita ini secara sukarela dan dengan berani membela negara kita. Pengorbanan mereka tidak akan pernah dilupakan,” kata Driscoll dalam pernyataan resmi.
Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Presiden Donald Trump berencana menghadiri prosesi pemulangan jenazah para korban ke tanah air.
“Presiden bermaksud hadir dalam pemindahan jenazah para pahlawan Amerika ini secara terhormat dan berdiri bersama keluarga mereka dalam duka,” ujarnya.
Salah satu korban, Kapten Cody Khork, sebelumnya pernah bertugas di Arab Saudi, Teluk Guantanamo, dan Polandia. Keluarganya menyebut Khork sejak muda bercita-cita menjadi tentara dan mengikuti program Reserve Officers’ Training Corps (ROTC) saat kuliah.
Dalam pernyataan keluarga yang dikutip Associated Press, Khork digambarkan sebagai pribadi yang selalu membawa energi positif bagi orang-orang di sekitarnya.
“Dia dikenal karena semangatnya yang menular, hatinya yang murah hati, dan kepeduliannya terhadap rekan-rekannya,” kata keluarganya.
Sersan Nicole Amor, yang berasal dari Minnesota, juga pernah menjalani penugasan di Kuwait dan Irak. Suaminya, Joey Amor, mengatakan istrinya hampir menyelesaikan masa tugas sebelum serangan terjadi.
“Dia hampir pulang. Anda tidak pergi ke Kuwait dengan berpikir sesuatu akan terjadi,” katanya.
Kehidupan Tentara AS Bersama Keluarga
Amor meninggalkan dua anak yang masih duduk di bangku sekolah. Di luar tugas militernya, ia dikenal gemar berkebun dan bermain sepatu roda bersama anak-anaknya.
Sersan Noah Tietjens, warga Nebraska, sebelumnya telah dua kali ditugaskan ke Kuwait. Dalam halaman penggalangan dana yang dibuat untuk keluarganya, ia digambarkan sebagai suami dan ayah yang sangat berdedikasi.
Komunitas Philippine Martial Arts Alliance juga memberikan penghormatan kepada Tietjens. Ia diketahui memiliki sabuk hitam Taekwondo serta mempelajari seni bela diri Philippine Combatives.
“Ia tidak hanya mengenakan sabuk hitam, tetapi juga menjalani nilai-nilainya. Ia memimpin dengan integritas, berlatih dengan tujuan, dan mengajar dengan kerendahan hati,” tulis organisasi tersebut.
Sementara itu, Sersan Declan Coady yang berasal dari Iowa baru bergabung dengan Cadangan Angkatan Darat tiga tahun lalu dan bertugas sebagai spesialis teknologi informasi. Universitas Drake, tempatnya menempuh pendidikan, menyebut Coady sebagai mahasiswa dengan masa depan cerah.
Ayahnya, Andrew Coady, mengatakan putranya sangat menguasai pekerjaannya. Saudara perempuannya, Keira Coady, mengaku masih sulit menerima kabar duka tersebut.
“Saya masih belum sepenuhnya percaya ini nyata. Kami sering membicarakan apa yang akan dia lakukan setelah pulang,” katanya.
Mayor Jeffrey O’Brien, warga Indianola, Iowa, bergabung dengan pasukan cadangan pada 2012 dan pernah ditempatkan di Kuwait pada 2019. Sementara identitas Chief Warrant Officer Robert M. Marzan dari Sacramento, California, masih menunggu proses formal dari pemeriksa medis militer.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya mengatakan serangan tersebut menghantam pusat operasi taktis yang telah diperkuat. Namun sejumlah pejabat militer yang mengetahui insiden itu mempertanyakan tingkat perlindungan fasilitas tersebut.
Mereka menyebut para tentara bekerja di ruang kantor darurat berupa trailer yang dilindungi penghalang beton bertulang baja.
Amerika Serikat memiliki kerja sama pertahanan yang panjang dengan Kuwait, dengan lebih dari 13.000 tentara AS ditempatkan di negara Teluk tersebut.
Ketegangan meningkat setelah Iran meluncurkan rudal ke sejumlah negara Teluk yang dianggap bersekutu dengan Washington, termasuk Bahrain, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Oman, dan Qatar.