Liputan6.com, Jakarta - Momen Lebaran selalu identik dengan kehangatan keluarga dan pemulihan hubungan. Hal inilah yang mendasari lahirnya film Senin Harga Naik. Chand Parwez Servia selaku produser mengungkapkan bahwa inspirasi awal film ini bersifat sangat personal. Ia awalnya mendedikasikan karya ini sebagai bentuk penghormatan bagi mediang ibu. Namun, setelah proses produksi selesai, ia menyadari bahwa nilai yang diangkat dalam film ini jauh lebih luas dari sekadar cerita pribadi.
"Pertama kali membuat naskah, saya mendedikasikan film ini untuk almarhumah ibu saya. Tapi setelah jadi film ini. saya rasa ini bukan (hanya) milik ibu saya saja. Ini milik semua orang, milik setiap ibu, milik setiap anak yang punya ibu," ujar Parwez dalam jumpa pers di Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (3/3/2026).
Advertisement
Ia menambahkan bahwa film ini diharapkan bisa menambah kesakralan momen berkumpulnya keluarga di hari raya, terutama dalam mendorong keberanian untuk saling memeluk dan berdamai tanpa perlu merasa gengsi atau malu. Baginya, film ini adalah tentang bagaimana kita menjadikan waktu yang berharga ini menjadi waktu yang tidak bisa kembali lagi bersama keluarga.
Kolaborasi dengan Sutradara untuk Detail Sentuhan Perempuan
Kesuksesan membangun atmosfer yang hangat dalam film ini tidak lepas dari tangan Dina Jasanti sebagai sutradara. Produser Mithu Nisar menjelaskan bahwa pemilihan sutradara perempuan memberikan perspektif unik, terutama dalam menangkap detail-detail emosional dalam keluarga yang mungkin tidak semua sutradara miliki. Kerja sama ini dianggap sebagai langkah Star Vision untuk memberikan ruang yang lebih inklusif dalam industri perfilman.
Dina Jasanti sendiri mengakui bahwa tantangan utama dalam film ini adalah membangun konflik yang terasa nyata namun tetap memberikan rasa hangat. Menurutnya, inti dari perselisihan antara tokoh Bu Retno dan Mutia adalah perbedaan bahasa cinta.
"Padahal awalnya dua-duanya cinta, dua-duanya sayang. Cuman ya cara untuk menunjukkannya itu sangat berbeda," jelas Dina.
Melalui film ini, penonton diajak untuk lebih peka dalam mencerminkan diri sendiri agar bisa lebih sabar dan menerima cara orang tua menunjukkan kasih sayang mereka yang unik.