Arsenal Dihantui Kecemasan Jelang Fase Krusial Perburuan Gelar

Jurrien Timber mengakui bahwa atmosfer tegang mulai terasa di dalam skuad Arsenal ketika perburuan gelar Liga Inggris memasuki fase penentuan.

oleh Ari Rachman PrayogaDiterbitkan 03 Maret 2026, 23:45 WIB
Kemenangan 2-1 membuat Arsenal memimpin klasemen semetara Liga Inggris 2025/2026 dengan raihan 64 poin. (AP Photo/Alastair Grant)

Liputan6.com, Jakarta - Jurrien Timber mengakui bahwa atmosfer tegang mulai terasa di dalam Emirates Stadium ketika perburuan gelar Liga Inggris memasuki fase penentuan. Ia menyebut para pemain Arsenal bisa merasakan kecemasan dari tribun saat pertandingan berjalan semakin menegangkan.

Pengakuan itu disampaikan Timber setelah Arsenal meraih kemenangan 2-1 atas Chelsea pada Minggu lalu. Hasil tersebut memperlebar jarak The Gunners di puncak klasemen menjadi lima poin.

Namun, meski unggul jumlah pemain dalam 20 menit terakhir, Arsenal justru sempat kehilangan kontrol permainan dan membuat laga berakhir dengan tensi tinggi.


Momentum yang Nyaris Terganggu

Kiper Arsenal, David Raya juga memerankan peranan penting dengan membuat penyelamatan-penyelamatan gemilang di bawah misatar Arsenal. (AFP/Adrian Dennis)

Menurut Timber, Arsenal sempat berhenti memainkan sepak bola terbaiknya saat pertandingan memasuki menit-menit akhir. Padahal, mereka tampil dominan di babak pertama dan seharusnya sudah bisa mengunci keunggulan lebih nyaman.

“Di akhir laga, tentu Anda bisa merasakannya. Kami sedikit berhenti bermain, dan itu sebenarnya tidak perlu, apalagi saat unggul jumlah pemain,” ujar Timber.

Situasi tersebut, kata dia, bukan kali pertama terjadi musim ini. Arsenal beberapa kali kesulitan menjaga ketenangan saat laga memasuki fase krusial. Meski dalam beberapa kesempatan mereka mampu melewatinya, ada pula momen ketika tekanan justru berujung pada hasil yang tidak maksimal.

“Kami harus membicarakan ini bersama. Anda sudah mengeluarkan banyak energi, bermain sangat baik, terutama di babak pertama, dan seharusnya bisa unggul 1-0 atau 2-0 lebih cepat. Tapi hal-hal seperti ini bisa terjadi, apalagi melawan tim bagus seperti Chelsea,” lanjutnya.


Diskusi Internal Jadi Agenda Penting

Striker Chelsea asal Brasil bernomor punggung 20, Joao Pedro (ke-4 dari kanan), menyundul bola di depan gawang yang berhasil diselamatkan oleh kiper Arsenal asal Spanyol bernomor punggung 1, David Raya (ke-3 dari kiri), selama pertandingan Liga Inggris antara Arsenal dan Chelsea di Stadion Emirates di London pada 1 Maret 2026. (Adrian Dennis/AFP)

Skuad Arsenal dijadwalkan menggelar pembahasan internal pekan ini untuk mencari solusi menghadapi situasi-situasi menegangkan di lapangan. Timber menilai penting bagi tim untuk memahami dinamika emosi, baik dari dalam tim maupun dari atmosfer stadion.

“Kecemasan itu nyata. Anda bisa merasakan energi dari stadion, dari para suporter. Itu bagian dari permainan. Yang terpenting adalah bagaimana kami meresponsnya,” tegas pemain asal Belanda tersebut.

Langkah evaluasi ini dinilai krusial karena Arsenal kini hanya menyisakan sembilan pertandingan liga. Mereka akan bertandang ke markas Brighton & Hove Albion tengah pekan ini, sebelum memasuki rangkaian laga berat berikutnya.

Lanjut Baca:

Ambisi Arsenal untuk meraih gelar Liga Inggris pertama dalam 22 tahun semakin mendekati kenyataan. Namun, tantangan terbesar masih membentang, terutama dari Manchester City yang kini terpaut lima poin namun masih memiliki satu laga tunda. Kedua tim juga dijadwalkan bertemu di Etihad bulan depan, laga yang berpotensi menjadi penentu arah perburuan gelar. Timber sendiri termasuk satu dari sedikit pemain Arsenal yang pernah merasakan manisnya gelar liga, yakni saat dua kali menjuarai Eredivisie bersama Ajax. Namun ia menegaskan, tekanan di Liga Inggris jauh berbeda. “Setiap musim itu unik. Tapi Liga Inggris sangat berbeda dibandingkan liga Belanda. Sejak awal musim, setiap penampilan dan setiap tiga poin benar-benar berarti,” ujarnya. Dengan pengalaman dan kedewasaan yang dimiliki, Timber berusaha tetap rendah hati. Ia tak ingin tampil seolah paling tahu, tetapi siap berbagi pengalaman demi membantu Arsenal menuntaskan misi besar mereka musim ini. Kini, sembilan laga tersisa akan menjadi ujian mental sekaligus kualitas bagi The Gunners. Bukan hanya soal taktik dan teknik, tetapi juga kemampuan mengelola tekanan saat mimpi meraih trofi semakin dekat dengan kenyataan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya